Kamis, 29 Oktober 2020
Indonesia | English

Berita Internasional: Bantuan untuk Korban Gempa di Meksiko

27 Desember 2017 Jurnalis : Zhu Yingyan (Tzu Chi Meksiko), Fotografer : Zhou Xinghong, Zhuang Huizhen, Huang Xiaolin (Tzu Chi Meksiko)

Sumbangsih yang dilakukan dengan tulus dan turut merasakan penderitaan para korban dengan penuh kesungguhan hati, secara berlahan lahan telah menggugah hati para korban bencana. (Fotografer: Huang Xiaolin, tempat: kota Tlahuac, Meksiko, tanggal: 7 Desember 2017).

“Seandainya saya masih punya hari esok, hal apa yang masih dapat saya lakukan? Saya sudah mengalami perjalanan antara hidup dan mati, hal apa lagi yang masih dapat saya lakukan? Karena itu lah saya datang  di Meksiko.” Hong Liangdai, relawan Tzu Chi yang berasal dari Argentina, mengalami kecelakaan mobil beruntun saat bersiap untuk melakukan survei bencana di Meksiko.

Hong Liangdai sangat beruntung dapat selamat dari kematian, hal ini membuat dirinya mempunyai harapan yang lebih besar terhadap kehidupan. Setelah mengalami kecelakaan mobil beruntun, ia melangkah terus memenuhi kewajiban dengan penuh semangat.

Setelah gempa besar di Meksiko pada tanggal 19 September, Hong Liangdai menerima panggilan telepon dari CEO Tzu Chi Internasional Stephen Huang. Seketika itu Hong Liangdai memutuskan untuk pergi ke Meksiko. Setelah membeli tiket pesawat, sedianya ia pulang ke rumah dulu untuk mempersiapkan barang barang bawaannya, namun bus wisata yang ditumpanginya mengalami kecelakaan mobil beruntun.

Selamat dari Malapetaka, Solusi Terbaik atas Konflik Penduduk dengan Aparat Pemerintahan


“Master memikirkan kemajuan proses pembagian bantuan bencana di Amerika, merasa sangat tidak tega terhadap para korban bencana di Meksiko yang sedang kesusahan dan menderita, mereka juga harus menghadapi kehidupan yang begitu sulit di masa depan…” di tengah acara seremoni kegiatan pembagian bahan bantuan, Hong Liangdai berusaha menahan air matanya saat membaca surat Master Cheng Yen yang berisi perhatian penuh cinta kasih kepada para korban bencana. (Fotografer: Huang Huizhen, tempat: kota Tlahuac, Meksiko,  tanggal: 7 Desember 2017).

Di tengah ketidaksadaran dirinya, ada beberapa saat di mana Hong Liangdai tidak mengetahui apakah dirinya masih hidup atau sudah meninggal. Setelah terjaga dari ketidaksadarannya, suaminya Gao Zhongcheng bergegas datang untuk menjenguk, Hong Liangdai secara spontan bertanya: "Apakah saya masih akan pergi ke Meksiko?" Sang suami berkata setelah memandang dirinya sejenak, “Kamu kan tidak meninggal! Jika memang sudah memutuskan akan pergi ke Meksiko, maka lakukan dengan sebaik-baiknya, lakukan hal yang menjadi tanggung jawab diri mu.”

Pada awalnya, saat Hong Liangdai tiba di wilayah dataran tinggi Meksiko, kepalanya sering merasa pusing dan tidak enak badan, namun ia tahu tugas misinya belum selesai. Proses untuk mendapatkan daftar nama penerima bantuan lah yang paling sulit diterobos dan juga paling memakan waktu pada kegiatan pemberian bantuan kali ini. Hongliang Dai dan tim pendahuluan lainnya bersama relawan setempat mengunjungi rumah para korban bencana setiap hari, berkunjung dari satu keluarga ke keluarga lainnya untuk memberikan perhatian.

Ketulusan bersumbangsih serta turut merasakan penderitaan para korban bencana dengan penuh kesungguah hati, secara perlahan lahan telah menggugah hati para korban bencana. "Saat berbagi saya dapat merasakan kewelas asihan dan cinta kasih universal yang terjalin di antara insan Tzu Chi dan relawan setempat,” kata Hongliang Dai.

Sebenarnya di awal saat Hong Liangdai dan relawan lainnya berhubungan dengan walikota Kota Tlahuac, karena wali kota Mr. Rigoberdo sama sekali tidak mengenal Tzu Chi, untuk memohon mereka bekerjasama dalam urusan proses pembuatan data, berjalan tidak begitu mulus. Hal ini telah berlangsung lebih dari sepuluh kali. Sementara itu, di tengah rasa lelah selama melakukan perjalanan serta menghadapi berbagai kegagalan, Hong Liangdai tidak berhenti berdoa dengan berseru: "Master, biar bagaimana pun, Anda harus membantu saya!"

Lambat laun, ketulusan Hong Liangdai dan tim survei pendahuluan telah menyentuh hati walikota. Ketika relawan mengajukan permohonan bahwa mereka membutuhkan daftar nama korban bencana dan ingin melakukan survei di lokasi bencana, alhasil walikota dengan cepat menyerahkan daftar nama yang sangat lengkap. Ini merupakan tingkat keaktifan pemerintahan kota nomor satu dari semua wilayah yang tertimpa bencana.

Walaupun demikian, karena keterbatasan sumber daya, keluh kesah para korban bencana terhadap walikota tidak berhenti. Hong Liangdai juga dapat memahaminya, karena setelah terjadi bencana gempa, pemerintah pusat belum mengalokasikan dana bantuan, maka sangat banyak korban bencana yang mengeluhkan hal ini, sedangkan walikota juga merasa sangat tidak berdaya.

Menyelesaikan Pertentangan, Mendapatkan Aplaus Meriah dan Hangat


Walikota Tlahuac, Mr. Rigoberdo (kanan), sangat berterima kasih Tzu Chi telah membawa semangat cinta kasih universal ke kota Tlahuac. (Fotografer: Zhuang Huizhen, tempat: kota Tlahuac, Meksiko, Tanggal: 7 Desember 2017).

Setelah melalui kerja keras, menerobos rintangan berlapis-lapis, pemberian bahan bantuan dapat terlaksana sesuai rencana yang berlangsung pada tanggal 7 Desember 2017. Yang tiba lebih awal dari barisan relawan di balai kota Tlahuac adalah barisan panjang warga desa yang memegang kupon penerimaan bahan bantuan. Mereka mengenakan jaket dan selendang untuk menahan hawa dingin di pagi hari, semua orang berbaris dengan sangat rapi.

Oleh karena ditambah dengan kegiatan bakti sosial pengobatan tradisional Tiongkok dan pengobatan barat, tim relawan mempercepat gerakan untuk mempersiapkan tempat dan mempersilahkan warga desa  untuk duduk satu persatu.

“Master memikirkan kemajuan proses pembagian bantuan bencana di Amerika, merasa sangat tidak tega terhadap para korban bencana di Meksiko yang sedang kesusahan dan menderita, mereka juga harus menghadapi kehidupan yang begitu sulit di masa depan…” di tengah acara seremoni kegiatan pembagian bahan bantuan, Hong Liangdai berusaha menahan air matanya saat dengan penuh hormat membacakan surat Master Cheng Yen yang berisi perhatian penuh cinta kasih kepada para korban bencana.

Di saat itu, ia mengenang sejak setelah bencana gempa di Meksiko, dalam waktu selama dua bulan, tim survei bencana berhasil menembus berbagai kondisi sangat sulit berupa kendala lokasi yang asing serta bahasa yang berbeda. Juga berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya untuk memberikan perhatian dan bantuan berncana, rasa cinta kasih dan perasaan yang mendalam ini terbayang terus di depan matanya.

Walikota Rigoberdo juga hadir di lokasi upacara dan dengan tulus menyatakan rasa terima kasihnya kepada Master Cheng Yen. Ia juga berterima kasih kepada relawan yang membawa serta nuansa cinta kasih pada Meksiko, dan mengumumkan dengan khidmat bahwa hari itu sebagai “Hari Tzu Chi” kota Tlahuac.

Hong Liangdai yang merasa khawatir bahwa para warga masih menyimpan kesalahpahaman terhadap walikota, maka ia bertanya kepada semua warga desa: “Apakah kalian semua merasa senang?” “Sangat senang dan gembira!” jawab para warga. “Coba katakan apa yang kalian rasakan hari ini?” Semua menjawab serentak, “Cinta kasih, cinta yang mendalam”. Hong Liangdai meminta kepada para warga untuk mengingatnya: “Tzu Chi telah membawa begitu banyak cinta kasih dan mencintai kalian semua, di sini adalah tempat yang dipenuhi dengan cinta kasih.”

Hong Liangdai kembali berkata, Tzu Chi dapat datang untuk memberikan bantuan bencana, sepenuhnya karena adanya bantuan dari pemerintah kota. Jika tidak ada bantuan dari mereka, Tzu Chi tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan bahan bantuan kepada setiap warga, “Maka kalian harus berterima kasih, jangan ada rasa benci di dalam hati, uapayakan  agar kota Tlahuac menjadi kota yang penuh dengan siklus cinta kasih. Apakah dapat kalian melakukan?” Hong Dailiang bertanya dengan suara lantang.

Hong Liangdai menyadari bahwa kewelasasihannya membutuhkan latihan, setelah bergabung dengan Tzu Chi, ia baru merasakan keharuan yang mendalam terhadap penderitaan dan kesusahan, melalui kegiatan survei bencana, ia menjadi semakin dapat merasakan apa yang dirasakan para korban bencana.  (Fotografer: Zhou Xinghong, tempat: kota Tlahuac, Meksiko, tempat 7 Desember 2017).

Para korban bencana bertepuk tangan dengan meriah menyatakan bahwa mereka dapat melakukannya. Kegairahan suasana di lokasi upacara saat itu telah mencapai puncaknya.

Pejabat pemerintahan kota yang pernah bekerja sama dengan relawan Tzu Chi dalam membantu korban bencana, Thomas dan Hugo memeluk Hong Dailing dengan erat. “Terima kasih kepada kalian, terima kasih untuk hal yang dilakukan yayasan untuk kami, yaitu menyelesaikan konflik dan pertentangan antara korban bencana dan pemerintah. Kami adakah saksi mata yang telah melihatnya, sungguh sebuah organisasi yang luar biasa.”

Perjalanan pembangunan kembali kampung halaman memang sangat panjang dan lama, namun penuh dengan keyakinan. "Menyaksikan bahan bantuan yang sampai ke tangan warga desa yang tertimpa bencana, membuat para warga desa mendapatkan pertolongan, semua jerih payah memiliki nilanya." Hong Dailiang telah memahami dengan merasakan sendiri makna sejati dari  kewelasasihan. Setelah bergabung dengan Tzu Chi, ia baru merasakan keharuan yang mendalam terhadap penderitaan dan kesusahan, melalui kegiatan survei bencana, ia menjadi semakin dapat merasakan apa yang dirasakan para korban bencana.

Di lokasi pembagian bahan bantuan, banyak warga desa yang berterima kasih kepada Hong Dailiang dan menyampaikan padanya dengan berkata, “Saya tidak akan melupakan anda untuk selamanya, saya akan mengingat cinta kasih kalian selamanya.” Saat itu, Hong Liangdai selain merasa terharu, juga sangat berterima kasih kepada Master, yang membuat insan Tzu Chi berkesempatan untuk datang di Meksiko.

Di dalam hatinya tidak terelakkan ada rasa sayang dan tidak tega, namun hati Hong Dailiang sangat senang. Ia berharap agar para korban bencana  yang rumahnya hancur dalam waktu seketika, setelah mendapatkan bantuan selimut dan kartu penerimaan bahan bantuan dapat melewati hari Natal yang tenang dan aman. Walaupun perjalanan pembangunan kembali kampung halaman masih sangat panjang, namun cinta kasih dan keyakinan ini dapat membuat para warga desa memiliki kekuatan untuk memulai segalanya dari awal.

Rasa empati membutuhkan waktu pembinaan jangka panjang, harus melalui kegiatan yang terus-menerus melakukan, baru dapat ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hong Liangdai mengganggap kegiatan pemberian bantuan bencana kali ini sebagai cara untuk melatih diri.

“Yang paling indah dalam kegiatan pemberian bantuan bencana bukanlah hasil akhir, melainkan prosesnya, proses untuk merubah sebuah kehidupan.”

Translator: Erlina

Artikel dibaca sebanyak : 1234 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi diri sendiri adalah wujud balas budi pada orang tua, bersumbangsih adalah wujud dari rasa syukur.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat