Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Who Am I?

15 Agustus 2019 Jurnalis : Tirta Kwan (He Qi Pusat), Fotografer : Suwandi (He Qi Pusat)


Anak-anak asuh dari Komunitas He Qi Pusat (Teratai) menuliskan tentang sifat dan kepribadian mereka dalam selembar kertas.

Bertepatan dengan tahun ajaran baru, Tim Teratai Relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Pusat kembali mengadakan kegiatan gathering penerima bantuan bagi anak-anak asuh Tzu Chi yang berlokasi di Kantor Sekretariat He Qi Pusat, Gedung ITC Mangga Dua, Lantai 6, Jakarta. Kegiatan ini berjalan lancar berkat kekompakan 26 relawan dan 46 anak asuh. Bertemakan Semangat, dimulai dengan perkenalan beberapa murid baru, dan juga penjelasan tentang kewajiban administrasi anak asuh.

Pada kegiatan ini, Tim Teratai mengajak para anak asuh  untuk menonton video Master Cheng Yen Bercerita dengan tema Melatih Diri. Dalam melatih diri, kita harus tahan terhadap kerja keras dan derita. Meski harus bekerja keras, kita tetap harus tahan dan giat bersumbangsih. Jangan karena melihat betapa susahnya melatih diri, lantas kita merasa takut dan tidak berani bersumbangsih. Kita jangan demikian. Apa yang dimaksud melatih diri?  melatih diri berarti menahan sesuatu yang sulit untuk ditahan. Kita harus tahan terhadap cobaan tanpa berkeluh kesah. Inilah praktisi sesungguhnya. Di dalam Sutra ada sebuah kisah Pelatihan diri Surata:

 

Relawan Tzu Chi mengajarkan isyarat tangan shou Yu (Wariskan Sebuah Dunia yang Bersih)kepada 46 anak asuh.

Ada suatu masa di Negeri Sravasti, ajaran Buddha sangat berjaya. Baik raja, menteri, maupun orang berada, semuanya sangat tulus memberi persembahan dan mendengar Dharma. Di antaranya ada seorang pria miskin yang bernama Surata. Ketulusannya terhadap ajaran Buddha melebihi siapapun. Meski dia sendiri hidup kekurangan, tetapi dia sangat gemar membantu sesama. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membantu orang yang hidup sebatang kara, orang yang menderita penyakit dan kurang mampu. Dia mendapat pujian dari banyak orang. Keinginan Surata hanyalah supaya semua makhluk berbahagia.

Gathering ini mendatangkan dua orang pembicara: Ibu Helena selaku HRD Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Ibu Vero. Sebelum memulai gathering, tak lepas dari game yang menarik yang sudah disiapkan oleh pembicara. Ibu Vero memberikan game dengan meminta beberapa anak asuh untuk maju ke depan dan memberikan kata kunci kepada anak asuh lain untuk dapat menebak apa yang sebenarnya kata kunci itu inginkan.

 

Ibu Vero, staf HRD Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengajak anak-anak mengetahui kelebihan dan kekuranga mereka.

Lalu untuk anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) dibawa ke ruangan lain untuk belajar isyarat tangan shou Yu (Wariskan Sebuah Dunia yang Bersih). Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan memberikan selembaran kertas yang berisikan beberapa pertanyaan mengenai Who AM I (Siapkah Saya). Siapakah jati diri anak asuh masing-masing sebenarnya. Apa saja yang menjadi kelebihanku, kekuranganku, cita-citaku, dan kesukaanku itu yang tertulis di selebaran kertas yang diberikan kepada masing-masing anak. Ibu Vero menjelaskan bahwa dengan mengisikan selebaran kertas tersebut, anak-anak akan lebih dapat memikirkan secara langsung dan tidak langsung bagaimana pribadi mereka masing-masing.

Ibu Vero mengatakan terdapat berbagai macam kebiasaan pada pribadi manusia, ada kebiasaan buruk maupun kebiasaan baik yang akan menjadi penghalang atau pendorong kesuksesan diri kita sendiri. Ditambahkannya jika anak-anak tetap berpendirian teguh pada apa yang ingin dituju maka tujuan itu akan tercapai. "Jadi anak-anak harus tetap berpendirian pada prinsip," tegas Ibu Vero.

 

HRD Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Ibu Helena memberikan motivasi kepada anak-anak asuh dari komunitas He Qi Pusat.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Ibu Helena yang memberikan motivasi kepada anak-anak asuh untuk selalu semangat dalam meraih cita-cita.

Di penghujung acara, anak-anak asuh diberikan tugas oleh para  pembicara, dimana mereka diberikan form yang berisikan beberapa pertanyaan dan pernyataan. Form tersebut wajib dikembalikan bulan depan pada acara Gathering Teratai bulan berikutnya.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 193 kali


Berita Terkait


Melindungi Bumi dengan Melestarikan Lingkungan

15 Oktober 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat