Rabu, 20 November 2019
Indonesia | English

Ungkapan Bahagia Para Penerima Bantuan Bedah Rumah

28 Oktober 2019 Jurnalis : Galvan (Tzu Chi Bandung)
Fotografer : Galvan (Tzu Chi Bandung)


Agustian Rusdinato (55) menerima surat berita acara serta nota kesepahaman antar pemilik rumah dan Tzu Chi Bandung.

Tindakan nyata dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam membantu masyarakat kurang mampu, salah satunya melalui program bedah rumah. Kali ini program bedah rumah diberikan kepada tiga warga di Kelurahan Jamika. Perbaikan yang dilakukan berupa renovasi rumah yang tidak layak huni menjadi rumah yang bersih, sehat, dan nyaman. Ketiga warga penerima bantuan tersebut adalah Agustian Rusdinato (55), Edi (68), dan Empi Aryadi (21).

Pada bulan Maret 2019, relawan Tzu Chi melakukan survei terlebih dahulu kepada setiap rumah yang akan dibedah, lalu setelah berbagai pertimbangan serta verifikasi data maka di bulan September dimulailah proses pembangunan. Selama tahap pembangunan relawan Tzu Chi yang berdomisili di Kelurahan Jamika kerap memperhatikan perkembangan rumah. Relawan juga tak segan-segan untuk membantu para seniman bangunan ketika pembangunan sedang berlangsung.


Ketua Tzu Chi Bandung Djonni Andhella (tengah) bersama Edi (68) secara simbolis menggunting pita tanda diresmikannya bedah rumah yang diadakan Tzu Chi Bandung.


Para relawan Tzu Chi dari Kelurahan Jamika membantu proses pembangunan rumah Edi.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, ketiga rumah tersebut telah rampung, dan tepat tanggal 16 Oktober 2019, acara peresmian dan penyerahan kunci rumah kepada warga penerima bantuan dilakukan. Peresmian dikemas secara sederhana, dengan menggunting pita pada salah satu rumah. Menurut Djonni Andhellla, Ketua Tzu Chi Bandung, program bedah rumah ini adalah salah satu peran serta Tzu Chi dalam membantu masyarakat kurang mampu agar memiliki hunian yang layak, nyaman, dan sehat. "Kita sangat gembira mereka juga bisa menerima kehadiran kita, tentunya kita juga merasakan kebahagiaan karena dapat menolong orang yang sangat membutuhkan,” ujar Djonni.

Tanggapan positif disampaikan Lurah Jamika, Drs. Fajar Siliwangi. Ia menanggapi kontribusi Tzu Chi Bandung bagi Kelurahan Jamika dan sekitarnya yang sudah terjalin sejak 14 tahun silam (tahun 2005), diawali dengan pembagian beras, baksos kesehatan dan bedah kampung Jamika bagi 16 rumah tidak layak huni. Hingga saat ini perhatian tersebut masih tetap dilaksanakan. “Oleh karena itu Jamika sudah masuk kategori “kampung toleransi” yang dicanangkan oleh Walikota Ridwan Kamil pada waktu itu. Kami sangat berterima kasih kepada Tzu Chi yang telah ikut berperan serta membantu masyarakat tanpa membeda-bedakan suku, ras, maupun agama,” kata Lurah Jamika.

Mimpi yang Menjadi Nyata
"Alhamdulillah rumahnya sudah bagus, jadi ada buat masa depan anak-anak dan ngga terlantar, sekarang kami pun sekeluarga dapat menatap masa depan lebih luas lagi. Itulah bentuk sukacita dan rasa haru dari Edi dan Susilawati, salah satu warga penerima bantuan bedah rumah. Ia tidak menyangka rumah yang dahulu terkena musibah kebakaran pada 7 Desember 2018, kini berubah total menjadi rumah dengan kondisi yang baik, bersih dan nyaman untuk ditinggali.


Rumah pasangan suami-istri Edi (68) dan Susilawati (42) sebelum di renovasi, terilhat sisa setelah peristiwa kebakaran di tahun 2018.


Rumah pasangan suami-istri Edi (68) dan Susilawati (42) setelah direnovasi Tzu Chi Bandung.

Dahulu tebersit angan untuk memperbaiki rumah, namun apa daya dana yang didapat tak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh. Jangankan untuk merenovasi rumah, untuk biaya keseharian rumah tangganya pun dinilai sangat sulit untuk dicapai. Edi adalah seroang penjual rokok dan kopi asongan, yang tidak menentu pendapatan yang diperolehnya. Agar roda perekonomian rumah tangganya tetap berjalan, Susi pun mencari tambahan penghasilan dengan menjahit pakaian yang ia kerjakan di rumahnya. Ia mengatakan sebagai penjahit rumahan penghasilan yang diperoleh berdasarkan orderan yang masuk, dalam satu minggu ia mengantongi sebesar 100.000 rupiah, sedangkan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya melebihi dari pendapatan. “Terpaksa pinjam ke tetangga atau saudara untuk nutupinnya,” kata Susi.  

Walau begitu, Susi bersama suami tetap bersyukur dan tetap menjalani kehidupan ini dengan penuh kesabaran. “Kalau dihitung-hitung memang berat menjalaninya, tapi selama kami ikhlas, Insya Allah selalu ada jalan. Yang terpenting buat kami adalah untuk masa depan kedua anak kami yang masih sekolah,” tambah Susilawati.


Rumah Empi Aryadi (21) sebelum di renovasi, terilhat sisa setelah peristiwa kebakaran di tahun 2018.

Lain halnya dengan Empi Aryadi (21), penerima bantuan bedah rumah lainnya. Rumahnya yang bersebelahan dengan Susilawati turut terdampak peristiwa kebakaran saat itu. Harta bedanya pun habis dilahap dijago merah, hanya menyisakan tembok yang menyekat antara rumah Susilawati dengan Empi. Selepas peristiwa tersebut hampir selama satu tahun ia tinggal bersama bibinya. Orang tua Empi telah tiada, sedangkan kakaknya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota Bandung.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sangat tergantung dari bibinya. Hingga saat ini ia masih terus mencari pekerjaan demi kelangsungan hidup serta masa depannya. Dalam benak Empi hampir mustahil untuk memperbaiki rumah. “Setelah terjadinya kebakaran, saya merasa putus asa, darimana biaya untuk memperbaikinya,” kata Empi. Tapi nasib berkata lain, rumah Empi kini telah diperbaiki Tzu Chi.

Sementara itu, bagi Agustian Rusdinato yang berprofesi sebagai Hansip (petugas keamanan lingkungan) Kelurahan dan wilayah Jamika, bantuan bedah rumah ini sangat berarti baginya.


Rumah Empi Aryadi (21), setelah direnovasi oleh Tzu Chi Bandung.

Bagi Agus hampir mustahil bisa memperbaiki rumahnya kembali. Ia menceritakan luas ruangan 5m x 4m diisi oleh 4 orang, terdiri dari suami-istri, anak dan cucu. Belum lagi perabotan rumah tangga memenuhi ruangan. Dapur untuk memasak pun berada di luar, berbagi ruang dengan jalan umum pada gang yang sempit. “Kadang kalau kami tidur bertiga disini sama anak yang bungsu, kendalanya kalau malam itu banyak tikus,” katanya.

Untuk menambah penghasilan Agus terkadang menjadi buruh harian lepas. Ia tak menyangka ketika Tzu Chi bandung kemudian memberikan bantuan bedah rumah kepada ia dan tetangganya. ”Dalam hati nurani saya mengatakan, harus apa, harus gimana saya membalasnya kepada mereka-mereka itu, rekan-rekan relawan yang sudah memperjuangkan saya dan keluarga, hingga saya punya rumah gini,” ungkap Agus haru.

Bagi Agus, Susi, dan Empi, memiliki rumah yang layak, bersih, nyaman, dan sehat mungkin hanya sebatas impian, namun impian itu kini terwujud berkat perhatian kepedulian dari insan Tzu Chi.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 280 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
The beauty of humanity lies in honesty. The value of humanity lies in faith.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat