Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

Waisak 2016: Semangat Cinta Kasih Universal

08 Mei 2016 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Anand Yahya, Arimami SA., Elysa Wu (He Qi Utara), Yuliati

Minggu, 8 Mei 2016, Perayaan Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia diadakan di Lapangan Sepakbola Sekolah Tzu Chi Indonesia, PIK, Jakarta Utara.

Setengah abad sudah Tzu Chi berdiri pada bulan Mei 2016 ini, dan sepanjang perjalanan 50 tahun itu pula insan Tzu Chi selalu konsisten merayakan Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia di setiap bulan Mei (minggu kedua) yang selalu diikuti oleh para relawan, tokoh agama, pejabat pemerintah, dan juga masyarakat umum lainnya.

Di 50 tahun berdirinya Tzu Chi, formasi barisan peserta Waisak Tzu Chi Indonesia kali ini pun membentuk angka 50 dan logo Tzu Chi. Bertempat di Lapangan Sepakbola Sekolah Tzu Chi Indonesia, perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi Indonesia ini diikuti oleh 4.396 orang, yang terdiri dari relawan Tzu Chi dari Jakarta dan Tangerang, serta dari perwakilan 19 sekolah, 3 perguruan tinggi, dan 11 wihara di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang (Banten), dan Bekasi (Jawa Barat).

Selain di Jakarta, kegiatan yang sama pada hari ini (8 Mei 2016) juga diadakan di Kantor Perwakilan dan Penghubung Tzu Chi di Indonesia, seperti di Bandung, Batam, Bali, Medan, Pekanbaru, Singkawang, Surabaya, Tanjung Pinang, dan Tanjung Balai Karimun. Sementara Kantor Perwakilan Tzu Chi Makassar sudah mengadakan sehari sebelumnya, yaitu Sabtu, 7 Mei 2016.

Kegiatan ini diikuti oleh 4.396 orang, yang terdiri dari relawan Tzu Chi dari Jakarta dan Tangerang, serta dari perwakilan 19 sekolah, 3 perguruan tinggi, dan 11 wihara di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang (Banten), dan Bekasi (Jawa Barat).

Makna Waisak Tzu Chi

Tzu Chi menganggap perayaan Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia ini sebagai perayaan Tiga Hari Besar, yang masing-masing memiliki makna. Peringatan Hari Waisak merupakan wujud syukur terhadap budi Sang Buddha yang telah hadir ke dunia sebagai penuntun jalan kebenaran bagi semua makhluk. Peringatan Hari Ibu Internasional mewakili sikap bakti kita demi membalas budi luhur dan pengorbanan ibu yang begitu besar, melahirkan dan merawat kita dengan penuh kasih sayang. Dan Peringatan Hari Tzu Chi Sedunia adalah momen untuk mengenang budi luhur semua makhluk, serta mengingatkan diri kita untuk lebih giat melatih diri, mengembangkan kebijaksanaan di Jalan Bodhisatwa. Makna yang terpenting dari memperingati ketiga hari besar tersebut secara bersamaan di Tzu Chi adalah sebagai inspirasi bahwa ajaran Buddha hendaknya menjadi bagian dari kehidupan, dan kita harus mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari dan berbakti kepada orang tua.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Waisak Tzu Chi kali ini juga dihadiri oleh para pemuka agama, seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Buddha, dan juga Hindu.

Nilai-nilai Universal

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Waisak Tzu Chi kali ini juga dihadiri oleh para pemuka agama, seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Buddha, dan juga Hindu. Menurut Sr. Luisa, CB, dari Gereja Katolik Hati Kudus, perayaan Waisak ini sangat khidmat dan  agung. “Membawa suasana yang damai, menenangkan batin dan penuh sukacita,” kata Sr. Luisa. Ini merupakan kali pertama ia mengikuti perayaan Waisak Tzu Chi. Suster Luisa yang datang bersama ketiga temannya ini juga mengaku banyak belajar dan menyerap nilai-nilai kemanusiaan di Tzu Chi. Kebetulan Suster Luisa sudah beberapa kali mengunjungi Tzu Chi Center dan berinteraksi bersama relawan Tzu Chi dalam berbagai kegiatan, seperti pelestarian lingkungan maupun sosialisasi celengan bambu di lingkungan Gereja Hati Kudus. “Tzu Chi bersifat universal, lintas agama, suku, dan golongan. Nilai-nilai inilah yang saat ini sangat diperlukan oleh bangsa kita yang majemuk dan ber-Bhineka Tunggal Ika. Nilai-nilai ini yang bisa jadi teladan bagi masyarakat Indonesia,” terang Sr. Luisa.

Menurut Sr. Luisa, CB, dari Gereja Katolik Hati Kudus, perayaan Waisak ini sangat khidmat dan  agung. “Membawa suasana yang damai, menenangkan batin dan penuh sukacita,” kata Sr. Luisa.

Kesan yang sama juga dirasakan Biksu Nyanabhadra dari Vihara Ekayana Arama di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Meskipun sudah tiga kali ikut merayakan Waisak Tzu Chi, namun Biksu Nyanabhadra  masih terus terkesan. “Saya sangat menghargai kesederhanaan Tzu Chi. Acaranya juga bermakna. Dan yang paling berkesan adalah para relawannya, yang menyambut orang-orang dan tamu yang hadir dengan sangat ramah. Mereka memperlakukan tamu yang datang dengan penuh hormat dan memberi kesan yang baik dan serasa disambut bahwa inilah tempat kita bersama, menciptakan kebaikan yang humanis,” ungkapnya.

Di mata Biksu Nyanabhadra, Master Cheng Yen adalah sosok biksuni yang hebat karena berhasil membawa nilai-nilai Buddhis yang universal ini sehingga bisa diterima banyak orang.

Di mata Biksu Nyanabhadra, Master Cheng Yen adalah sosok biksuni yang hebat karena berhasil membawa nilai-nilai Buddhis yang universal ini sehingga bisa diterima banyak orang.  “Bicara tentang nilai-nilai kemanusiaan saya belum melihat ada organisasi Buddhis lain yang bisa berkembang cepat seperti Tzu Chi, dan sekaligus membuat semua umat beragama menjadi respek dan menjadi berkah tersendiri bagi umat Buddha,” katanya, “saya melihat Tzu Chi salah satu organisasi yang mampu membawa umat-umat dari agama lain bersimpati dengan kegiatan-kegiatan Tzu Chi, dan perannya sangat besar sekali, baru 20 tahun (di Indonesia -red) tapi sudah betul-betul bisa mengayomi dan mengajak masyarakat.”

Salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam perayaan Waisak Tzu Chi kali ini adalah Jaya Suprana, pengusaha yang juga pendiri Musium Rekor Indonesia. Seperti yang lainnya, Jaya pun merasakan suasana khidmat dan agung dalam acara yang berlangsung selama dua jam ini (pukul 17.00 – 19.00 WIB). “Saya terharu. Bagian akhir pas nyanyi banyak yang meneteskan air mata, dan saya juga ikut meneteskan air mata.  Saya sendiri bukan anggota Buddha Tzu Chi, tetapi saya merasa sudah masuk jadi bagian dari keluarga besar Tzu Chi,” kata Jaya.


Jaya Suprana, pengusaha dan juga pendiri Musium Rekor Indonesia berharap Tzu Chi bisa terus menjadi pemersatu dari berbagai keragaman. “Semua lapisan tadi hadir, baik yang Muslim, Kristen, Katolik, dan anak-anak muda,ini bagus sekali, indah,” ujar Jaya Suprana.

Jaya Suprana yang sudah beberapa kali menghadiri acara Tzu Chi ini juga sangat mengagumi Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi. “Saya merasa Master Cheng Yen adalah sosok tokoh kemanusiaan yang layak menjadi teladan di seluruh dunia, bukan hanya di Taiwan. Menurut Jaya, saat ini dunia dipenuh kebencian dan ketamakan sehingga dibutuhkan teladan cinta dan welas asih. “Saya mengharapkan Tzu Chi bisa terus mempersembahkan rasa dan karsa. Bisa menjadi pemersatu dari berbagai keragaman. Semua lapisan tadi hadir, baik yang Muslim, Kristen, Katolik, dan anak-anak muda,ini bagus sekali, indah,” ujar Jaya Suprana.



Di 50 tahun berdirinya Tzu Chi, formasi barisan peserta Waisak Tzu Chi Indonesia kali ini pun membentuk angka 50 dan logo Tzu Chi.

Artikel dibaca sebanyak : 4905 kali


Berita Terkait


Waisak 2019: Sederhana Namun Penuh Makna

14 Mei 2019

Waisak 2019: Melindungi Bumi, Menyayangi Kehidupan

13 Mei 2019

Waisak 2019: Menyucikan Ladang Batin

13 Mei 2019

Perayaan Hari Waisak dan Hari Bakti Kelas Budi Pekerti

05 Juni 2018

Waisak Tzu Chi 2018: Kerja Sama Dalam Kemanusiaan

14 Mei 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat