Rabu, 12 Desember 2018
Indonesia | English

Wu Liang Yi Jing dalam Pelatihan Relawan Abu Putih

24 Juli 2018 Jurnalis : Lisda, Andreas (He Qi Utara 2), Fotografer : Johnsen Wijaya, Stephen Ang (He Qi Utara 2)


Relawan melakukan pradaksina untuk menyatukan hati dan pikiran selama pelatihan berlangsung.

“Sutra Makna Tanpa Batas sudah ada 25 tahun yang lalu di Tzu Chi Indonesia. Kisah kali Angke telah merekam jejak langkah relawan Tzu Chi menyebarkan cinta kasih dan welas asih kepada sesama. Bagaimana saat itu insan Tzu Chi telah mempraktikkan Sutra Wu Liang Yi Jing,” kata Agus Hartono sebagai moderator sesi talkshow Aliran Jernih dalam Pelatihan Relawan Abu Putih ke-3 He Qi Utara 2 pada Minggu pagi 15 Juli 2018 di Ruang Xi She Ting, Aula JingSi PIK.

“Pada kesempatan ini saya mengundang empat relawan senior yang terlibat dan menjadi bagian saksi hidup kisah Kali Angke untuk mau berbagi pada Shixiong Shijie yang hadir,” tambah Agus.


Livia, relawan Tzu Chi mengajak para peserta training memahami isi dari Sutra Makna Tanpa Batas.

Relawan tersebut adalah Like Hermansyah yang bergabung di Tzu Chi tahun 1998, Hong Tjin  yang bergabung 20 tahun yang lalu, lalu Eko 15 tahun lalu, dan Rhodiah bergabung pada tahun 2004. Dalam talkshow Aliran Jernih, satu persatu relawan mulai mengingat kembali kontribusi mereka di Kali Angke dan menceritakan jejak langkah mereka dalam Wu Liang Yi Jing. Pada Sutra Wu Liang Yi Jing ini ada tiga bab yaitu Bab Sifat Luhur (De Heng Pin), Bab Pembabaran Dharma (Shuo Fa Pin), dan Bab Sepuluh Pahala (Shi Gong De Pin).

Sharing pertama dimulai dari Hong Tjin yang membahas Bab Sifat Luhur yaitu Shan Jie Tuo Feng (membawa angin pembebasan), Chu Shi Re Nao (melenyapkan penderitaaan), Zhi Fa Qing Liang (membawa kesejukan Dharma), Yong Sa Wu Ming (Mencerahkan kegelapan batin), Hong Zhu Da Sheng Run Zi Zhong Sheng (mencurahkan ajaran Mahayana bagi semua Makhluk).


Relawan melihat keteladanan melalui talkshow kisah nyata kasus banjir Kali Angke yang membawa perubahan hidup pada banyak orang.

Hong Tjin bercerita  bahwa di akhir Januari  2002,  banjir besar melanda Jakarta. Hujan terus menerus membuat air tidak kunjung surut. Waktu itu Kantor Tzu Chi Indonesia di Mangga Dua pun ditutup. Tzu Chi  memberi  bantuan  pertama pada penduduk  yang  bermukim  di sekitar  kali  daerah  Mangga Dua. Bantuan yang diberikan berupa 200  nasi bungkus. Bekerja sama dengan TNI, Ketua RW dan relawan bersama-sama menggunakan perahu  mendistribusikan  nasi  bungkus dari rumah ke rumah yang terendam banjir. Bantuan terus berlanjut sampai ke pemukiman warga di Kapuk Muara dan Kali Angke. Pasca banjir, relawan Tzu Chi pulang ke Hualien dan terus menerus menjalin kontak dengan Master Cheng Yen.

“Akhirnya waktu itu ada tiga lokasi pilihan untuk pembersihan kali. Setelah sekian waktu kami mengadakan rapat dan survei, kami melaporkan kepada Master. Master memutuskan memilih Kali Angke,” kata Like sekaligus mengingatkan kepada para relawan yang hadir betapa pentingnya relawan melakukan  berulang kali survei setiap kasus terlebih dahulu. 


Sesi Bedah Buku bertemakan Sutra Makna Tanpa Batas ini juga dapat dilakukan secara interaktif dan diterima oleh semua kalangan.

Master  memilih kali Angke karena  melihat penderitaan warga bermukim ditempat yang kumuh dan tidak layak huni di sepanjang bantaran Kali Angke. Master menganjurkan kepada relawan  melaksanakan program 5P di Kali Angke yaitu pembersihan sampah, pengeringan genangan air, penyemprotan pencegahan penyakit, pengobatan massal, dan pembangunan perumahan).

“Selama proses pembersihan kali ini, relawan turun langsung ke lapangan mengeruk sampah,” kata Hong Tjin sambil menayangkan foto dokumentasi. Contoh ini menginspirasi warga sekitar sehingga mereka tak segan untuk berpartisipasi bersama relawan. 

“Budaya Humanis Tzu Chi pun ditampilkan di sini. Relawan membimbing warga untuk budaya antre setiap pembagian makanan, kalau  dulu mereka saling berebutan siapa cepat dia dapat, malah ada yang berantem,” katanya.


Di kelas isyarat tangan, relawan belajar setiap gerakan tangan dan lirik lagu Sutra Makna Tanpa Batas.

Pada Bab Sifat Luhur, Xiao Liao Fen Bie  Xing Xiang Zhen Shi( Sepenuhnya memahami kebenaran di balik sifat dan ciri segala sesuatu), Eko, guru Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi mengisahkan suatu hari membaca kolom lowongan pekerjaan  di sebuah harian surat kabar  yang isinya Yayasan Budha Tzu Chi  mencari guru agama Islam. “Waktu itu  terlintas di dalam benak  pikiran saya, lowongan  kerja ini  becanda, mencari guru Agama Islam untuk mengajar di sekolah Buddha,” kata Eko yang waktu itu merasa bingung dan merasa penasaran.

Dari rumahnya di Jakarta Selatan, Eko memutuskan pergi berangkat ke Sekolah Tzu Chi di Cengkareng untuk melamar pekerjaan. Di sana baru Eko menyadari kekeliruannya bahwa sekolah Tzu Chi itu ternyata sekolah  lintas agama. Dari ratusan  pelamar calon guru, hanya 36 guru yang  diterima, di antara nya  Eko. Awal mengajar, Eko  mengalami stres berat atas perilaku  anak didiknya pindahan kali Angke yang kurang disiplin. Bersyukur selama di sekolah, dirinya mendapat  pendampingan dari relawan  Tzu Chi. Hasil nya  dalam waktu  tiga  tahun  anak-anak  berubah  menjadi baik dan disiplin.


Di kelas menyanyi, relawan diajarkan bagaimana melatih vokal suara sehingga setiap kata dalam lagu Sutra Makna Tanpa Batas terucap dengan hidmat dan jelas.

Sharing selanjutnya adalah dari Rhodiah warga pindahan Kali Angke di rumah susun Cinta Kasih Tzu Chi. “Bersyukur, Bersyukur,” katanya berulang kali. Ia mengingat masa lalu rumahnya yang kumuh dan tidak layak ditempati. Ekonomi yang kurang membuat Rhodiah tidak pernah memimpikan masa depan yang cerah untuk anak–anaknya bersekolah tinggi. Padahal tujuan hidup nya, Ia ingin anak-anaknya  bersekolah menjadi pintar dan berguna.

“Kini bersama Tzu Chi, impian saya terwujud,” katanya sambil terharu. Menyadari Berkah, Menghargai Berkah dan Menciptakan Berkah, Ia pun bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Karena itu adalah panggilan hatinya maka Ia menyumbangkan seluruh tenaganya  untuk  kebaikan sesama.

Like Hermansyah dalam sharing-nya, ketika warga mendapati program normalisasi Kali Angke dan rencana pemindahan warga kerumah susun, muncul kerisauan di hati warga bagaimana dengan masa depan mereka, bagaimana membayar untuk rumah susun. Di sinilah insan Tzu Chi memberi penyuluhan dan memberi pendampingan pada warga hingga warga makin hari makin yakin dan makin tenang. Like  bersyukur  berjodoh dengan Master Cheng Yen  dan dapat berkontribusi di kali Angke walau  waktu itu tugasnya  cukup berat  dan banyak.


Di kelas menyalin sutra, relawan belajar bagaimana menulis aksara huruf mandarin secara bertahap, sambil memahami makna dari sutra Makna Tanpa Batas.

Sebanyak 169 relawan Tzu Chi dari He Qi Utara 2 yang mengikuti pelatihan relawan ini mendengarkan sharing keempat narasumber dengan seksama. Acara yang berlangsung selama kurang lebih tujuh jam ini dibagi menjadi beberapa sesi. Yakni dimulai dari pengenalan training, pengenalan Sutra Makna Tanpa Batas, dan yang terakhir pembagian kelas sesuai dengan peminatan.

Pada awal sesi, semua relawan yang mengikuti training diberikan pengetahuan mengenai tata krama yang ada di Tzu Chi. Seperti meditasi berjalan (pradaksina), gerakan beranjali, cara memberi penghormatan, tata busana yang seharusnya, hingga tingkah laku kita sebagai relawan. Semua dengan antusias mempraktikan gerakan dasar dan mendengarkan semua penjelasan yang diberikan. Selain itu relawan diajak untuk memahami tujuan sebenarnya mengikuti pelatihan ini. Yakni agar semua sehati dan sejalan sebagai relawan Tzu Chi.

Memasuki sesi kedua, relawan diajak untuk memahami intisari dari Tzu Chi itu sendiri. Tak lain dan tak bukan ialah Sutra Makna Tanpa Batas (Wu Liang Yi Jing). Dengan mengerti  isi dalam sutra tersebut, maka relawan dapat melatih dirinya untuk menjadi seorang yang teladan. Dari keteladanan ini diharapkan relawan mendapatkan kehidupan yang bahagia, dan pada akhirnya menyebarkannya kepada orang lain. Sehingga mereka dapat mengikuti jejak sebagai insan Tzu Chi.

Usai sesi talkshow, acara dilanjutkan dengan makan siang. Semua relawan tampak berbaris rapi dan mengantri menuju ruang makan yang berada di bawah ruangan. Para relawan pun kembali diajak untuk melatih diri dalam bersikap tertib dan teratur. Setelah makan siang selesai, para relawan diperkenalkan dengan kegiatan komunitas, seperti sesi bedah buku, dan tiga kelas yang dibagi sesuai minat masing-masing relawan. Yaitu kelas bahasa isyarat tangan (Shou Yu), kelas menyanyi, dan kelas kaligrafi.

Adapun harapan Amelia Devina, selaku moderator sesi bedah buku ialah agar apa yang sudah didapat dari training, relawan Tzu Chi dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan tindakanlah, perbuatan kita dapat dilihat dan ditiru. Sehingga jika perbuatan baik kita ditiru, kita telah menjadi teladan yang bagai meneteskan embun dalam meredam nafsu duniawi.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 522 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat