Minggu, 27 Mei 2018
Indonesia | English

Waisak Tzu Chi 2018: Kerja Sama Dalam Kemanusiaan

14 Mei 2018 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Arimami SA, Hadi Pranoto, James Yip (He Qi Barat2), Joe Suati (He Qi Utara2)


Sebanyak 106 umat Gereja St. Fransiskus Xaverius Tanjung Priuk, Jakarta Utara mengikuti perayaan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara pada Minggu, 13 Mei 2018.

Dalam perayaan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia, mereka yang hadir bukan hanya dari kalangan umat Buddha saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama. Seperti pada Minggu, 13 Mei 2018, sebanyak 106 orang umat dari Gereja St. Fransiskus Xaverius, Tanjung Priuk, Jakarta Utara mengikuti perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi tersebut. Para umat ini sejak jam 7 pagi sudah berkumpul di halaman gereja, dan pada pukul 07.30 berangkat dengan menggunakan dua buah bus besar menuju Tzu Chi Center di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, dan tiba pada pukul 08.20 WIB. Ini merupakan Waisak Tzu Chi kedua yang diikuti oleh umat Gereja St. Fransiskus Xaverius.

Setibanya di Tzu Chi Center, mereka segera berbaris rapi dan berjalan menuju Aula Lt. 4 dengan dipandu Johan Kohar, salah seorang umat gereja yang juga relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Timur. Ada dua kelompok barisan, yang pertama berseragam kaos putih dan celana hitam serta kaus hitam dan celana hitam. Mereka ini akan ikut membentuk formasi logo無量 (Wu Liang: dari satu menjadi tak terhingga) dan angka 52. “Hari Kamis, 10 Mei 2018, saat Kenaikan Isa kami juga lakukan Sosialisasi Waisak Tzu Chi ini, sehingga saat hari-H mereka sudah tahu pakaian apa yang dikenakan dan ada di barisan mana,” kata Johan.

Kerjasama Kemanusiaan


Irene Tumaang (baju putih), pimpinan rombongan umat Gereja St. Fransiskus Xaverius merasakan nuansa cinta kasih universal dalam perayaan Waisak Tzu Chi ini.

Irene Tumaang, pimpinan rombongan umat Gereja St. Fransiskus Xaverius merasa terkesan dengan pelaksanaan Waisak di Tzu Chi ini. “Menurut saya pribadi, kegiatan ini sangat bagus, melibatkan semua makhluk hidup, tidak hanya umat Buddha saja. Kami sangat menghargai dan senang bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” katanya. Irene sendiri merupakan Ketua Seksi Kesehatan di Gereja St. Fransiskus Xaverius sehingga sudah cukup mengenal dengan baik Tzu Chi. “Kita kebetulan sudah bekerja sama dengan Tzu Chi, dan kami kagum dengan para relawan dan tim medisnya, mereka  melakukannya dengan tulus,” ungkap Irena. Dan kehadiran Irena dan rekan-rekannya ini merupakan bentuk partisipasi mereka untuk mengenal lebih dekat saudara-saudara mereka di Tzu Chi. “Kami juga ingin tahu bagaimana pelaksanaan Waisak Tzu Chi, dan ternyata sangat khidmat,” kata Irene.

Gereja St. Fransiskus Xaverius sendiri dalam kegiatannya juga tidak pernah membeda-bedakan. Dalam kegiatan sosial yang mereka lakukan mereka juga mengajak warga di sekitar gereja untuk ikut serta, baik menerima bantuan sembako maupun pengobatan gratis. “Semangat toleransi dan cinta kasih universal Tzu Chi ini juga yang membuat kami merasa cocok bekerja sama dengan Tzu Chi.”

Irene berharap kerja sama kemanusiaan antara Tzu Chi dan Gereja St. Fransiskus Xaverius bisa lebih erat lagi, khususnya dalam bidang kesehatan. “Tzu Chi memiliki Tim Medis yang kompeten dan banyak, sedangkan di kami tim medis (jumlahnya) masih sangat kurang. Semoga pelayanan dari Buddha Tzu Chi ini bisa menjadi berkah bagi semua orang,” kata Irene.

Melihat Perbuatannya, Bukan Agamanya


Selain relawan dan donatur, perayaan Waisak Tzu Chi ini juga dihadiri oleh staf badan Misi Tzu Chi, sekolah-sekolah, umat wihara, dan masyarakat umum lainnya.

Bagi Dr. Alfred, kehadirannya dalam Waisak Tzu Chi ini merupakan pengalaman pertamanya. Sebelumnya dr. Alfred lebih mengenal Tzu Chi tatkala pihak Gereja St. Fransiskus Xaverius, tempatnya beribadah mengadakan baksos kesehatan. Di sinilah dr. Alfred dan Tim Medis Tzu Chi sama-sama membantu masyarakat kurang mampu mendapatkan layanan pengobatan. “Tzu Chi dalam membantu seseorang tidak memandang suku, ras, agama maupun golongan, semua sangat baik untuk diterapkan, dan sangat berguna untuk kemanusiaan,” pujinya. Ia berharap kebersamaan ini bisa terus ditingkatkan. “Kita bersama-sama bergandengan tangan untuk kemanusiaan,” tegasnya.

Menurut Dr. Alfred, kegiatan Waisak Tzu Chi ini sangat bagus, di sini ia bisa melihat ritual-ritual yang mempunyai arti bagi kemanusiaan. Suasananya yang khidmat juga membuatnya lebih terinspirasi. Sebagai umat Kristiani, Dr. Alfred tidak merasa canggung dan keberatan mengikuti kegiatan ini. Bahkan demi mengikuti kegiatan hari ini, Dr. Alfred memutuskan untuk beribadah ke gereja pada hari Sabtunya, 12 Mei 2018. “Ini kegiatan yang bisa diikuti oleh semua orang. Inilah salah satu cara merajut toleransi di antara kita. Untuk kebersamaan dan persatuan di antara umat beragama, jadi kita tidak melihat agamanya, tapi kita melihat manusianya, perbuatannya, dan budi luhurnya itu yang kita utamakan,” tegasnya.


Khusyuk dan khidmat dirasakan para peserta saat menjalani perayaan Waisak Tzu Chi.


Para peserta dari berbagai sekolah, Badan Misi Tzu Chi, umat gereja, wihara, dan masyarakat umum lainnya dari wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) menggunakan bus untuk datang ke Tzu Chi Center. Banyak pula yang datang dengan menumpang kendaraan pribadi dan umum.

Menurut Johan, jalinan jodoh Tzu Chi dengan umat Gereja Fransiskus Xaverius ini bermula ketika ia yang juga aktif di Gereja Fransiskus Xaverius mengajak pihak gereja dan Tzu Chi bekerja sama dalam kegiatan kemanusiaan. Gayung bersambut, kegiatan pembagian paket sembako dan baksos kesehatan pun dilakukan di oleh kedua belah pihak. Karena itulah Johan juga mengajak umat Gereja St. Fransiskus Xaverius untuk lebih mengenal Tzu Chi, salah satunya dengan mengunjungi Tzu Chi Center dan mengikuti Hari Raya Waisak, Hari Ibu Internasional dan Hari Tzu Chi Sedunia ini. “Di Tzu Chi ini saya ajak mereka lakukan kebajikan bersama, seperti yang dikatakan Master Cheng Yen untuk berbuat kebajikan tanpa memandang suku, agama, dan golongannya. Dalam Injil juga dikatakan, ‘kasihilah sesamamu, manusia, seperti dirimu sendiri,” kata Johan.

Baca kisah lainnya:

http://www.tzuchi.or.id/read-berita/kebahagiaan-terpancar-diraut-wajah-warga-tanjung-priok/6646

http://www.tzuchi.or.id/read-berita/berkah-kasih-kesehatan-gigi-di-tanjung-priok/7009

Johan juga ingin memberikan gambaran kepada umat gereja bahwa meski dirinya aktif sebagai relawan Tzu Chi, tetapi keyakinannya tidak berubah. Ia tetap seorang Kristiani. “Saya mau menunjukkan bahwa Tzu Chi itu universal, lintas agama. Kita (melakukan kebajikan) tidak hanya sebagai teori, tapi tindakan nyata. Karena itulah mari sama-sama berbuat kebajikan,” kata Johan.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 786 kali


Berita Terkait


Waisak 2016: Semangat Cinta Kasih Universal

08 Mei 2016

Waisak: Kekuatan Doa Sejuta Insan

13 Mei 2015

Gempa Nepal: Waisak Pertama Tzu Chi di Nepal

11 Mei 2015

Peringatan Waisak: Doa Jutaan Insan

10 Mei 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat