Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Upacara Pembasuhan Kaki di SMP Marie Joseph

02 April 2018 Jurnalis : Felicite Angela Maria (He Qi Timur)
Fotografer : Felicite Angela Maria (He Qi Timur)


SMP Marie Joseph menggelar kegiatan pembasuhan kaki orang tua, Rabu 28 Maret 2018. Kegiatan ini dibantu oleh para relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Timur, Kelapa Gading.

“Di Dunia ini ada dua hal yang tidak dapat ditunda, yaitu, berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan.”(Kata Perenungan Master Cheng Yen).

Pagi itu, Rabu 28 Maret 2018, sebanyak 18 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur, Kelapa Gading hadir di SMP Marie Joseph dalam rangka tri hari suci umat Katolik (Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci). Relawan hadir untuk membantu upacara pembasuhan kaki sesuai undangan Kepala Sekolah SMP Marie Joseph, Lusia Sri Rejeki.

Lusia prihatin melihat banyaknya hubungan antara anak dan orang tua yang tidak harmonis karena kesibukan orang tua, juga karena kecanggihan alat komunikasi atau gadget. Ia sendiri sering melihat kegiatan mencuci kaki anak ke orang tua yang dilakukan insan-insan Tzu Chi khususnya di kelas budi pekerti. Karena itu ia mengajak insan-insan Tzu Chi bersama-sama membantu acara pencucian kaki ini sebagai wujud membersihkan diri dari noda batin, juga sebagai wujud bakti kepada orang tua.

“Makna dari kegiatan ini, bagi kami adalah masa-masa pertobatan, masa-masa prapaskah. Kami mau membawa putra-putri kami, siswa-siswi Marie Joseph memaknai masa pertobatan, masa prapaskah ini, seperti mencontoh Tuhan Yesus yang mau merendahkan diri, mencuci kaki para rasulnya. Demikian juga putra-putri SMP Marie Joseph ini juga bisa melakukan hal yang sama, sebagai bentuk wujud bakti dan mengasihi orang tua yakni dengan mencuci kaki orang tua mereka,” ungkap Lusia Sri Rejeki, Kepala Sekolah SMP Marie Joseph.


Pembasuhan kaki orang tua ini berlangsung dengan baik, hikmat dan lancar.

Lusia juga sangat senang dengan dukungan dari relawan Tzu Chi. “Kami juga dibantu para relawan Buddha Tzu Chi, bagi kami ini adalah kiriman Tuhan yang terbaik, yang men-support kegiatan ini, berkat semuanya kami mengucapkan terima kasih, acara hari ini boleh berlangsung dengan baik, hikmat dan lancar,” tambahnya.

Kilas balik jalinan jodoh Tzu Chi dengan SMP Marie Joseph sendiri bermula sejak 2014 lalu saat sosialisasi Celengan Bambu. Berikutnya, siswa-siswi SMP Marie Joseph berkunjung ke Aula Jing Si. Jalinan jodoh itu berlanjut dengan donasi buku Jing Si dan terus hingga kini dalam acara basuh kaki orang tua.

Sementara itu, rangkaian acara pembasuhan kaki ini diawali sejak pukul 08.00 pagi dengan pendalaman iman rohani katolik (rekoleksi), mendalami makna kisah sengsara Tuhan Yesus demi kasihNya menebus dosa umat manusia. Dilanjutkan pada pukul 09.00 siswa-siswi yang beragama Katolik menerimakan sakramen pengakuan dosa, membersihkan diri dari noda dosa kekotoran batin. Sementara bagi siswa-siswi yang beragama lain mendengarkan ceramah tentang kerahiman Tuhan di masa prapaskah.

Menjelang pukul 11.30 siang, orang tua siswa hadir untuk upacara pembasuhan kaki ini. Upacara dibuka dengan misa dan pemberkatan air yang akan digunakan untuk upacara pembasuhan kaki, dihadiri kurang lebih 55 orang tua, 162 siswa SMP, seluruh staf, dan dewan guru.


Rexy Christian Leosaputra, salah seorang siswa kelas 8 ini, merasa terharu, sekaligus lega bisa mencuci kaki sang ibu.

Seusai rangkaian rekoleksi, pengakuan dosa dan misa, insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur bersiap-siap membentuk barisan untuk upacara pembasuhan kaki. Sebelumnya Vivi Tan, relawan misi pendidikan kelas budi pekerti komunitas Timur, Kelapa Gading ini memberikan pengarahan dan pemahaman singkat tentang makna sebenarnya dari mencuci kaki orang tua dengan menayangkan video kasus nyata dari Klang, Malaysia. Video ini menceritakan perjuangan seorang ibu yang harus merawat kedua anaknya yang mengalami gangguan syndrome mental. Kedua putra putrinya secara fisik berusia 30 tahun, tetapi secara mental mengalami kelumpuhan, berpola tingkah seperti bayi rentan yang baru lahir.

Video yang menyentuh hati banyak orang tua dan siswa ini menekankan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua, betapa orang tua begitu berjuang demi anak-anaknya. Sebagaimana dijelaskan Vivi Tan, peran orang tua dan anak-anak dalam sebuah keluarga sangatlah dalam dan penting.


Suasana haru dan khusyuk saat anak-anak didik ini membasuh kaki orang tua mereka. 

”Kita relawan Tzu Chi di sini sifatnya hanya membantu proses di saat pencucian kaki orang tua. Suka cita luar biasa, kita ingin semua Xiao Pu Sa semuanya berbakti kepada orang tua. Semoga semakin banyak sekolah yang mencontoh seperti yang dilakukan SMP Marie Joseph ini. Melihat banyaknya murid-murid yang berpartisipasi mencuci kaki orang tua ini, sangat bagus sekali, sangat mengharukan. Saya berharap semakin banyak lagi anak yang dekat kepada orang tua, berbakti kepada orang tua, seperti kata Master,” tutur Vivi.

Setelah pengarahan singkat, upacara pembasuhan kakipun dimulai. Sebanyak 55 siswa-siswi berbaris rapi, membawa baskom air mereka masing-masing. Setiap barisan dipimpin seorang relawan Tzu Chi. Siswa-siswi berjalan penuh keheningan menuju tempat duduk orang tua masing-masing. Perlahan-lahan mereka berlutut di depan orang tua mereka, dan mulai dengan lembut mencuci kedua kaki orang tua.

Sangat menyentuh dan penuh haru upacara pembasuhan kaki ini. Seperti yang dirasakan Purnami Sri Suratmi, salah satu tenaga pendidik di SMP Marie Joseph. Sehari-hari ia mengajar mata pelajaran Ilmu Komputer. Putrinya Tesalonika Putri Kasih, yang duduk di kelas 8 ini ikut membasuh kakinya.


Vivi Tjiptadihardja, relawan misi pendidikan kelas budi pekerti komunitas Timur, Kelapa Gading, memberikan pengarahan singkat makna mencuci kaki orang tua yakni sebagai wujud rasa syukur dan berbakti kepada orang tua.

“Hal ini sangat menyentuh hati saya sebagai seorang ibu. Ini sangat baik bagi anak-anak saya dan untuk keluarga saya. Bagi saya apa yang dilakukan bersama relawan Tzu Chi ini sangat professional dan sangat perfect karena mereka mengajarkan di mana orang saling mengasihi, saling membantu suka rela, tulus ikhlas. Itu menjadi pedoman kita sebagai manusia, bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik, rela membantu orang dengan ikhlas,” ujar Purnami Sri Suratmi.

Begitu juga yang dirasakan Rexy Christian Leosaputra. Ia bahagia bisa ikut mencuci kaki ibunya. “Rasanya lega, saya sangat terharu,” ungkap Rexy.  


Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 887 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat