Selasa, 13 April 2021
Indonesia | English

Wujud Cinta Kasih Untuk Palu

25 Oktober 2018 Jurnalis : Akien (Tzu Chi Aceh)
Fotografer : Supandi, Budi (Tzu Chi Aceh)


Relawan Tzu Chi di Aceh menggelar doa bersama (Qi Dao) dengan sepenuh hati mendoakan semoga dunia dipenuhi ketenteraman dan kedamaian.

Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR diikuti dengan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018, dalam sekejap membuat Kota Palu porak poranda. Ribuan orang menjadi korban jiwa dan korban luka serta ratusan korban hilang. Berita ini dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Warga Banda Aceh terutama relawan Tzu Chi Aceh yang mendapatkan berita ini tergerak hatinya untuk turut empati dan mengalang hati, menggalang dana untuk membantu para korban di Palu

Adalah Supandi dan Fenny mengajak semua relawan untuk bersatu hati mengadakan kegiatan doa bersama dan penggalangan dana untuk membantu derita saudara-saudara di Palu. Walau hujan terus mengguyur kota Banda Aceh sejak sore, namun relawan tidak pantang menyerah dan sangat semangat hadir di kegiatan ini. Dengan dipandu Suanto, acara pun berjalan dengan baik.

Acara dimulai dengan penayangan video Ceramah Master Cheng Yen yang sangat peduli dan khawatir dengan semua musibah yang terjadi di dunia. Saat Master mengetahui terjadi gempa yang menimpa Sigi, Donggala, dan Palu, Master menyerukan dan menggerakkan hati seluruh  insan Tzu Chi di manapun berada untuk membantu korban gempa di Indonesia.

Master sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua insan Tzu Chi atas dedikasi dan cinta kasih yang diberikan kepada korban gempa di Indonesia. Mereka melakukan doa bersama dan menggalang dana dari berbagai pihak baik itu insan Tzu chi, Para Bhiksuni di Jing Si, karyawan Daai TV , karyawan Rumah Sakit, guru dan anak-anak sekolah Tzu Chi juga tidak ketinggalan mendonasikan uang celengan mereka untuk membantu korban gempa di Indonesia.

Master juga mengapresiasi para relawan di Indonesia yang sudah mulai turun ke lokasi bencana dan Master mengharapkan bantuan bisa segera dikirimkan tepat waktu. Master berharap bisa membangkitkan cinta kasih semua orang agar bisa tergerak hatinya untuk membantu para korban.   


Supandi (seragam biru) bersama para sukarelawan sesaat sebelum penggalangan dana bagi para korban gempa di Palu.


Warga Aceh semangat untuk turut menyisihkan uang dalam rangka meringankan penderitaan warga Palu.

Insan Tzu Chi di Aceh juga sangat berharap bisa menyatukan cinta masyarakat di Aceh agar turut empati dan bisa menolong korban gempa di palu. Empat belas tahun yang silam Aceh juga pernah mengalami hal yang sama gempa & tsunami 2004 yang menghancurkan kota Banda Aceh menjadi pengalaman yang sangat memilukan. Sebagai orang yang sudah pernah mengalami bencana dahsyat ini tentunya empati warga Aceh sangat besar dan terdorong untuk membantu.

Acara dilanjutkan dengan doa bersama (Qi Dao) dengan sepenuh hati mendoakan semoga dunia dipenuhi ketenteraman dan kedamaian. Semoga dunia terbebas dari bencana, semoga manusia hidup dengan tenteram, damai, aman sentosa. Selesai sesi berdoa dilanjutkan dengan penuangan celengan cinta kasih untuk Palu. Koin demi koin dituangkan mengeluarkan bunyi gemerincing yang sangat indah. Penuangan celengan ini dilakukan dari anak-anak sampai yang dewasa.

Penggalangan dana ini juga dilakukan hingga ke Perum Cinta Kasih Panterik. Relawan melakukan kegiatan ini pada 7 Oktober 2018. Walau disertai hujan relawan tetap optimis, dengan dibantu mantel hujan dan payung relawan berpencar bagi tugas dan masuk door to door untuk menggalang hati para penghuni Perumahan Cinta Kasih panterik. Warga disana juga sangat senang bisa memperoleh kesempatan untuk membantu korban di Palu. Dulu mereka dibantu saat musibah gempa dan tsunami di Aceh, sekarang kondisi mereka semakin membaik dan bisa turut meringankan beban korban gempa Palu.


Penuangan celengan cinta kasih untuk Palu. Penuangan celengan ini dilakukan dari anak-anak sampai yang dewasa.


Relawan Tzu Chi dari Aceh, yakni Tonny dan Jaya Tjia saat tiba di Bandara Palu.

Cinta Kasih dari Aceh juga diwujudkan dengan berangkatnya empat relawan ke Palu. Tanggal 9 Oktober 2018 relawan yang berangkat yaitu Supandi, Tonny dan Jaya Tjia disusul kemudian tgl 17 Oktober Darwin dari Bireun. Mereka berempat bertekad membantu dan ingin meringankan beban derita para korban di Palu.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 1193 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat