Sabtu, 19 Oktober 2019
Indonesia | English

Bukti Cinta Tzu Chi di Bulan Ramadan

20 September 2008 Jurnalis : Veronika Usha, Fotografer : Mulyono

 
foto

Buka puasa bersama pasien dan penerima bantuan Tzu Chi 2008, tidak hanya sebatas makan malam semata, namun lebih kepada silaturahmi dalam rangka menumbuhkan semangat cinta kasih kepada mereka yang menerima bantuan dan akhirnya menjadi pemberi bantuan.

Kelainan otak yang pernah menyerang Desi, membuat gadis manis berumur 13 tahun ini mengalami gangguan dalam berjalan dan berbicara. Namun kelemahan tersebut, tidak menutupi ekspresi kegembiraannya saat mendapatkan beberapa potong baju di acara ”Buka Bersama Pasien dan Penerima Bantuan Tzu Chi” yang diadakan di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Tzu Chi, Cengkareng, 20-21 September 2008.

Gimana, senang tidak mendapatkan baju baru?” Desi menjawab pertanyaan salah satu relawan Tzu Chi dengan anggukkan kepala dan gerakan kedua tangannya. Binar matanya yang bulat pun, tak kalah pancarkan rasa puas dan kebahagiaan.

Sejak lahir, putri keenam pasangan suami-istri Didi dan Ayamah ini memang sudah memiliki kelainan otak. ”Tadinya saya tidak tahu kalau Desi sakit. Tapi akhirnya saya curiga, soalnya sudah umur 3 tahun Desi nggak bisa berjalan dan bicara,” ucap Ayamah.

Tapi sekarang, setelah dioperasi dan mendapatkan perawatan yang intensif, kesehatan Desi sudah semakin membaik. Bahkan ia sudah mulai bisa mengucapkan beberapa patah kata seperti: ma, pa, dan mamam. Dan hari ini, dengan bantuan penyangga di kedua kakinya, Desi yang masih harus dipapah ketika berjalan, bisa hadir memenuhi undangan Tzu Chi.

foto  foto

Ket : - Dalam kesempatan ini, Suparmin, salah satu penerima bantuan kesehatan Tzu Chi juga menyerahkan
           celangan bambu miliknya kepada Lie Su Mei (Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia), sebagai tanda
           kepeduliannya terhadap sesama. (kiri)
         - Kacang, gula, minuman ringan, mentega, minyak goreng, biskuit, dan angpao sebesar 200.000 rupiah
           adalah sebuah bingkisan cinta kasih dari Tzu Chi yang diberikan kepada para peserta. (kanan)

Dari Baju Hingga Sembako
Bertempat di lapangan olah raga Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng inilah, acara buka bersama pasien dan penerima bantuan Tzu Chi dibuka dengan kegiatan pembagian pakaian kepada para peserta.

Ratusan pakaian tergelar di beberapa meja panjang. Mulai dari pakaian dalam, kemeja, celana panjang, hingga pakaian bayi, semua disediakan untuk para peserta tanpa dipungut biaya.

Para peserta yang datang hanya tinggal menunjukkan kartu peserta untuk bisa mendapatkan pakaian-pakaian tersebut. ”Nanti akan ada relawan yang membantu para peserta untuk mengambil pakaian mereka,” ucap Heming, salah satu relawan yang bertugas sebagai pemeriksa kartu.

Luapan emosi jelas terlihat pada setiap peserta. Betapa tidak, menjelang hari Idul Fitri 1429 H, mereka mendapatkan berkah berupa beberapa pakaian baru yang pastinya berguna. ”Ini pertama kali saya diundang dalam acara buka puasa Tzu Chi. Saya tidak menyangka, saya pikir hanya acara makan-makan saja, tapi ternyata tidak hanya itu,” tutur Agus, yang sangat senang bisa mendapatkan baju baru dari Tzu Chi.

Tidak hanya pakaian baru, Yayasan Buddha Tzu Chi seolah tahu apa yang saat ini dibutuhkan oleh para peserta untuk menghadapi hari raya. Sebuah angpao berisi uang sebesar 200.00 rupiah, kacang tanah, gula, minyak tanah, mentega, minuman instan, hingga biskuit dapat mereka bawa pulang sebagai bingkisan khusus dari Tzu Chi.

foto  foto

Ket : - Kebahagiaan terpancar jelas dalam raut wajah para peserta kegiatan "Buka Bersama Pasien dan Penerima
           Bantuan Tzu Chi" ketika menerima pakaian gratis dari Tzu Chi. (kiri)
         - Tidak hanya insan Tzu Chi, anak-anak para pasien dan penerima bantuan dari Tzu Chi pun tidak mau
           ketinggalan untuk mempersembahkan pertunjukan isyarat tangan "Kasih Ibu". (kanan)

Ajang Reuni dan Berbagi
”Kegiatan ini dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama yang dilakukan pada hari Sabtu 20 September 2008, dilakukan untuk pasien dan penerima bantuan dari He Qi Utara dan Selatan. Sedangkan sesi kedua yang dilakukan pada hari Minggu 21 September 2008, adalah sebaliknya,” tambah Heming.

Untuk mengisi waktu sesaat sebelum berbuka puasa tiba, para pasien dan penerima bantuan juga diajak untuk berbagi cerita mengenai pengalaman hidup mereka.

Suparmin, salah satu penerima bantuan kesehatan menceritakan alasan mengapa ia tetap rutin menjadi donatur celengan bambu, meskipun untuk biaya hidupnya sehari-hari saja ia kesulitan. “Saya ikhlas untuk membantu, jadi saya tidak punya beban nyelengin ,” tutur pria yang berprofesi sebagai tukang sampah, dan rela mengurangi rokoknya, agar bisa tetap mengisi celengannya

Dengan penghasilan 300.000 per bulan, Suparmin masih bisa bersumbangsih untuk Tzu Chi, dan itu diakuinya tidak membuatnya semakin susah, bahkan memberikan kebahagiaan khusus baginya.

 

Artikel dibaca sebanyak : 1013 kali


Berita Terkait


Memberikan Pendampingan Kekeluargaan

18 Oktober 2019

Mau Belanja sekaligus Beramal? Pekan Amal Tempatnya

17 Oktober 2019

Berjuang Bangkit Kembali

16 Oktober 2019

Kunjungan Kasih ke Kaliawi Pascakebakaran

16 Oktober 2019

Melestarikan Lingkungan sambil Mempraktikkan Dharma

15 Oktober 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat