Selasa, 22 September 2020
Indonesia | English

Mendapat Kebahagiaan Sejati di Tzu Chi

03 Agustus 2020 Jurnalis : Erli Tan, Fotografer : Erli Tan


Sabtu, 1 Agustus 2020 Tzu Chi Talks kembali hadir dengan tema “My Tzu Chi Life’s Script”. Acara ini dipandu Chia Wen Yu sebagai moderator.

Sabtu, 1 Agustus 2020 Tzu Chi Talks kembali hadir dengan tema “My Tzu Chi Life’s Script”. Acara ini dipandu Chia Wen Yu sebagai moderator, Haryo Suparmun membawakan Opening Remarks, dan Liliawati Rahardjo sebagai narasumber. Liliawati Rahardjo adalah seorang relawan Tzu Chi, juga seorang pengusaha, Managing Director di PT. Summarecon Agung Tbk.

Melalui acara bincang-bincang ini, Liliawati membeberkan kisah hidupnya selama 18 tahun menjadi relawan Tzu Chi. Awal mengenal Tzu Chi yaitu pada tahun 2002, beliau bersama beberapa pengusaha termasuk Pak Aguan (Sugianto Kusuma), dan Pak Franky O. Widjaja, berkunjung ke Hualien Taiwan. Selain mendengarkan ceramah Master Cheng Yen secara langsung, di sana Liliawati juga sempat melihat upacara Waisak Tzu Chi yang dihadiri ribuan orang. Ia pun sangat terkesan dengan kerapian dan kekhidmatan acara tersebut.

 

Sebanyak 455 peserta mengikuti Tzu Chi Talks yang berlangsung secara online melalui aplikasi ZOOM, Facebook, Instagram, dan Youtube Tzu Chi Indonesia.

“Saya tersentak dan terkagum-kagum melihatnya. Saya teringat ajaran guru saya dulu sewaktu masih sekolah, guru saya bilang, ‘Jika dalam satu kelompok semua orang memakai baju seragam, tapi ada satu yang memakai baju yang bagus sekali, itu akan merusak keindahan keseluruhan kelompok’,” kata Liliawati. Ucapan gurunya semasa kecil ini pun sangat klop dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen yang ia temui kemudian, yaitu: Keindahan sebuah kelompok terletak pada keindahan pribadi masing-masing individu.

Saat di Hualien itu, ia merasa tersentuh dengan ucapan Master Cheng Yen kepada rombongan Indonesia, yaitu, “Kalian hidup di Indonesia, mencari nafkah di Indonesia, kalian harus bisa berbakti dan berkontribusi kepada Indonesia.” Mendengar ini membuatnya merenung dan menyadari bahwa kepeduliannya terhadap negeri sendiri masih kurang jauh. Pulang dari Taiwan tahun itu, ia pun mulai bergabung menjadi relawan Tzu Chi.

Tugas penting seorang relawan adalah mencari donasi. “Mencari sumbangan ini bukan sesuatu yang gampang ya, karena kita harus merendahkan hati, dan melepaskan ego kita, jadi ini susah banget untuk bisa saya jalankan,” tuturnya kepada 455 partisipan yang mengikuti secara online melalui ZOOM, Facebook, Youtube, dan Instagram.


Liliawati Rahardjo sebagai narasumber adalah seorang relawan Tzu Chi, juga seorang pengusaha di bidang properti.

Namun seiring berjalan waktu, Liliawati pun mulai menerapkan ajaran Master Cheng Yen di kantornya, yaitu melakukan pelestarian lingkungan dan pengumpulan donasi rutin. Selain Depo Pelestarian Lingkungan yang sudah ada di Kelapa Gading dan Serpong, karyawannya juga secara aktif mengumpulkan donasi. “Setiap ada bencana, secara otomatis (bagian) personalia saya akan kumpulin dana dan sumbang melalui Yayasan Buddha Tzu Chi,” ucapnya. Bukan cuma itu, dia juga pernah mengajak jajaran direksinya ke Manado melihat bencana banjir dan longsor tahun 2014 yang melanda kota itu.

“Secara tidak sadar, humanis ini berpengaruh di kantor kita, contoh saat banjir besar di Jakarta, banyak mobil parkir di mal saya. Kebetulan suatu hari saya ke salon di Mal Kelapa Gading. Saat masuk, pemiliknya langsung mengucapkan terima kasih kepada saya,” kata Liliawati. Rupanya saat banjir itu pemilik salon memarkirkan mobilnya di mal selama 3 hari, tapi saat keluar ternyata tidak dipungut biaya sama sekali. Mendengar itu Liliawati sangat gembira. “Itu saya merasa senang, karena orang kantor saya sudah dapat menjalankan dan menerapkan salah satu ajaran humanis dari Master Cheng Yen bahwa kita bisa empati, bukan cari duit pada waktu orang lain sedang susah,” ucapnya haru.


Setiap ada bencana, secara otomatis bagian personalia Liliawati akan mengatur dan mengumpulkan dana untuk disumbangkan melalui Tzu Chi.

Bukan saja di lingkungan karyawannya sendiri, tapi suaminya yang merupakan salah satu alumni Sekolah Pa Hoa sekaligus pendiri Yayasan Pahoa, saat mau mendirikan Taman Kanak-kanak (TK) Terpadu Pahoa, Liliawati ikut terlibat. “Saya membawakan ajaran Master Cheng Yen di situ, jadi kita membangun sekolah yang ramah lingkungan, tanpa AC, menanam banyak pohon sehingga cukup banyak oksigen untuk guru dan murid, dan air juga kita daur ulang untuk menyiram tanaman,” terangnya.

Hal yang paling membahagiakan Liliawati dari sekolah itu adalah, pada tahun 2014 Pahoa mendapatkan dua penghargaan sekaligus dari FIABCI (Federal Real Estate International), yaitu Gold Winner untuk kategori Purpose Built dan Silver Winner untuk kategori Sustainable Development, karena dinilai TK Pahoa adalah sekolah yang bangunannya mengusung konsep ramah lingkungan.

“Dengan dua penghargaan ini, membuat saya makin yakin dengan ajaran Master Cheng Yen. Kita juga mengajak para siswa untuk ikut berdana melalui celengan bambu. Dari kecil diajarkan berempati pada sesama yang membutuhkan,” jelas Liliawati.

 

Sekolah Pahoa binaan Liliawati mendapatkan dua penghargaan sekaligus pada tahun 2014, yaitu Gold Winner untuk kategori Purpose Built dan Silver Winner untuk kategori Sustainable Development, karena dinilai bangunannya mengusung konsep ramah lingkungan.

Selain sekolah, ia juga mulai mengumpulkan uang kecil melalui celengan bambu ini dari lingkungan proyek bangunan, para karyawan mal, para tenant di mal miliknya, agen-agen marketing, dan lainnya. Liliawati turun sendiri melakukan sosialisasi ini dan berlangsung beberapa sesi sesuai kelompok orang yang dikumpulkan. Walaupun pada awalnya ada sedikit kendala, namun dengan ketulusan dan kerendahan hati, Liliawati akhirnya malah makin percaya diri. Pasalnya banyak yang meminta celengan lebih untuk dibawa pulang dan diberikan kepada keluarga, anak, dan teman-teman. Dan belakangan karena hal ini pulalah sehingga membuat Liliawati memutuskan untuk mengadakan acara rutin di mal dalam rangka penuangan celengan bambu. Di mal juga bisa mendapat donatur baru, ini bagai siklus kebajikan yang tiada akhir.

“Betapa bahagia saya waktu itu, benar-benar itulah pertama kalinya saya mendapatkan kebahagiaan dalam dharma. Saking senangnya itu saya telepon ke kanan ke kiri, ke anak, ke suami, menceritakan dengan menggebu-gebu. Kebahagiaan ini juga saya ceritakan di kantor hingga berminggu-minggu,” ujarnya senang.


Liliawati turun sendiri melakukan sosialisasi, mengajak karyawannya, para tenant mal, agen-agen marketing, orangtua murid, dan lain-lain untuk berdana melalui celengan bambu Tzu Chi.

Begitu besar kebahagiaannya, bahkan kebahagiaan dari berhasilnya bisnis penjualan rumah pun tidak bisa menandinginya. Saat diberitahu penjualan rumah sudah sold out oleh salah satu karyawannya, Liliawati hanya berkomentar datar, namun kebahagiaannya dalam mengumpulkan koin-koin ini bisa membuatnya tertawa terus dan menceritakannya selama berminggu-minggu.

“Ternyata berbuat baik di Tzu Chi bisa membahagiakan orang dan merasakan bahagia yang tidak terhingga,” ungkap Liliawati. Kebahagiaannya kian lengkap karena sangat didukung oleh suami, kedua anak, juga menantu.

Secara rutin ia menyisihkan sekian angka dari uangnya untuk diamalkan. “Lebih senang uangnya dipakai untuk beramal daripada untuk membeli macam-macam untuk diri sendiri. Ini adalah perubahan yang terjadi di dalam hati saya, karena saya merasa lebih bahagia untuk bantu orang, daripada beli barang yang hanya sekejap senangnya,” lanjutnya.

 

Semakin banyak orang yang berdana melelaui celengan bambu, hal ini membawa kebahagiaan sejati yang tidak pernah dipikirkan Liliawati sebelumnya.

Kini ia juga fokus di Sekolah Pahoa, menerapkan pendidikan untuk anak-anak supaya bukan hanya cerdas, tapi juga memiliki moral dan karakter yang mulia. Yang mana ini sama dengan ajaran humanis Tzu Chi yang menekankan tiga hal yaitu bersyukur, menghormati, dan cinta kasih.

“Saya berterima kasih kepada Master Cheng Yen yang telah mengajarkan saya sehingga saya bisa bawa keluarga saya, perusahaan saya, karyawan saya, serta guru dan murid Sekolah Pahoa dapat berkembang, sehingga saya mendapatkan kebahagiaan sejati. Sekian. Gan en,” ucap Liliawati menutup sharing-nya.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 249 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi diri sendiri adalah wujud balas budi pada orang tua, bersumbangsih adalah wujud dari rasa syukur.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat