Rabu, 08 April 2020
Indonesia | English

Yang Ingin Diwujudkan Warga di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Palu

17 Maret 2020 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Arimami Suryo A.


Penandatanganan Perjanjian Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako, adalah tahap terakhir sebelum warga korban bencana Palu bisa tinggal di hunian tetap ini.

“Sebelum terjadi bencana likuefaksi, saya adalah ketua RW yang bertanggung jawab terkait kebersihan. Tiap rumah saya bagikan kantong supaya mereka pilah mana sampah basah, mana sampah kering. Sampah basah dibuang ke TPS, sampah kering seperti botol air diolah kembali. Jadi InsyaAllah saya akan buat model begitu di Huntap,” kata Irawan Sukma, warga Donggala Kodi, Kota Palu yang merupakan calon warga Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako.

“Di Huntap nanti saya ingin membantu warga yang sakit. Apa yang bisa saya bantu buat warga di sana, ya saya bantu,” kata Dokter Andry Hamdani, warga Kelurahan Balaroa, yang juga korban likuefaksi.

Penandatanganan perjanjian hunian tetap Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi yang digelar di Taman Vatulemo Kota Palu pada 14-15 Maret 2020 bukan hanya kisah tentang doa-doa yang terkabul, tapi juga tentang semangat warga untuk bangkit dan banyak berperan dalam menciptakan tatanan kehidupan bermasyarakat yang saling mendukung dalam kebaikan.

Ingin Menciptakan Lingkungan Perumahan yang Bersih


Irawan Sukma yang bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah bertekad untuk menciptakan lingkungan yang bersih di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako. Ia berharap warga di sana nantinya mau bekerja sama supaya bisa saling mendukung.

“Saya usahakan supaya Palu ini bangkit kembali. Walaupun kemarin kami kena musibah, tapi Alhamdulillah ada bantuan dari Tzu Chi. Apalagi kami tanpa sepeserpun mengeluarkan biaya,” kata Irawan.

Irawan Sukma sudah tiga tahun ini bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah. Sebelumnya Irawan bekerja di Dinas Tata Ruang Pekerjaan Umum. Meski Irawan adalah seorang pegawai negeri sipil, bencana likuefaksi yang menghancurkan rumah seisinya membuat Irawan harus memulai hidup dari nol lagi.

Meski demikian Irawan bersyukur anak kedua yang saat itu sendirian di rumah saat kejadian likuefaksi itu dapat menyelamatkan diri.

Alhamdulillah likuefaksi di tempat kami tidak seperti di Perumnas Balaroa. Di perumnas begitu tanah terbuka kan tanah tertutup kembali. Kalau di tempat saya terbuka saja, jadi begitu rumah masuk ke tanah, anak saya sempat keluar dari patahan-patahannya itu,” kata Irawan. 

Irawan juga bersyukur masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan, pasalnya 10 menit setelah ia meninggalkan kantor sore itu, kantor tempatnya bekerja terjerembab ditelan likuefaksi.

“Istri saya saat itu menelepon saya agar segera pulang untuk salat Maghrib dulu karena kami mau menonton Festival Palunomoni.  Karena waktu itu saya sering lembur juga di kantor. Kalau istri saya tak panggil saya dari kantor, mungkin saya tak selamat,” kenangnya.

Irawan dan keluarganya sudah hampir dua tahun ini tinggal di Huntara Kodi. Hunian tetap yang lebih nyaman, bantuan dari Tzu Chi kini sudah di depan mata.

“Yang jelas saya bersyukur sekali karena ada bantuan dari Tzu Chi, dan InsyaAllah apa yang saya niatkan bisa saya laksanakan dengan baik. Ini juga sebagai bentuk rasa terima kasih saya ke Tzu Chi, karena saya tak bisa balas apa-apa,” kata Irawan dengan nada suara yang lirih.

Ingin Mengobati Warga


Dokter Andry Hamdani berfoto usai menandapatkan nomor hunian rumahnya.

Sementara itu, Dokter Andry Hamdani adalah seorang dokter bedah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anutapura Palu. Warga kelurahan Balaroa ini adalah korban likuefaksi. Ibu dan keponakannya bahkan meninggal dunia dalam musibah ini.

Adapun dirinya saat likuefaksi terjadi, sedang bertugas di rumah sakit, sementara anak dan istrinya kebetulan sedang berbelanja. Sama seperti Irawan Sukma, Dokter Andry juga memulai hidup dari nol lagi karena rumah dan isinya hilang ditelan bumi.

Dokter Andry sangat bersyukur Tzu Chi sudi mengulurkan tangan bagi warga Palu.

“Mungkin bukan kapasitas saya untuk mewakili, tapi saya yakin semua orang di sini yang menerima bantuan pasti sangat berterima kasih sama Tzu Chi,” tuturnya.

Atas bantuan yang diberikan Tzu Chi, Dokter Andry pun berupaya dapat terlibat dalam kegiatan Misi Kesehatan Tzu Chi.

“Iya saya sudah diberi informasi tentang kegiatan baksos Tzu Chi. Kalau memang saya diminta nanti pasti saya upayakan,” pungkasnya.


Nantinya, Dokter Andry yang merupakan dokter bedah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anutapura Palu ingin banyak membantu warga Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako yang sakit. 

Ingin Melakukan Penghijauan dan Terus Menyemangati Warga

Ada juga Ilham H. Asnawi yang merupakan pensiunan di Dinas Pendapatan Daerah. Dalam bencana likuefaksi yang menenggelamkan tujuh petak rumahnya ini, ia juga kehilangan anak keduanya, Anita Amaliah (36), yang hingga detik ini tidak diketemukan jenazahnya. Saat ini Ilham dan keluarganya menumpang di rumah kerabatnya di Perumahan BTN Citra Banua Nagaya, Kota Palu.

Mata Ilham tampak berkaca-kaca usai mendapatkan nomor rumahnya di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako.

“Saya sangat bersyukur atas semua pelayanan, terlebih lagi fasilitas yang disiapkan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi ini sehingga semua yang menjadi beban pikiran dan kendala selama ini, sudah terpecahkan semua,” katanya.

Ilham juga menyatakan siap untuk menjadi relawan di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako.

“Saya siap membantu apapun tugas yang diberikan, dari manapun tidak hanya dari Tzu Chi, saya siap membantu. Rencananya kalau sudah masuk, saya mau sponsori penghijauan, kebetulan ada teman di dinas kehutanan yang bersedia menyuplai tanaman dan pepohonan untuk ditanam di Perumahan Cinta Kasih,” sambungnya.


Ilham H. Asnawi yang merupakan pensiunan di Dinas Pendapatan Daerah ingin melakukan penghijauan di perumahan yang bakal dihuni sekitar seribu Kepala Keluarga (KK) itu.  


DRS. Samir yang sebentar lagi pensiun mengajar di MAN 1 Palu ingin melanjutkan pengabdiannya untuk mengajar anak-anak di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Tadulako.

Sementara itu DRS. Samir (59) merupakan seorang guru olahraga kesehatan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Palu. Warga korban bencana likuefaksi di Balaroa ini ingin bisa mengajar anak-anak di sana. Ia juga akan menyemangati warga lainnya untuk bersama-sama menghapus trauma.

“Saya ingin warga nanti senang dan betah tinggal di sana. Kita bangun bersama, kita hapus trauma, dan kita bangkit kembali,” kata Pak Samir yang sembilan bulan lagi masuk masa pensiun.  


Lenny Darmawang berbincang dengan warga calon penghuni Perumahan Cinta Kasih Tadulako. Ia berpesan agar nantinya warga selalu saling menghormati dan saling mengasihi supaya kehidupan bermasyarakat bisa rukun dan damai.

Lenny Darmawang, relawan Tzu Chi memiliki pesan kepada calon warga Perumahan Cinta Kasih Tadulako. Hal ini juga telah ia sampaikan kepada beberapa warga yang ia layani dalam proses penandatangan perjanjian perumahan pada 14-15 Maret 2020 yang lalu.

“Selalu saya pesan ke mereka, harus sama-sama rukun karena mereka hidup di satu kompleks yang sangat besar. Jadi warga ini kan mungkin ada yang tidak terbiasa dengan seribu kepala keluarga, betapa banyaknya kan. ‘Jadi bapak ibu juga harus jaga lingkungan hidup. Lalu karena agamanya berbeda-beda ya harus saling menghormati, saling mengasihi.’ Itu yang bisa membuat kita hidup rukun dan damai,” ujar relawan Tzu Chi Makassar ini.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 399 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Benih yang kita tebar sendiri, hasilnya pasti akan kita tuai sendiri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat