Jumat, 06 Desember 2019
Indonesia | English

Sanghadana Masa Kathina 2563BE/2019

12 November 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Timur), Fotografer : Arimami Suryo A, Suyanti Samad (He Qi Timur)


Perayaan Sanghadana Kathina 2563BE/2019 dihadiri 123 Bhikkhu/Bhikkhuni yang tergabung dalam Sangha Agung Indonesia (sebagai organisasi Sangha tertua di Indonesia). Kegiatan ini diikuti oleh 1000 umat Buddha dan berlangsung di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

Masa Kathina (Kathina Kala) atau disebut juga Civara Masa adalah ‘bulan jubah’ yang berlangsung satu bulan penuh setelah tiga bulan para anggota Sangha menjalani masa vassa (retreat). Masa Kathina itu dinyatakan setelah anggota Bhikkhu Sangha selesai bervassa. Mereka tinggal di suatu tempat (vihara), melewati musim hujan selama tiga bulan. Di dalam massa vassa itu, para Bhikkhu Sangha melatih diri, memantapkan diri dalam Dhamma Vinaya yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha (Siddhata Gautama), mengajar meditasi, membabarkan Dhamma, dan mengadakan diskusi dengan para umat. Itulah serangkaian kegiatan yang memang merupakan tugas dari para Bhikkhu Sangha. Hanya bedanya, selama tiga bulan tidak meninggalkan tempat, bila tidak ada keperluan Sangha. Namun bila ada keperluan, hanya dibatasi tujuh hari. Masa Vassa 2563BE (Buddhist Era) untuk tahun 2019 dimulai sejak 7 Juli hingga 13 Oktober 2019.

Setelah itu, maka tibalah masa kathina selama satu bulan, (dari tanggal 14 Oktober hingga 13 November 2019), dimana para umat bisa menyampaikan sanghadana di masa kathina ke vihara. Persembahan sanghadana di masa kathina, untuk memenuhi empat kebutuhan pokok para anggota Bhikkhu Sangha, adalah jubah atau kain untuk membuat jubah, tempat tinggal (kuti) atau dana untuk perawatan vihara, obat-obatan, perlengkapan mandi, dan makanan.

Pengertian Pindapata
Kata pindapata berasal dari bahasa Pali yang artinya menerima persembahan makanan. Sedangkan yang disebut patta adalah sejenis mangkok yang digunakan oleh para bhikkhu.

 

Lusi Salim, ketua panitia, juga pengurus Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI), berdiskusi dengan relawan Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin tentang kegiatan Sanghadana Kathina 2563BE/2019 di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

Pindapata dilaksanakan oleh para bhikkhu dengan cara berjalan kaki dengan kepala tertunduk sambil membawa patta/patra (mangkok makanan) untuk menerima (memperoleh) dana makanan dari umat guna menunjang kehidupannya.

Dalam pindapata ini, umat Buddha secara sadar, ikhlas dan semangat berbakti mendanakan persembahan Sanghadana demi membantu kelangsungan kehidupan suci para Bhikkhu Sangha dan melestarikan Buddha Dhamma itu sendiri. Bagi para Bhikkhu Sangha, pindapata ini merupakan cara untuk melatih diri hidup sederhana, belajar menghargai pemberian orang lain dan melatih memenuhi kebutuhan badan jasmani agar tidak cepat sakit ataupun rapuh, bukan untuk kesenangan ataupun mencari kenikmatan. Sedangkan bagi umat Buddha, pindapata ini merupakan ladang yang subur untuk menanam jasa kebajikan, sebab berdana kepada Bhikkhu Sangha yang menjalani kehidupan suci merupakan suatu berkah utama.

Makna Pindapata Masa Kathina 2563BE/2019
“Hari ini, lebih banyak dihadiri oleh Bhikkhu Sangha dari Theravada, 40-an dari Bhikkhu Mahayana, dan 15-an dari Vajrayana,” kata Bhikkhu Nyanasila Thera (38), selaku sekjen Sangha Agung Indonesia. Dalam rangka perayaan Kathina 2563 BE/2019, Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) setiap tahun merayakannya di Prasadha Jinarakkhita, yang terletak di Jalan Puri Kembangan Raya Blok JJ, Kecamatan Kembangan Selatan, Jakarta Barat. “Hanya memang yang momen tahun ini, kami sengaja untuk mencari momen yang di luar, saat pindapata. Biasa tiap tahun, kita lakukan di Prasadha Jinarakkhita. Tahun ini, kita lakukan di daerah PIK, diawali dari Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia ini untuk menjadikan tempat start awal bagi Bhikkhu Sangha dalam melakukan pindapata,” jelas Bhikkhu Nyanasila Thera (38), sambil menambahkan bahwa Sangha Agung Indonesia, merupakan wadah dari tiga tradisi yaitu Theravada, Mahayana dan Vajrayana.


Sebagai perwakilan Tzu Chi, Liu Su Mei, Ketua Tzu Chi Indonesia, turut memberikan sanghadana kepada Bhikkhu Sangha Agung Indonesia.

“Kami sebenarnya ingin mengenalkan kembali tradisi pindapata kepada masyarakat yang memang masa itu menjadi  tradisi bagi para Bhikkhu dalam menerima derma makanan ketika itu. Sekarang kita coba untuk mengenalkan kembali, mengingatkan dan meng-edukasi umat dalam hal melakukan derma kepada Bhikkhu Sangha,” tegas Bhikkhu Nyanasila Thera (38), menjalin kerjasama dengan Tzu Chi Indonesia. Selain merayakan Sanghadana Kathina, “Mendorong umat untuk melakukan kebajikan. Karena kesempatan seperti ini, sangat langka. Yang kebetulan kali ini dihadiri oleh lebih dari 120 Bhikkhu dan Bhikkhuni dari berbagai provinsi di Indonesia. Ini kesempatan yang sangat baik. Mereka bertemu untuk melakukan kebaikan.” tambahnya

Bhikkhu Nyanasila Thera sangat bersyukur, Tzu Chi memberikan tempat bagi Sangha Agung Indonesia untuk singgah sebentar. Insan Tzu Chi bersungguh hati memberikan persembahan dana makan pagi. “Kami sangat berterima kasih sekali. Ini di luar rencana kami semua. Kami bersyukur dengan hubungan yang baik seperti ini, semoga ini akan semakin memperkokoh akan keyakinan kita pada Buddha, Dhamma, dan Sangha,” kata Bhikkhu Nyanasila Thera, yang ditabhiskan menjadi Bhikkhu pada September 2007 di Semarang.


Bhikkhu Nyanasila Thera sangat bersyukur Tzu Chi bisa bekerja sama dengan Sangha Agung Indonesia untuk kegiatan Pindapata.

Dana yang terkumpul dari pindapata, “Untuk yang berupa makanan biasa kita langsung gunakan untuk bakti sosial. Kami biasa bagi kepada pesantren Buddhist dibawah pembinaan kami, bahkan lintas agama juga, setelah ini. Kalau dana berupa uang, kami gunakan untuk kegiatan pembinaan, pelayanan umat Buddha yang ada di Indonesia.” tutupnya.

Lusi Salim (68), ketua panitia pelaksanaan pindapata Sanghadana Kathina mengatakan, “Kita mengimbau Bhikkhu Sangha dan Bhikkhuni seluruh Indonesia harus hadir supaya umat Buddha tahu pindapata bagaimana. Umat Buddha punya KTP beragama Buddha, tetapi tidak mengerti pindapata itu apa? Mengajak umat Buddha untuk bisa berdedikasi, berdana,” jelas Lusi Salim, yang juga pengurus Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI). Selain mengajak umat Buddha belajar berdana di bulan Kathina, ia juga ingin memperkenalkan Sangha Agung Indonesia, sehingga memilih area Pantai Indah Kapuk sebagai lokasi pelaksanaan pindapata di bulan Kathina.

Menjalin Jodoh Baik
Sekitar tiga minggu sebelumnya, setelah spanduk info tentang pindapata dipasang, Lusi Salim meminta bantuan DAAI TV Indonesia untuk meliput kegiatannya. “Setelah itu komunikasi terputus, karena Ibu Lusi Salim, penanggung jawab acara ini, suaminya masuk rumah sakit di Singapura. Baru beberapa hari menjelang acara, kita bisa duduk bersama membahas acara ini,” kata Hong Tjhin, Komite Tzu Chi Indonesia yang juga CEO DAAI TV Indonesia.


Scott Mcrae (58), warga asal United State, seorang guru bahasa Inggris di Narada School, datang bersama istri, mama dan adiknya turut memberikan sanghadana pada pindapata.

Cindy Lie (53), mewakili Tzu Chi mengetahui akan ada acara pindapata sekitar satu minggu yang lalu. Sebelumnya sudah dihubungi antara pihak KBI dengan Hong Tjhin. Melalui Hong Tjhin, baru diinformasikan ke Tzu Chi. “Minggu lalu, kita mengadakan rapat untuk acara pindapata ini, sambil mempersiapkan apa yang harus kita persiapkan dalam menyambut Bhikkhu Sangha,” jelas Cindy Lie (53), relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 1.

Dari pihak KBI meminta lokasi Tzu Chi sebagai tempat persinggahan, dan titik awal pindapata bagi para anggota Bhikkhu Sangha. “Sebelumnya, bulan Oktober 2019 kemarin, pas kita ada pelantikan Komite Tzu Chi di Hualian, Taiwan, Shelly Widjaja, salah satu relawan yang diminta menjadi panitia acara pindapata ini bertanya kepada Master Cheng Yen mengenai hal tersebut. Master Cheng Yen berpesan bahwa kita (relawan) harus baik-baik menyambut dan melayani mereka. Ini adalah wujud hormat kita kepada para Sangha,” terang Cindy Lie. Ini adalah sebuah kesempatan dapat menyambut Bhikkhu Sangha, bisa berkumpul bersama, melakukan doa bersama, membaca paritta dan sutra bersama, dan ditutup dengan pelimpahan jasa, semoga semua makhluk berbahagia, dunia damai dan bebas bencana


Bryan Dominic, guru agama Buddha di Tzu Chi School, sangat senang dapat berpartisipasi dalam acara pindapata ini. Ia juga ditemani oleh siswa-siswinya dari Secondary Tzu Chi School.

Sudah lama Livia Tjin, relawan Komite Tzu Chi tidak lagi mengikuti acara ini. “Dengan adanya acara ini, kita ada kesempatan juga untuk ikut persembahan. Ini juga satu peristiwa yang sangat terharu bagi kita semua. Melihat begitu rapi semuanya. Begitu khidmat suasananya. Melihat relawan begitu antuasias datang bersama-sama menyambut. Ini adalah suatu kesempatan yang sangat bagus, sangat penuh berkah kita semua. Sangat bahagia. Sukacita dalam dhamma,” ucap Livia Tjin (63) sangat bersukacita.

Menaburkan Bibit Kebajikan
Perayaan Sanghadana Kathina 2563BE/2019, Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI), dihadiri 123 Bhikkhu/Bhikkhuni yang tergabung dalam Sangha Agung Indonesia (organisasi Sangha tertua di Indonesia) berlangsung pada hari Sabtu, 9 November 2019 dihadiri 1.000 umat Buddha. Animo masyarakat sangat besar, terutama insan Tzu Chi yang ikut dalam pindapata sangat antusias memberikan Sanghadana. Sejak jam 6 pagi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa memadati jalan raya di depan gedung Tzu Chi Indonesia di sepanjang Jalan Boulevard, Pantai Indah Kapuk (PIK) hingga ke ujung jembatan.

Bryan Dominic (25), seorang guru agama Buddha di Tzu Chi School, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara sangat senang selain bisa memberikan sanghadana, juga pada acara pindapata ini, ia ditemani oleh siswa-siswinya dari Secondary Tzu Chi. “Yang membuat saya makin bahagia, saya bisa mengajak anak-anak didik saya untuk kegiatan pindapata ini. Karena kebanyakan dari mereka adalah pengalaman pertama mereka untuk ikut kegiatan tersebut,” ungkapnya dengan senang. Bryan mengajak sekitar 30 anak didiknya ikut dalam kegiatan ini.


Yuni Chintia, siswi  kelas 11 Tzu Chi School sedang memberikan sanghadana bersama adiknya. Ini adalah hal baru bagi mereka melakukan kebajikan pindapata.

“Berderma secara langsung kepada Bhikkhu Sangha, dimana berdana kepada Bhikkhu merupakan ladang kebajikan yang subur dan merupakan salah satu praktik mengikis keakuan,” tegas Bryan mengartikan pindapata.

Salah satu siswa Tzu Chi School, PIK, Yuni Chintia (16), kelas 11 bersama adiknya, pindapata adalah hal baru bagi mereka dalam melakukan kebajikan. “Perasaannya senang sih, bisa memberikan dana kepada para Bhikkhu. Merasa terharu juga, baru pertama kali lihat, ketemu banyak Bhikkhu-Bhikkhu,” ungkap Yuni Chintia.

Perasaan senang juga dirasakan oleh Scott Mcrae (58), warga asal Amerika yang berprofesi sebagai seorang guru bahasa Inggris di Narada School. Scott datang bersama istri, mama dan adiknya. Mereka turut memberikan sanghadana pada pindapata, “Happy, joyful. The first time here in this city. Before, in Jakarta, in the main road, I don’t know the name road, central Jakarta,” kata Scott Mcrae, yang tahu ada pindapata dari Brenda, istrinya. “Meaning, I know is for giving dana to monks for substantiate,” jelasnya tentang arti pindapata. Baginya pindapata adalah suatu hal yang sangat baik dilakukan, bisa memberikan kebahagiaan bagi semua orang.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 941 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap mulia yang paling sulit ditemukan pada seseorang adalah kesediaan memikul semua tanggung jawab dengan kekuatan yang ada.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat