Senin, 20 Mei 2019
Indonesia | English

Seleksi Calon Penghuni di Kelenteng Dewi Samudera

20 Desember 2005 Jurnalis : Dok. Tzu Chi Indonesia, Fotografer : Dok. Tzu Chi Indonesia

Seiring dengan hampir selesainya pembangunan Perumahan Cinta Kasih Panteriek, Lam Seupeung tahap I sejumlah 230 unit dari total 500 unit, seleksi calon penghuni dilakukan di beberapa tempat, salah satunya dilakukan di Kelenteng Dewi Samudera (Makcopo) Jalan Panglima Polim, Kampung Mulia, Kecamatan Kutalem, Banda Aceh. Para calon penghuni yang diseleksi sebagian besar merupakan warga etnis Tionghoa sebanyak 113 calon, sedangkan jumlah rumah yang diperuntukkan bagi mereka adalah 28 unit rumah.

Malam itu, pukul 20.30 WIB, para relawan memulai melakukan wawancara. Para calon penghuni sebagian besar berasal dari daerah sekitar kelenteng, diantaranya dari Kampung Mulia, Peunayang, Laksana, dan daerah lain. Seleksi di kelenteng ini pertama kali dilakukan tanggal 11 Desember lalu.

Dua pewawancara, Abdul Muis dan Aida, harus benar-benar jeli ketika mengajukan pertanyaan karena hampir semua calon penghuni berusaha memancing rasa iba pewawancara. Terkadang ada orang yang menutupi keadaan ekonominya yang sebetulnya telah pulih dan bahkan termasuk kategori berkecukupan.

"Bapak bekerja sebagai apa?" tanya Abdul Muis kepada seorang calon penerima rumah.
"Jual minyak," jawabnya.
"Di pinggir jalan?"
"Iya"
"Tempat jualannya luasnya berapa Pak?"
"Empat kali dua belas meter," jawab calon penerima rumah tanpa curiga ada yang salah dengan jawabannya.
"Ruko dong, Pak," timpal Abdul Muis

Sang calon penerima rumah pun mengiyakannya dengan malu-malu. Ternyata sang calon penerima tersebut berjualan minyak, bahkan oli di sebuah ruko yang ia sewa. Tentu saja dia bukan orang kekurangan yang pantas mendapat rumah hingga akhirnya ia pun dicoret dari daftar calon yang pantas menerima rumah.

Menurut Abdul Muis, relawan Tzu Chi yang melakukan wawancara, orang-orang yang menjadi prioritas untuk mendapatkan rumah adalah mereka yang menjadi korban tsunami dan memiliki semangat untuk bangkit kembali atau tidak bergantung pada bantuan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang yang mengeluhkan kerajinan orang Aceh.

Di Kelenteng Dewi Samudera sendiri saat ini masih menampung pengungsi sebanyak 9 kepala keluarga (KK). Mereka adalah para warga yang tidak tertampung di kamp-kamp pengungsi. Para pengungsi tersebut berasal dari agama yang berbeda-beda. Ada yang dari Buddha, Katolik, ataupun Islam. Selama ini kebutuhan sehari-hari mereka bergantung pada bantuan dari berbagai pihak, termasuk Tzu Chi yang secara rutin memberikan bantuan sembako sejak 3 hari usai bencana tsunami terjadi. Sebagian dari mereka kini ada yang sudah bekerja.

Di lobi di belakang ruang utama kelenteng, para pengungsi tersebut menggelar triplek seadanya untuk alas tidur. Triplek tersebut digelar berjejer di lantai. Tiap triplek dilengkapi dengan kelambu untuk melindungi diri dari sengatan nyamuk. Pengungsi laki-laki di lantai bawah sedangkan pengungsi perempuan di lantai atas.

Seharusnya semua di kelenteng tersebut terpilih untuk memperoleh rumah, namun 2 KK tidak jadi mendapat jatah rumah karena alasan yang berbeda. Satu keluarga adalah penjaga kelenteng tersebut, sedangkan keluarga yang satu lagi adalah orang yang berkecukupan sehingga tidak masuk dalam kriteria orang yang pantas memperoleh bantuan.

Artikel dibaca sebanyak : 1038 kali


Berita Terkait


Perhatian dan Berkah di Bulan Ramadan

16 Mei 2019

Survei Pembangunan Jembatan di Nias Selatan

16 Mei 2019

Perjuangan Melawan Kanker Kulit

15 Mei 2019

Sayangi Tubuh, Sayangi Lingkungan

10 Mei 2019

Tersalurnya Cinta Kasih ke Pelosok Kota Bengkulu

09 Mei 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kebahagiaan berasal dari kegembiraan yang dirasakan oleh hati, bukan dari kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat