Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Ucapkan TIDAK! pada Kantong Plastik

12 Agustus 2019 Jurnalis : Stella Young (Tzu Chi Batam)
Fotografer : Marina, Supardi, Roberto (Tzu Chi Batam)


Mutiara, koordinator ruang kerajinan tangan, bersyukur atas dukungan relawan lainnya.

Akhir-akhir ini berita mengenai cuaca ekstrem dan pemulangan limbah mengisi halaman muka media massa. Gambar-gambar mengejutkan di mana rusa meninggal karena menelan kantong plastik juga tersebar luas di media sosial. Kemudahan sesaat yang kita dapatkan, sekarang mengancam kelangsungan hidup segenap makhluk di muka bumi ini. Sudah tiba saatnya kita harus melek terhadap bahaya kantong plastik dan berupaya mengubah pola hidup kita yang tidak ramah lingkungan itu.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap kantong plastik, relawan Tzu Chi Batam seringkali menjahit kantong dari kain bekas. Namun, kantong kain tersebut tidak dapat menampung barang basah layaknya kantong kresek. Oleh sebab itu, timbullah ide untuk menjahit kantong belanja dari karung beras. Karung-karung beras yang umumnya dijadikan penampung sampah sekarang memiliki sebuah fungsi baru. Dan peran kantong-kantong tersebut menjadi semakin krusial dengan diselenggarakannya Bazar Cinta Kasih pada tanggal 20-21 Juli 2019 di Aula Jing Si Batam.


Walau menghadapi berbagai hambatan, Nelly tetap mempertahankan tekadnya demi pelestarian bumi.


Setiap karung beras dibersihkan dan dijemur sebelum dijadikan kantong belanja.

Dimulai dari unggahan di facebook, relawan mengajak masyarakat agar tidak menggunakan kantong plastik saat bazar, namun diganti dengan kantong belanja yang dijahit sendiri oleh relawan. Diperkiraan sebanyak 2.000 kantong yang dibutuhkan pada bazar kali ini. Oleh sebab itu, tangan para relawan di bagian qiao yu fang (ruang kerajinan tangan) tidak berhenti memotong, membersihkan, dan menjahit kantong belanja sejak 2 minggu sebelumnya.

Target penjahitan 2.000 kantong belanja ini bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Minimnya karung, sukarelawan, mesin jahit, bahkan waktu menjadi tantangan yang perlu dihadapi oleh panitia. Walau kegiatan ini sudah dimulai tiga minggu sebelum acara bazar, namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Namun semua tantangan tersebut tidak menghambat Nelly Yeo, relawan komite Batam, untuk melestarikan bumi lewat pembuatan kantong tersebut.


Baik tua ataupun muda semua memanfaatkan waktu mereka untuk bersumbangsih di qiao yu fang (ruang kerajinan tangan).


Roslinda menggunakan alat yang seadanya untuk menjahit kantong belanja yang dibutuhkan saat bazar.

“Saya sangat berharap dengan proses ini, hati masyarakat dapat terpanggil untuk memberi kehidupan baru terhadap kantong beras bekas. Walaupun pada dasarnya ini merupakan sesuatu yang sangat sulit tercapai, bahkan mungkin tak tercapai, tetapi nilai pelestarian yang tertanam akan menggerakkan hati banyak orang,” ungkapnya penuh harapan.

Begitu pula dengan Mutiara selaku koordinator penjahitan kali ini.

“Saya sangat bersyukur ada relawan yang membantu saya menggunting dan menjahit. Walaupun ini pekerjaan yang sulit, namun mereka tetap datang. Mulai dari Tzu Shao berumur belasan tahun sampai shigu-shigu (relawan senior) yang sudah lansia,” Mutiara menerangkan.

“Setiap harinya ada sekitar 5 sampai 10 orang relawan datang untuk membantu. Bahkan ada juga yang membawa pulang. Tanpa mereka, saya sendiri tidak mungkin bisa menyelesaikannya,” imbuh Mutiara penuh rasa terima kasih.


Relawan Tzu Chi Batam memberikan fungsi baru kepada karung-karung beras bekas. 

Melihat kesungguhan dan pengorbanan para relawan Tzu Chi dalam melestarikan bumi, Roslinda seorang gan en hu (penerima bantuan Tzu Chi) juga bergerak untuk terlibat pada aksi pembuatan kantong tersebut.  Walau sadar kondisi fisik tidak mendukung dan mesin jahit yang dimilikinya tidak ideal untuk pekerjaan ini, namun Roslinda tetap ingin menggenggam setiap kesempatan untuk melestarikan bumi.

“Belum ada apa-apa yang saya korbankan. Sementara orang yang kerja di sana, relawan-relawan, istilahnya orang berada, tapi masih mau (lakukan daur ulang). Mereka adalah contoh-contohnya dan mereka tidak main-main,” ujarnya dengan rendah hati.

“Cara berterimakasih dan membalas budi kepada bumi adalah dengan terus melestarikan lingkungan.” Demikianlah nasehat Master Cheng Yen kepada kepada setiap kita. Semoga kantong-kantong yang dijahit dengan sepenuh hati ini dapat menginspirasi para penerimanya.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 426 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat