Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Waisak 2019: Indahnya Formasi dan Makna Di dalamnya

13 Mei 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah, Dannie (He Qi Barat 1)
Fotografer : Arimami, Anand Yahya, Erli Tan, Halim Kusin(He Qi Barat 1), James Yip (He Qi Barat 2)


Sebelah kiri adalah formasi logo pelestarian lingkungan, sementara sebelah kanan merupakan logo vegetarian. Keberadaan formasi ini sendiri memperindah keseluruhan perayaan Waisak yang digelar Tzu Chi Indonesia kemarin, Minggu 12 Mei 2019. 

Ada yang selalu menarik dalam perayaan Waisak yang digelar Tzu Chi Indonesia. Salah satunya keberadaan formasi yang memanjakan mata, yang terbentuk melalui warna baju yang dikenakan para peserta yakni hitam dan juga putih. Pada perayaan Waisak yang digelar kemarin, Minggu 12 Mei 2019 di Aula Jing Si lantai 4, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, terdapat tiga formasi: logo pelestarian lingkungan, logo vegetarian, dan angka “53”, usia Tzu Chi Internasional.

Untuk membentuk formasi logo pelestarian lingkungan dan logo vegetarian di dalam Aula lantai 4, dibutuhkan setidaknya 1.440 orang. Sementara dibutuhkan 450 orang untuk membentuk angka 53. Formasi angka 53 ini sendiri berada di luar atau lobi lantai 4.

Tak hanya indah, sesungguhnya melalui formasi ada pesan yang ingin disampaikan. Tzu Chi Indonesia mengajak semua orang untuk lebih mencintai bumi dengan tindakan yang nyata, salah satunya dengan berkegiatan pelestarian lingkungan dan bervegetaris.

“Formasi digunakan untuk menyampaikan pesan agar lebih tepat sasaran. Kalau cuma ngomong saja, orang mudah lupa. Terutama bagi relawan sendiri, relawan harus lebih giat. Di masing-masing komunitas atau He Qi saat ini di pekan ketiga sudah ada jadwal tetap untuk pelestarian lingkungan,” jelas Tan Cun Cun, salah satu penanggung jawab di bagian formasi ini.

“Kita mengimbau semua peserta dalam rangka bulan Waisak ini bisa memaknai Waisak dari sisi pelestarian lingkungan dan vegetarian. Bahwa pelestarian lingkungan dan vegetarian selain baik bagi diri sendiri juga menciptakan keharmonisan, kedamaian, dan menyelamatkan bumi,” tambah Linda Budiman, yang juga penanggung jawab di bagian formasi.


Formasi 53 menandai 53 tahun Tzu Chi Internasional. 

Butuh Konsentrasi yang Tinggi
Di balik keindahan formasi, sesungguhnya ada perasaan deg-degan yang dirasakan empat relawan di tim penanggung jawab formasi ini, yakni Tan Cun Cun, Linda Budiman, Tio Mei Hui, dan Mei Bin. Tugas ini diberikan tiga pekan sebelum acara.  

“Agak mepet karena terbentur kegiatan lainnya. Idealnya sebulan setengah sudah mulai bergerak,” kata Tan Cun Cun sembari tertawa.

Bagi Tan Cun Cun sendiri, diperlukan konsentrasi penuh melaksanakan tanggung jawabnya ini karena ia sendiri masih aktif bekerja dari Senin hingga Jumat. Rasa deg-degan membayanginya pada dua minggu jelang hari-H karena formasi untuk angka 53 saat itu masih kurang. Segala upaya dikerahkan para relawan dengan mengajak keluarga, teman, dan umat di vihara. Sepekan jelang hari-H barulah Tan Cun Cun bisa bernapas lega, jumlah peserta justru lebih dari cukup.

“Harapan saya dengan doa jutaan insan yang dilantukan para peserta Waisak, dunia aman tenteram. Yang ikut ini saya harap bisa tersentuh dan masuk dalam barisan relawan Tzu Chi,” harapan terdalam Tan Cun Cun.   


Senyum terkembang di wajah Tan Cun Cun (kedua dari kiri depan) usai acara Waisak dan mendapati keseluruhan acara berjalan lancar.


Linda Budiman memastikan semua bangku terisi agar formasi dapat terbentuk sempurna.

Tak sekedar datang untuk membentuk formasi barisan, saat sosialisasi, para peserta juga diberitahu makna dari kehadiran mereka. Bahwa ini adalah doa bersama jutaan insan lintas agama, lintas suku bangsa.

“Karena Minggu kedua di bulan Mei kan semua insan Tzu Chi seluruh dunia serentak berdoa, jadi betul-betul doa jutaan insan. Jadi gaungnya akan terasa sekali. Jadi mari sama-sama melakukan doa bersama,” kata Linda Budiman.

Sukacita yang Dirasakan Para Peserta
Sekolah Permai di Muara Karang, Jakarta Utara adalah salah satu pihak yang rutin hadir dalam perayaan Waisak yang digelar Tzu Chi Indonesia dan turut membentuk formasi ini. Kali ini yang hadir ada 279 murid dari unit SMP dan SMA serta 57 orang guru.

“Sekolah Permai rutin mengikuti acara Waisak di Tzu Chi selama lebih dari 7 tahun. Anak-anak antusias untuk menghadiri acara ini. Dari acara Waisak ini saya salut dengan sistematis acara dan koordinasi relawan yang baik, dan sukacita relawan yang bertugas, sehingga acara prosesi bisa berjalan dengan rapi,” kata Ismu Nugroho, guru Sekolah Permai.

Tak hanya formasi saja yang indah, bagi Steven murid kelas 11 yang sudah dua kali hadir ini, keseluruhan acaranya memang sangat menarik. “Acaranya menarik, saya terkesan waktu prosesi persembahan” kata Steven.


Sebanyak 279 murid Sekolah Permai serta 57 guru hadir dan turut membentuk barisan formasi. 

Mantap Bergabung Menjadi Relawan Tzu Chi
Felix Audian (53), warga Taman Palem Lestari, Cengkareng baru pertama kali ini mengikuti perayaan Waisak yang digelar Tzu Chi. Felix yang mengajak istrinya, Juniwaty (49) dan anaknya Vernica (22) kompak mengenakan baju berwarna hitam. Sukacita menyelimuti hati Felix. 

“Sangat senang sekali ya karena kita tahu bahwa perayaan hari suci Waisak merupakan hari yang sangat dimuliakan umat Buddha. Perayaan Waisak ini sangat khidmat, penuh dengan keagungan, kesungguhan hati dan ketulusan. Ini juga merupakan momentum untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan Buddha,” ujar Felix.

Merupakan kebetulan yang sangat pas dengan salah satu bentuk formasi yakni logo pelestarian lingkungan. Pekan ketiga di bulan April lalu, Felix beserta istri dan anaknya untuk pertama kalinya ikut kegiatan pelestarian lingkungan yang digelar Tzu Chi di Taman Palem Lestari, Cengkareng, Jakarta Barat. “Artinya berjodoh juga, sebentar lagi kami menjadi relawan,” ujarnya yakin.

Felix, beserta istrinya dan anaknya memang sudah memiliki keinginan kuat menjadi relawan Tzu Chi. Keluarga ini mengenal Tzu Chi mulanya dari tayangan DAAI TV. Sang istri, Juniwaty sangat suka dengan drama kisah nyata di DAAI TV. Hampir 10 tahun mereka adalah penonton setia DAAI TV dan mendapatkan gambaran tentang Tzu Chi.

“Saya memang sudah berjanji dengan istri saya, kalau seandainya anak sudah besar mau masuk Tzu Chi. Agar tetap aktif berkegiatan dan bersosialisasi dengan masyarakat, otak bekerja, jiwa pun tambah sehat. Yang utama kita bisa membantu sesama manusia yang membutuhkan bantuan kita,” kata Felix.


Felix Audian bersama istrinya, Juniwaty tersentuh dengan khidmatnya Waisak yang digelar Tzu Chi.

Keingintahuan Felix tentang Tzu Chi semakin terjawab, suatu ketika kantor Felix bekerja sama dengan Teguh Taslim, seorang motivator yang juga relawan Tzu Chi. Teguh diundang untuk memberikan pelatihan kepada karyawan. Felix pun berteman baik dengan Teguh. Dan pada April lalu Teguh mengajaknya ikut kegiatan pelestarian lingkungan Tzu Chi yang ada di Taman Palem, Cengkareng. Felix sendiri sangat mendukung upaya pelestarian lingkungan yang sangat ditekankan oleh Tzu Chi.

“Jelas, kita lihat di Indonesia, biasanya hujan itu September, Oktober, November, Desember, tapi sekarang di bulan Februari, Maret bisa hujan. Artinya apa? artinya global warming harus kita perhatikan. Di kutub saja esnya sudah mencair,” tambahnya.

Bersama-sama Menyelamatkan Bumi


Ibu Dra Ni Ketut Harmini dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia merasakan perasaan syahdu. 

Ibu Dra Ni Ketut Harmini dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia untuk yang kedua kalinya menghadiri Waisak yang digelar Tzu Chi. “Bagi saya perayaan Waisak ini sangat khusyu, syahdu, dan mengena di dalam sanubari,” ujarnya.

Sementara itu pesan untuk lebih mencintai bumi bagi ibu Dra Ni Ketut Harmini, sangat nyata dan menggugah.

“Kita mulai harus ada kesadaran bahwa sebenarnya alam itu di kehidupan ini rusak ya gara-gara kita. Jadi seharusnya itu diperbaiki. Kami di Hindu juga ada Tri Hita Karana, salah satunya itu menjaga lingkungan alam semesta supaya harmonis dengan kehidupan kita,” tuturnya.

Perayaan Waisak yang dihadiri berbagai tokoh lintas agama juga semakin menciptakan rasa persaudaraan serta kekompakan untuk sama-sama bergerak dalam upaya menyelamatkan bumi dari kerusakan.

“Dengan bergabung begini kan berarti kita saling memahami, saling tercipta suatu kesepahaman untuk bersama-sama dalam menangani kerusakan yang sekarang ini air sudah naik, es mencair, jadi bagaimana kita bisa sama-sama untuk memperbaiki itu. Jadi itu dimulai dari diri kita sendiri,” pungkasnya.  


Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 633 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat