Sabtu, 10 April 2021
Indonesia | English

Berbahagia Mengambil Tanggung Jawab

05 Juli 2018 Jurnalis : Riani Purnamasari (He Qi Barat 1), Fotografer : Adi Kristanto, Sely Meting (He Qi Barat 1)


Sebanyak 22 relawan mulai membersihkan Aula sejak pukul 13.30 sampai 15.30 WIB. Empat anak pengungsi Afganistan yang juga merupakan penerima bantuan Tzu Chi: Reza, Arman, Bismillah Joia, dan Haidari ikut aktif berkegiatan Tzu Chi.

Di mana kita tinggal, di situlah sebaik-baiknya kita menggenggam setiap kesempatan untuk bersumbangsih. Karena di dalam kesempatan inilah, kita bisa mensyukuri setiap berkah yang kita miliki dalam kehidupan. Inilah yang dirasakan oleh relawan Adi Kristanto. Kesehariannya menjadi guru bahasa Mandarin di SMA Cinta Kasih Tzu Chi, membuatnya banyak berinteraksi dengan berbagai murid dan relawan dengan berbagai latar belakang dan karakter. Di tengah libur kenaikan kelas, Adi kerap mengisi waktu luangnya dengan kegiatan Tzu Chi dalam komunitasnya. Adi yang tinggal tak jauh dari sekolah, bergabung menjadi salah seorang fungsionaris di relawan komunitas He Qi Barat.

Rabu 4 Juli 2018, Adi pun mendapatkan ladang berkah dari komunitasnya untuk membantu membersihkan sebagian dari ruangan di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Jakarta Utara. Aula Jing Si yang merupakan rumah para relawan Tzu Chi, akan menjadi tempat Kamp Anak Asuh Beasiswa Tzu Chi Jakarta beberapa hari yang akan datang. Adi dan beberapa relawan lainnya bergerak bersama untuk membersihkan beberapa ruang tidur dan kamar mandi yang kelak akan digunakan pada kamp tersebut. 


Setiap relawan memiliki tugas masing-masing. Pembagian tugas ini bertujuan untuk menghemat waktu sehingga tugas dapat cepat diselesaikan.

“Selain karena memiliki waktu, membersihkan bagian Aula Jing Si juga adalah sebuah proses perenungan, bahwa batin harus senantiasa dibersihkan, tabiat buruk meski dikikis, dengan demikian hakikat diri kita yang murni baru bisa terpancar keluar. Walau kali ini bertugas sebagai fotografer dadakan, tapi sangat berkesan bagi saya,” ujar Adi.

Karena setiap jejak langkah harus dicatat dengan baik agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang, Adi pun belajar menggunakan kamera dan menangkap momen dengan baik. Asalkan ada niat, segala hal pasti bisa dijalani. Adi pun bersemangat menjalankan berkahnya menjadi relawan fotografer selama kegiatan.


Arman, satu dari empat anak Afganistan membersihkan lantai kamar mandi dengan sungguh-sungguh.

Suryani yang merupakan koordinator dari kegiatan hari itu lah yang mengajak para relawan untuk mengambil ladang berkah ini. Sebanyak 22 relawan mulai membersihkan aula sejak pukul 13.30 sampai 15.30 WIB. Dikarenakan kegiatan ini mengambil waktu di siang hari, kebanyakan relawan yang hadir umumnya relawan ibu rumah tangga, relawan usia senja, dan anak-anak sekolah yang sedang libur kenaikan kelas. Salah satunya adalah beberapa anak pengungsi Afganistan yang juga merupakan penerima bantuan Tzu Chi. Reza, Arman, Bismillah Joia, dan Haidari adalah 4 anak yang aktif berkegiatan Tzu Chi.

Adi sungguh bersemangat mengajak ke-4 anak ini untuk membantu. Karena dikenal ringan tangan, ke-4 anak ini turut membantu sejak awal sampai selesainya kegiatan. Mereka pun senang karena bisa bertemu dengan beberapa teman sekelas mereka pada kegiatan ini setelah hampir sebulan libur kenaikan kelas.

“Tidak boleh kita selamanya hanya menerima bantuan. Kita harus bersumbangsih ketika kita diberikan kesempatan. Karena kalau kesempatan itu hilang, kita tidak akan bisa ikut bersumbangsih,” inilah yang Reza katakan ketika diminta sharing pengalamannya. Reza yang baru saja menjalani operasi jantung bocor bawaan lahir, sudah bisa berkontribusi dalam kegiatan kerelawanan.


Setiap relawan membersihkan sudut yang tidak terlihat dengan sepenuh hati bagai membersihkan noda batin.

Reza, Arman, Joia dan Haidari yang bertempat tinggal di Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, sungguh bersyukur bisa turut membantu dalam komunitasnya. “Laoshi Adi sering mengajak kami untuk bersumbangsih di Tzu Chi. Kami pikir kegiatan Tzu Chi banyak manfaatnya untuk kami. Kami bisa belajar bersyukur atas kehidupan kami. Kamp ini nanti adalah untuk anak-anak beasiswa. Mereka yang orang asli Indonesia masih banyak yang kesulitan dan membutuhkan bantuan pendidikan. Kami pun senang bisa ikut membantu,” lanjut Reza. Teman-teman sekolahnya pun turut ikut serta.

Capek nggak Joia?” tanya Adi ke Joia. “Enggak sama sekali,” ucap Joia dengan gembira walaupun tubuhnya penuh keringat. Mereka mengaku tidak lelah usai membersihkan kamar mandi, karena kegiatan dipenuhi canda, keceriaan, yang menjalin jodoh baik dengan semua orang.

Ke-4 anak Afganistan, Reza, Arman, Bismillah Joia, dan Haidari menjadi contoh bagi para relawan untuk selalu menyadari berkah dalam hidup masing-masing. Mereka yang latar belakangnya datang dari wilayah perang, menemukan kedamaian ketika bersumbangsih di Tzu Chi. Mereka yang awalnya dibantu, kini terus bersumbangsih dan menjalin jodoh yang baik di dunia Tzu Chi. Mereka kini senantiasa mengikuti jejak langkah Master Cheng Yen di dalam kehidupannya. Mari menjadi relawan yang selalu berbahagia mengambil tanggung jawab dan menyadari berkah di dalam tanggung jawab sehingga cinta kasih dapat terus disebarluaskan ke berbagai sudut gelap dunia.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 1245 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang mau mengaku salah dan memperbaikinya dengan rendah hati, akan mampu meningkatkan kebijaksanaannya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat