Senin, 20 Mei 2019
Indonesia | English

Bersyukur atas Berkah dalam Diri

27 Desember 2018 Jurnalis : Yuliana (He Qi Utara 1), Fotografer : Erli Tan

Minggu, 23 Desember 2018, relawan komunitas He Qi Utara 1 berkunjung ke rumah singgah kanker CISC di Jakarta Barat. Di halaman depan rumah, relawan menyiapkan makanan untuk berbagi bersama para pasien.

Sebanyak 20 relawan berkumpul di Muara Karang, Jakarta Utara sejak pukul 8.30 pagi untuk kemudian bersama-sama melakukan perjalanan menuju rumah singgah yang beralamat di Jl. Anggrek Neli Murni VIIB Blok A No.73 Palmerah, Jakarta Barat. Setelah sampai di sana, relawan disambut oleh Iyan Sofian yang bertugas membantu keperluan pasien dan membersihkan rumah singgah ini. Setibanya relawan di sana, Iyan lalu meminta para penghuni berkumpul bersama dengan relawan.

Rumah singgah ini mempunyai 6 kamar dan bisa menampung 12 pasien. Mereka berasal dari luar kota dan menderita kanker atau tumor. Pasien yang tinggal di sini masing-masing juga ada pendampingnya. Rata-rata pengobatan yang mereka pakai adalah dari bantuan pemerintah yaitu menggunakan kartu BPJS.

Di hadapan para pasien, relawan Puspawati memperkenalkan diri seraya menunjukkan foto Master Cheng Yen sebagai pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi.

Di hadapan pasien yang sudah berkumpul, relawan Tzu Chi, Puspawati menjelaskan maksud kedatangan. “Kami dari Yayasan Buddha Tzu Chi hari ini mau menjalin jodoh yang baik dengan semuanya yang ada di sini,” tutur Puspawati. Ia kemudian menjelaskan sedikit tentang Tzu Chi sambil memperlihatkan foto Master Cheng Yen di buku Teladan Cinta Kasih.

Setelah perkenalan, relawan mengajak pasien dan pendampingnya untuk makan bersama. Namun ada beberapa pasien yang tidak bisa langsung makan karena harus diblender terlebih dahulu karena menderita kanker nasofaring. Pasien itu baru saja menjalani radiasi sehingga mulut dan tenggorokannya kesulitan menelan makanan. Karena itu relawan pun segera menghaluskan makanan menggunakan blender yang tersedia di rumah singgah.


Adiman (baju abu-abu) dan istrinya Rustina (baju hitam) saat berbincang dengan relawan Indah Melati Setiawan. 

Relawan Indah Melati Setiawan memberikan sedikit sharing tentang kanker tulangnya. “Saya sudah sakit kanker tulang sekitar 8 tahun, saya juga melakukan pengobatan dan kemoterapi. Saya berharap bapak ibu yang sedang menjalankan kemoterapi tetap semangat dan jangan pernah putus asa untuk melanjutkan pengobatan. Kanker bisa membuat kita down, apalagi jika pikiran kita tidak bisa menerima, makanya sel kankernya bisa terkondisi dan jadi makin aktif,” Indah menekankan bahwa pikiran sangat penting. Harus tetap menjaga pikiran optimis dan bahagia dalam melawan kanker.

Di rumah singgah ini ada pasien yang bernama Adiman Lumbantoruan yang berasal dari Papua. Ia menderita kanker otak. Pertama kali gejalanya timbul di tahun 2014 yaitu pusing di kepala bagian belakang dan tegang di leher. Yang menjaga dan mendampingnya adalah istrinya, Rustina Silaban. Mereka sudah berumah tangga selama 18 tahun dan mempunyai seorang anak yang sudah bersekolah SMP.

Relawan Ng Siu Tju (kiri) menemani dan menghibur salah satu pasien kanker nasofaring yang kesulitan menelan makanan.

Adiman sudah menjalanin operasi di otak sebanyak 2 kali di tahun 2014 dan 2018. Dulu tumornya sudah pernah diangkat, namun sekarang timbul lagi dan sudah menyebar di empat bagian kepala. Penglihatannya pun sekarang agak kabur dan sering lupa.

Kondisi suami yang demikian tentu menjadi tanggung jawab yang tidak ringan untuk sang istri. “Saya harus lebih sabar menghadapinya, dia kadang suka marah dan sering lupa. Ya kadang kita sebagai manusia kan bisa kesel dan emosi juga, tapi kalau dipikirin lagi pas dia sehat juga menjaga saya dan anak saya. Namanya sakit tidak ada yang tahu dan kita hanya bisa berdoa dan berjuang untuk menjalani pengobatan terbaik buat suami,” tutur Rustina kepada relawan.

Di rumah singgah ini, relawan memberikan bingkisan yang mereka siapkan untuk setiap pasien.

Relawan pun bercanda dengan Adiman seraya menguji ingatannya, “Yang bernama Rustina itu siapa?” Ia lalu menjawab dengan cepat, “Istri saya”. Lalu semuanya pun tertawa. Cinta dan kasih sayang yang diberikan istri selama ini tetap ada di hati dan pikiran Adiman walaupun ingatan sudah menurun.

Setelah sharing dan makan bersama, relawan mengajak pasien bersama-sama menyanyikan lagu Satu Keluarga diiringi isyarat tangan. Di sini pasien dan keluarga pendamping merasakan kehangatan relawan bagai keluarga mereka sendiri. Beberapa dari mereka merasa terharu dan menitikkan air mata. Ada juga yang matanya terlihat merah menahan air mata.

Sebelum beranjak, relawan menyerahkan bingkisan untuk menyambut Natal dan Tahun Baru 2019. Semoga di tahun baru 2019 semuanya cepat sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga masing-masing.


Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 341 kali


Berita Terkait


Menyemangati Nurul, Korban Gempa Palu

25 Februari 2019

Berbagi Semangat Hidup Menjelang Imlek

28 Januari 2019

Bergembira Bersama Oma dan Opa

21 Januari 2019

Menyambut Natal Bersama Oma Opa

17 Desember 2018

Semangat Hidup Salidin dan Nonayu

10 Desember 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat