Selasa, 16 Juli 2019
Indonesia | English

Waisak 2019: Menyucikan Ladang Batin

13 Mei 2019 Jurnalis : Yuliati, Erli Tan, Marianie (He Qi Utara 1), Agus DS (He Qi Barat 2)
Fotografer : Halim Kusin (He Qi Barat 1), Yusniaty (He Qi Utara 1), Linawati (He Qi Utara 1), Anand Yahya, Agus DS (He Qi Barat 2)


Sebanyak 70 pemuka agama mengikuti perayaan Hari Waisak Tzu Chi pada Minggu, 12 Mei 2019 di Aula Jing Si lantai 4, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

Tzu Chi telah menginjak usia yang ke-53. Setiap tahun di minggu kedua pada bulan Mei, Tzu Chi memperingati tiga hari besar sekaligus, yakni Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Dihadiri 4.935 peserta dan 400 relawan yang tergabung dalam kepanitiaan, Doa Jutaan Insan diadakan dua sesi (sesi 1 jam 10.00 – 11.30 dan sesi 2 jam 14.30 – 16.00 WIB) di Aula Lantai 4 Jiang Jing Tang, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk Jakarta. Selain di Jakarta, perayaan Waisak juga diadakan di beberapa Kantor Tzu Chi di Indonesia, diantaranya: Medan, Tebing Tinggi, Pekanbaru, Batam, Tanjung Balai Karimun, Bandung, Surabaya, Singkawang, Makassar, dan Biak.


Para peserta Waisak secara bergantian menuju altar Buddha dengan hati yang hening dan jernih bersyukur atas Budi Luhur Buddha, Orang Tua, dan Semua Makhluk.

Seluruh peserta perayaan Hari Waisak bersama-sama melakukan prosesi pemandian Rupang Buddha dengan sangat teratur namun tidak meninggalkan kekhidmatannya. Dipimpin para anggota Sangha dan pemuka agama, para peserta Waisak secara bergantian menuju altar Buddha dengan hati yang hening dan jernih bersyukur atas Budi Luhur Buddha, Orang Tua, dan Semua Makhluk.

Membangun Tekad Luhur
Banyaknya bencana alam yang yang terjadi, menjadi sebuah sinyal peringatan yang membuat Tzu Chi mengangkat tema Pelestarian Lingkungan dan Vegetarian pada Waisak kali ini dengan harapan setiap insan bersama-sama melakukan pelestarian lingkungan untuk menyelamatkan bumi yang kini sedang sakit. Di tengah ketulusan dalam menjalankan prosesi pemandian Rupang Buddha, Tzu Chi juga mengajak para peserta yang hadir untuk bersama-sama membangun tekad baik untuk melindungi semua makhluk, bervegetaris, serta memutar roda ketenteraman demi diri sendiri, keluarga dan bumi ini.


Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Liu Su Mei (tengah) berharap setiap orang mendapatkan berkah dan juga menyucikan hati.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Liu Su Mei mengatakan, “Jika kita tidak lakukan saat ini maka generasi penerus kita tidak akan mendapat lingkungan yang baik. Akibatnya bukan hanya laut, tapi keseluruhan ekosistem juga akan terluka.”

Veriyanto, relawan Tzu Chi yang hadir bersama 20 relawan dari Cikarang membawa semangat menuju rumah batin di Pantai Indah Kapuk untuk merayakan tiga hari besar. Ia mengaku selain keheningan, keteraturan dalam perayaan Waisak, juga sangat mendukung tema yang diusung kali ini. “Pelestarian lingkungan dan vegetarian sangatlah bagus. Seperti vegetarian itu bagus untuk kesehatan kita dan dapat menumbuhkan rasa cinta kasih yang besar,” ungkapnya.

Relawan yang bergabung di Tzu Chi sejak 2012 dan diberi kepercayaan sebagai Ketua Xie Li Cikarang ini juga sudah menerapkan pelestarian lingkungan di daerahnya bersama relawan Tzu Chi lainnya dengan kegiatan pemilahan sampah di dua titik depo pelestarian lingkungan.


Bhikku Dhammakaro (kanan) mengajak setiap orang untuk melakukan perlindungan terhadap alam sekitar, dan juga senantiasa hidup dalam penghematan, termasuk hemat air.

Perayaan Hari Waisak 2563 Buddhis Era tahun 2019 ini juga dihadiri 70 pemuka agama. Salah satunya Bhikku Dhammakaro, anggota sangha dari Wihara Saddhapala, Cengkareng, Jakarta Barat. Bagi Bhikku yang sudah lebih dari 20 tahun meninggalkan kehidupan duniawi ini menilai Waisak yang diikutinya di Tzu Chi memberikan pesan kemanusiaan yang kental. “Memberikan suatu pemahaman tentang kebersamaan, kita sebagai insan dunia ini memang perlu hidup bersama, apalagi terkait dengan pengembangan cinta kasih, damai dan selaras dengan alam, ini sangat baik untuk terus digaungkan dan disebarkan ke masyarakat bahwa bumi ini sangat memerlukan perhatian dari penghuninya yaitu manusia itu sendiri,” kata Bhikku Dhammakaro.


Veriyanto (kiri) bersama 20 relawan Tzu Chi dari Cikarang bersama-sama mengikuti acara Doa Jutaan Insan di Aula Jing Si Lt. 4, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

Mengenai pelestarian lingkungan yang digaungkan Tzu Chi, Bhikku Dhammakaro mengapresiasi dan turut menghimbau, “Mari kita sebagai insan dunia ini tidak lupa untuk selalu mengembangkan cinta kasih antar sesama dan semua makhluk, dengan secara berkesinambungan melakukan perlindungan terhadap alam sekitar, dan juga harus senantiasa hidup dalam penghematan, termasuk hemat air dan kebutuhan sehari-hari.” Beliau juga menegaskan bahwa melalui pola hidup yang hemat, kita sesungguhnya telah mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi penerus.

Berdoa untuk Semua Makhluk
Doa jutaan insan kali ini tidak hanya memadati aula lantai 4 namun juga Guo Yi Ting di lantai 3 Aula Jing Si (sesi 2). Lie Tjui Djun (52) misalnya. Ia yang mengetahui acara Waisak dari relawan Tzu Chi yang dikenalnya, Vivi Wirawan. Ahun, sapaan karibnya seringkali mendapatkan informasi kegiatan Tzu Chi dari Vivi, namun belum berjodoh untuk mengikutinya. Namun ia sering menonton DAAI TV. Dari sanalah Ahun kemudian mengetahui kegiatan apa saja yang sudah dilakukan Tzu Chi.


Master Cheng Yen dalam salah satu ceramahnya terus mengimbau murid-muridnya agar senantiasa melakukan pelestarian lingkungan untuk menyelamatkan bumi yang sudah memberikan sinyal peringatan kepada manusia.

Perayaan Waisak yang diadakan pada tanggal 12 Mai 2019 di Tzu Chi merupakan kunjungan pertama Ahun bersama sang mama, He Gue Tho (81). Selama ini Ahun mengajak mamanya mengikuti perayaan Waisak di Wihara Mahavira Graha Pusat di Ancol, Jakarta Utara. Ia merasakan ada perbedaan perayaan yang pernah diikutinya dengan Waisak di Tzu Chi. “Kalau di Tzu Chi fokus atau arahnya menuntun manusia bagaimana dalam menjalankan kehidupan yang lebih baik dalam lingkup kemanusiaan,” ungkap Ahun.


Lie Tjui Djun (kanan) yang akrab disapa Ahun mengajak mamanya, He Gue Tho mengikuti Doa Jutaan insan di Tzu Chi. Mereka sangat terkesan dengan perayaan Waisak yang diikutinya.

Begitu juga sang mama yang mendapatkan kesan tersendiri dari mengikuti perayaan Waisak di Tzu Chi. Meskipun sudah berusia lanjut, He Gue Tho masih mampu berjalan sendiri tanpa memerlukan alat bantu untuk berjalan menuju altar Buddha untuk berdoa. Mendengar ceramah Master Cheng Yen, ia sangat terkesan. “Kata-kata yang disampaikan oleh Beliau (Master Cheng Yen) sangat menyejukkan,” ujarnya. Ahun berharap dengan diadakannya perayaan Waisak di Tzu Chi dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi semua makhluk.

Liu Su Mei, Ketua Tzu Chi Indonesia juga berharap melalui kegiatan hari ini semoga setiap orang mendapatkan berkah dan juga menyucikan hati sendiri. “Hari ini kita begitu banyak umat yang datang, juga kita kedatangan banyak Shifu (anggota Sangha), melalui pemanjatan doa tadi, saya percaya doa kita akan terdengar oleh Buddha.”


Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 886 kali


Berita Terkait


Waisak 2019: Sederhana Namun Penuh Makna

14 Mei 2019

Perayaan Hari Waisak dan Hari Bakti Kelas Budi Pekerti

05 Juni 2018

Kesamaan Harapan dalam Kebhinekaan

13 Mei 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat