Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Waisak 2019: Sederhana Namun Penuh Makna

14 Mei 2019 Jurnalis : Yuliati, Wanda Pratama (He Qi Barat 2)
Fotografer : Anand Yahya, Henry Tando, Merry Hasan (He Qi Barat 2), dok. Tzu Chi Indonesia.


Relawan Tzu Chi menyusun ratusan bunga hidup untuk memperindah altar Buddha dalam perayaan Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia.

Ada yang berbeda pada perayaan Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia yang diselenggarakan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia pada Minggu, 12 Mei 2019 di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara. Altar Buddha yang biasanya dihias dengan menggunakan bermacam variasi bunga hidup dan berwarna, kali ini hanya dihiasi dengan satu jenis bunga dalam pot yang dibalut dengan karung goni.

Pasalnya bunga-bunga yang biasa digunakan untuk dekorasi tidak lagi menggunakan potongan-potongan bunga yang dihias sedemikian rupa. Meski sederhana, kehadiran satu jenis bunga ini sangat indah dan memiliki makna yang mendalam. Sesuai dengan tema Waisak yang diusung tahun 2019 ini “Pelestarian Lingkungan dan Vegetarian.”

 

Inge Lienarty, PIC dekorasi dari relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur mempersiapkan susunan tanaman bunga untuk dekorasi altar Buddha.

“Kalau pelestarian lingkungan itu berarti tidak boleh membuang-buang. Kalau pakai bunga hidup kan nggak kebuang,” ujar Inge Lienarty, PIC dekorasi dari relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur (9/5/2019). “Bunga potong setelah dipotong nggak bisa diapa-apain. Bunga (hidup) ini didanakan oleh relawan,” sambung Rosaline yang juga PIC dekorasi altar dari relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat.

Dalam kegiatan ini, sebanyak 120 pot bunga yang berjajar di altar Buddha itu telah disusun dengan indah oleh relawan Tzu Chi. Sesudahnya bunga-bunga tersebut bisa diambil pemiliknya dan dibawa pulang. “Nantinya bisa dibawa pulang, bisa ditanam,” tambah Inge.

 

Satu per satu relawan membungkus 120 pot berisi tanaman bunga untuk altar Buddha dengan potongan karung goni.

Mendapatkan kesempatan menghias altar Buddha merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Inge dan Rosaline. “Kalau dekor itu apalagi untuk altar Buddha ada satu faktor persembahan kepada Buddha. Saya pas dikasih kesempatan dekor altar rasanya senang sekali karena ini ada satu bentuk respect kepada Buddha. Kita ingin mempersembahkan yang tercantik dan terindah,” ungkap Rosaline.

 

Relawan Tzu Chi dari berbagai komunitas relawan di Jakarta dan sekitarnya ikut berkontribusi dalam mempersiapkan konsumsi untuk peserta perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi.

Tidak hanya dalam dekorasi altar saja yang menerapkan prinsip pelestarian lingkungan, namun keduanya juga sudah menjalankan pola hidup vegetarian dalam kehidupan sehari-hari. “Saya vegetaris sudah 7 tahun. Di rumah juga mengurangi penggunaan plastik, kalau belanja bawa kantong sendiri sudah tidak pakai plastik lagi,” ucap Inge. “Selain pilah-pilah barang daur ulang seperti botol, plastik, dan lain-lain saya juga membuat eco enzym,” sambungnya.

“Jalan Sunyi” Bodhisatwa Dalam Perayaan Waisak
Ungkapan “pekerjaan paling sibuk yang luput dari perhatian banyak orang” agaknya paling pas disematkan kepada para relawan konsumsi dan pelayanan dalam kegiatan perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi. Sejak Senin (6/5/2019), relawan tim konsumsi sudah menyiapkan bahan makanan yang akan disajikan untuk para peserta Waisak, yakni I Fu Mi. Selama tiga hari mereka menggoreng mi untuk ribuan porsi. Adapula relawan yang membuat kuah, memotong sayur dan merebusnya, membuat kuah, topping, maupun lauknya. Semua telah dibagi-bagi per komunitas. “Semua berkontribusi, ya supaya semua relawan mendapatkan ladang berkah,” ujar Linda Suparto, PIC Utama Tim Konsumsi.

 

Haryatmi, salah satu relawan Tzu Chi Jakarta yang ikut mempersiapkan konsumsi untuk ribuan peserta.

Misalnya relawan He Qi Barat 2 yang mendapatkan berkah memotong sayur. Sejak pukul 5 pagi relawan bagian konsumsi ini sudah berada di dapur Tzu Chi yang berlokasi di basement Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK Jakarta Utara. “Suatu kebahagiaan bisa melakukan kebajikan bersama relawan lainnya,” ungkap Lina Burhan, salah satu relawan dari He Qi Barat 2 yang bertugas memotong sayur-mayur. Kendati tidak masuk dalam tim inti konsumsi dalam perayaan Waisak kali ini, namum Lina cukup aktif membantu memasak di bagian konsumsi dalam perayaan Waisak pada tahun-tahun sebelumnya dan berbagai agenda kegiatan di Tzu Chi Center.

 

Konsumsi untuk para peserta perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi ini terbuat dari bahan-bahan vegetarian.

Adapula relawan Haryatmi yang akrab disapa Shijie Ami yang bertugas menjadi relawan pelayanan. Kendati di komunitasnya lebih banyak aktif dalam kegiatan misi amal dan menjadi relawan Zhen Shan Mei, dalam persiapan perayaan Waisak ini Shijie Ami sudah aktif terlibat sedari awal rapat tim pelayanan untuk perencanaan pelayanan konsumsi serta ikut dalam kegiatan mencuci peralatan makan bagi lebih dari 2000 peserta Waisak.

Dengan turut membantu kelancaran acara Waisak di bagian relawan pelayanan ini, Shijie Ami meyakini bahwa dirinya mendukung dan ikut berada di barisan yang sama dengan para tamu perayaan Waisak yang terdiri dari para pemuka agama, pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, dan para undangan.


Editor: Arimami Suryo A

Artikel dibaca sebanyak : 338 kali


Berita Terkait


Waisak 2019: Menyucikan Ladang Batin

13 Mei 2019

Perayaan Hari Waisak dan Hari Bakti Kelas Budi Pekerti

05 Juni 2018

Kesamaan Harapan dalam Kebhinekaan

13 Mei 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat