Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Tiada Hari Tanpa Mereka

21 September 2008 Jurnalis : Ivana, Fotografer : Ivana

 
foto

Rudi Santoso, menjelang Lebaran ini bergembira mendapat kesempatan untuk menunjukkan rasa terima kasih pada para petugas kebersihan. Ia belum lama menjadi relawan Tzu Chi dan baru kali ini mengikuti kegiatan seperti ini.

Sudah 7 tahun Suriah menyisir jalan layang dari Grogol hingga Taman Anggrek, Jakarta Barat. Jaraknya kira-kira 2 km. Pagi jam setengah 6, ibu 49 tahun ini sudah siap dengan seragam oranyenya memegang sapu dan pengki. Ia adalah salah seorang petugas kebersihan di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Jam setengah 12, ia pulang untuk istirahat, lalu jam 1 siang berangkat lagi sampai jam 4 sore. Keringatnya seharian ditukar dengan uang Rp 20 ribu, plus uang makan Rp 2 ribu. Kalau tidak bisa bekerja karena sakit, tentu tidak ada juga uang yang masuk. Hampir tidak ada libur. Untuk Lebaran pun seringkali Suriah tetap masuk.

Meski matahari kerap bersinar terik di atas kepalanya sewaktu bertugas, selama ini Suriah selalu genap menjalankan puasa di bulan Ramadan. “Alhamdulillah 7 tahun puasa terus, ampe full. Cuma tarawihnya kadang sudah cape,” katanya sambil tersipu. Anak kedua Suriah, Ari, malah sudah lebih lama bekerja di bagian penyapu jalan. Sekarang Ari dipercaya sebagai koordinator penyapu jalan oleh PT. Samhana Indah, perusahaan swasta yang menjadi mitra pemerintah daerah untuk kebersihan kota di daerah.

Tahun ini, Suriah mendapat tambahan rejeki ketika Jenny Insan terilhami untuk membagi bingkisan kepada para petugas kebersihan. Jenny dan 18 relawan Tzu Chi dari He Qi Utara mengadakan sosialisasi pelestarian lingkungan dan pembagian bingkisan kepada para petugas kebersihan di Kelurahan Jelambar tanggal 21 September 2008. Ada sekitar 130 orang yang seprofesi dengan Suriah di kelurahan tersebut. “Saya liat abang sampah, untuk Lebaran mereka kan butuh sembako apa. Mereka bener-bener membutuhkan. Kita juga butuhkan mereka kan, kalo ngga ada mereka lingkungan kita kan kotor,” Jenny menjelaskan. Bingkisan yang dibagikan terdiri dari gula, minyak, biskuit, mi instan, kotak makan, pakaian, sarung, alat mandi, ember, dan sandal. “Ibu mah senang semua. Cinta semua,” ungkap Suriah tentang barang yang diterimanya dari relawan Tzu Chi.

Bekerja Berbekal Keikhlasan
“Sebetulnya ini termasuk pekerjaan yang mulia ya. Sebenarnya orang kan nggak mau kerja begitu, tapi dia (tukang sampah) rela berkorban,” kata Rudi Santoso, seorang relawan yang ikut membagikan bingkisan. Orang-orang yang melihat mobil sampah atau tukang sampah lewat sudah pasti refleks menutup hidung mereka, menghindari bau busuk sampah. Kadang-kadang ada juga yang memandang jijik pada sampah yang kotor dan jorok. Bagi Saean, itu semua sudah resiko. “Namanya tukang sampah ya begini. Jadi kita nggak merasa risih nggak apa gitu,” ungkapnya.

foto  foto

Ket : - Relawan Tzu Chi mengumpulkan para petugas kebersihan di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat dan
           memberikan sosialisasi tentang daur ulang serta membagi bingkisan Lebaran kepada para pahlawan
           lingkungan ini. (kiri)
         - Di sela-sela jam tugas, Saean (bertopi biru sebelah kanan) datang ke kantor Kelurahan Jelambar,
           Jakarta barat. Meski terkadang pandangan orang terhadap tukang sampah kurang menyenangkan,
           Saean ikhlas menjalani profesinya.(kanan)

Bapak satu anak ini bahkan sudah 10 tahun bertugas di mobil sampah. Ia menyusuri jalan dan rumah di daerah RW 01 sampai RW 06, dan RW 10 Kelurahan Jelambar. Dua belas orang teman sekerjanya bertugas di satu mobil yang sama. “Suka dukanya bagaimana ya, ya kita ikhlas aja sih, soalnya kita dari hati nurani sendiri mau bikin bersih gitu aja, (supaya) Jakarta bersih, gitu aja,” katanya.

Hari Minggu ini pun sesungguhnya Saean sedang bertugas. Ia menyempatkan datang ke kantor kelurahan untuk menukarkan kupon yang diterimanya dengan bingkisan dari Tzu Chi. Karenanya, ia tak bisa tinggal lama, dan harus segera kembali bekerja. Berangkat jam 6 pagi mengangkuti sampah, jam kerja Saean selesai tak menentu. Bisa jadi jam 6 sore baru kelar. “Gimana mau libur, nggak ngambil (sampah) sehari aja sudah numpuk,” kata Saean tentang kesehariannya.

Pentingnya kehadiran Saean dan rekan-rekannya jarang disadari oleh masyarakat. Mereka lebih sering dipandang sebelah mata karena seringnya bergaul dengan sampah yang kotor dan bau. “Mereka mungkin sebetulnya nggak masuk dalam mata kita (jarang kita perhatikan–red) tapi sebetulnya sangat penting,” Rudi mengutarakan. Dan Jenny juga menambahkan, “Jadi orang yang paling kita ‘gan en’ (terima kasih) sebetulnya tukang sampah. Maka kita harus baik sama mereka menurut saya.”

foto  foto

Ket : - Suriah menerima bingkisan dari Tzu Chi yang diserahkan secara simbolis oleh Suhari, Kasusie Kebersihan
           Kelurahan Jelambar. Ibu yang sudah 7 tahun bekerja sebagai penyapu jalan ini bersyukur atas barang apa
           saja yang diterimanya. (kiri)
         - Herman, Wakil Lurah Jelambar, Jakarta Barat menyemangati para petugas kebersihan untuk lebih giat
           bertugas. Dengan lingkungan yang bersih, masyarakat akan lebih sehat menurutnya. (kanan)

Kesadaran Menjaga Kebersihan
Kegiatan pembagian bingkisan ini terbilang singkat. Acara dimulai pukul 09.15 pagi dan selesai pukul 10.00 WIB. Sebelum mulai membagi, Adenan relawan Tzu Chi lebih dulu memberi penjelasan singkat tentang daur ulang. Kesempatan ini dimanfaatkan pula untuk menanamkan kesadaran awal pada para petugas kebersihan tentang memilah sampah dan memanfaatkan kembali sampah yang dapat digunakan. “Bumi, tanaman dan segala isinya pun harus kita hormati, sebab bagaimana akibatnya kita juga yang akan menerima,” Adenan menerangkan.

Wakil Lurah, Herman S.Sos yang sempat hadir juga menyemangati para pasukan oranye ini untuk terus menjaga kebersihan. “Maju dan mundurnya Jakarta ini bergantung pada kebersihannya. Kalau bersih kan kita bisa sehat semua,” seru Herman. Tak lama lagi akan diadakan penilaian untuk penghargaan Adipura, penghargaan yang diberikan negara untuk daerah yang dinilai memiliki tingkat kebersihan baik. Lomba yang diadakan tiap tahun ini diselenggarakan untuk memicu semangat setiap daerah menjaga kebersihan lingkungan mereka. Herman berharap tahun 2008, Jakarta Barat bisa mendapatkan nilai yang tinggi.

Sesungguhnya semua anggota masyarakat bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan mereka masing-masing. “Kesadaran masyarakat kita, saya anggap masih jauh (kurang). Kalo nggak ada petugas kebersihan, nggak kebayang saya (bagaimana jadinya),” ucap Suhari, Kasusie Kebersihan Kelurahan Jelambar. Ia juga menyesalkan banyaknya warga masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan, padahal sudah disediakan tempat sampah. Lagi-lagi kesadaran pelestarian lingkungan masih perlu ditingkatkan demi menyelamatkan bumi dari kerusakan.

 

Artikel dibaca sebanyak : 984 kali


Berita Terkait


Hari Bahagia di Hari Santri

22 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Tzu Ching Power - yang Muda yang Punya Semangat

22 Oktober 2019

DAAI TV Peduli Kaum Difabel

22 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Semarak Pekan Amal Tzu Chi

21 Oktober 2019

Sayuran Hidroponik di Pekan Amal

21 Oktober 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Beramal bukanlah hak khusus orang kaya, melainkan wujud kasih sayang semua orang yang penuh ketulusan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat