Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Peletakan Batu Pertama Rumah Cinta Kasih Tzu Chi di Manado

28 Januari 2015 Jurnalis : Juliana santy, Fotografer : Juliana Santy

Pada tanggal 26 Januari 2015, dilakukan peletakan batu pertama bagi pembangunan Rumah Cinta Kasih Tzu Chi di Manado.

Senin,  26 Januari 2015, sejak pukul 15.00 WIB relawan Tzu Chi Manado sudah berkumpul di Jalan Tikala Baru, Manado untuk melakukan peletakan batu pertama rumah cinta kasih Tzu Chi. Sebanyak 7 rumah di wilayah Tikala Baru dibangun ulang setelah rusak diterjang banjir bandang tepat di bulan yang sama pada 2014.

Dua hari sejak banjir bandang terjadi di 2014, relawan Tzu Chi langsung bergerak dari Jakarta menuju Manado. Sejak saat itu perhatian kepada warga Manado seakan tak pernah habis. Berbagai program dilakukan untuk membangkitkan semangat dan keterpurukan warga pasca banjir. Mulai dari kerja bakti bersama, pengobatan gratis, pembagian paket bantuan bencana, pembagian beras cinta kasih Tzu Chi yang berasal dari Taiwan, hingga bantuan pembangunan bagi rumah yang rusak sedang dan berat. Pembagian bantuan yang berkesinambungan ini menunjukan bahwa insan Tzu Chi ingin melihat warga Manado benar-benar pulih dari bencana.

Bantuan rumah cinta kasih ini diberikan setelah melalui beberapa kali survei. Survei yang berulang-ulang dilakukan relawan agar bantuan ini tepat sasaran dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dari keluarga tersebut. Rumah yang rusak sedang hanya dibantu bahan bangunan seperti bata, semen, pasir, kayu, dsb sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan rumah yang kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk diperbaiki, maka relawan membangun ulang rumah tersebut. Sebanyak 7 rumah dibangun kembali oleh relawan dan disesuaikan dengan kebutuhan keluarga yang menempatinya.

Sekitar 70 orang yang terdiri dari relawan hingga warga datang pada kegiatan yang dilaksanakan di Tikala Baru ini.

Sebagian besar rumah sudah mulai dibangun pada Desember 2014, dan kali ini, secara simbolis dilakukan peletakan batu pertama pada rumah keluarga ibu Jabaria Maengkom. Rumah ini telah ditinggalinya sejak 30 tahun lalu bersama dengan suami, anak, serta cucunya.  Setelah terkena banjir, rumahnya menjadi rusak namun biaya menjadi kendala baginya untuk memperbaiki, sehingga mau tak mau ia tetap tinggal di sana.  Ia dan keluarganya pun harus berhati-hati dengan tembok sekitarnya yang sudah mau roboh. Hingga suatu hari relawan datang melakukan survei, ia merasa sangat bersyukur mendapatkan bantuan pembangunan rumah cinta kasih ini. Ia berharap cinta kasih Tzu Chi tidak terputus sampai di sini saja, tapi juga sampai pada orang lain yang membutuhkan seperti dirinya.

Pelopor kepedulian terhadap sesama

Pada acara peletakan batu ini selain dihadiri oleh relawan serta penerima bantuan, dihadiri juga oleh Asisten 1 Sekda Kota Manado, Joshua Pangkerego yang mewakili Walikota Manado yang tidak bisa hadir, M. Sofyan selaku Camat Tikala, serta lurah Tikala Baru Eva Kaunang. Mewakili walikota ia menyampaikan bahwa pembangunan rumah ini adalah wujud kepedulian bagi sesama manusia. Kita semua percaya bahwa hal mengasihi tidaklah mengenal perbedaan warna, agama, religi, dan sebagainya. Manusia adalah makhluk sosial dan hidup hanya bisa bermakna apabila kita mengisinya dengan kepedulian sosial sebagaimana kita mengasihi diri sendiri.

Sebanyak 3 warga menyampaikan kesan-kesan yang mereka dapatkan dari apa yang telah Tzu Chi lakukan selama ini di wilayah mereka

Doa bersama juga dilakukan, sebanyak 3 pemuka agama (Islam, Kristen, dan Buddha) hadir dan mengajak warga untuk berdoa bersama.  Usai itu, sebanyak tiga orang warga maju berbagi kisah tentang apa yang meraka rasakan dari program benah rumah ini. Selain itu, secara simbolis pemerintah memberikan IMB kepada warga dan dilanjutkan dengan peletakan batu dilakukan diiwakili beberapa pejabat pemerintahan dan relawan.

Setelah peletakan batu selesai, dilakukan peninjauan langsung ke tiga rumah yang sedang dalam tahap pembangunan. Melalui kunjungan ini, Joshua Pangkerego, yakin pembangunan rumah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Rumah yang dibangun ini kan, dari sisi komposisi, struktur, dan arsitektur sesuai dengan hasil analisa, menjawab kebutuhan pemilik rumah dan dibangun dengan serius, baik, serta dengan kualitas terbaik, sehingga orang yang berteduh dibawahnya juga dapat menikmati nuasa cinta kasih,” ucapnya. Ia merasakan bahwa terkandung makna dalam bantuan ini, yaitu setelah warga  menerima bantuan ini, mereka juga bisa mempelopori kepedulian terhadap sesama, sehingga ini berlanjut dari satu ke satu dan seterusnya dan makin banyak orang yang mendapat sentuhan cinta kasih.

Kondisi salah satu rumah warga, Nurjanah Taher, setelah terkena banjir.


Keluarga dari Nurjanah Taher mendapatkan bantuan bedah rumah dan saat ini rumahnya sedang dalam tahap pembangunan.

Hal senada juga diungkapkan oleh koordinator Tzu Chi di Manado, yaitu Benny. Relawan yang bergabung dengan Tzu Chi sejak bencana terjadi ini merasa sangat terharu karena ia dapat melihat langsung pembagian bantuan yang berkelanjutan hingga pembangunan rumah. “Dan ini suatu bukti bahwa ini bukan yayasan yang main-main, mereka bekerja dan mewujudkan impian dari segelintir orang yang kurang mampu,” ucapnya. Walaupun banyak kendala  yang dihadapi, namun mereka tetap menjalankannya dengan sukacita, karena mereka berharap warga yang sudah dibantu dapat tinggal dengan layak dan nyaman, serta dapat membagikan cinta kasihnya dengan membantu orang lainnya yang membutuhkan.

 

Artikel dibaca sebanyak : 1431 kali


Berita Terkait


Melengkapi Kebahagiaan

16 Januari 2017

Bebenah Kampung, Sejarah Baru bagi Warga Jagabita

24 Agustus 2016

Rumah Baru untuk Warga Jagabita

25 Juli 2016

"Alhamdulillah, Sekarang Rumahnya Udah Bagus"

01 September 2015

Bebenah Kampung Mengubah Kehidupan

14 Agustus 2012


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat