Ceramah Master Cheng Yen: Berbuat Baik dan Memupuk Pahala dengan Welas Asih dan Kebijaksanaan


Saya terus mengulas tentang ketidakkekalan. Bisa menjalani hidup dengan aman dan tenteram, kita hendaknya bersyukur dengan tulus dari lubuk hati kita.

Bersyukur setiap waktu bagai melafalkan nama Buddha dengan hati tertulus. Dari waktu yang terus berlalu, kita bisa menyadari kebenaran tentang ketidakkekalan. Tidak kekal berarti berubah-ubah.

Kini bencana alam semakin kerap terjadi karena nafsu keinginan, ketamakan, dan kegelapan batin manusia terus meningkat. Jadi, manusia terus memperparah kerusakan Bumi ini. Memikirkan hal ini, saya sangat khawatir.

Namun, sebagai seorang makhluk awam, saya pernah berpikir, "Saya sudah lanjut usia. Bencana yang terjadi di dunia ini semakin banyak. Namun, dengan usia saya sekarang, tidak lama kemudian, bencana-bencana itu tak lagi berkaitan dengan saya."

Akan tetapi, setelah merenung dengan saksama, saya menyadari bahwa pada akhirnya, saya akan kembali ke dunia ini. Pada saat itu, saya tetap akan merasakan bagaimana kondisi dunia ini. Apakah banyak orang yang mengungsi?

Akibat ketidakselarasan pikiran manusia, bencana akibat ulah manusia dan bencana alam akan semakin kerap terjadi. Apa yang bisa kita lakukan? Saya tetap harus mengingatkan kalian bahwa kita harus berani, menumbuhkan cinta kasih dan welas asih, serta mengerahkan kekuatan kita.


Jangan membiarkan usia menghalangi kita. Pikirkanlah bagaimana agar kita bisa bersumbangsih, menganalisis kondisi dunia saat ini, dan menyebarkan kebaikan.

Kita harus menggenggam setiap waktu untuk bersumbangsih sekuat tenaga. Jangan membiarkan waktu berlalu sia-sia. Kita hendaklah menggenggam setiap detik. Sungguh, saya bersyukur setiap hari. Asalkan masih memiliki kekuatan dan bisa menganalisis kondisi dunia ini, saya akan menggenggam waktu untuk mengimbau orang-orang.

Pada zaman sekarang, selain alam yang tengah melakukan perlawanan, juga ada arwah hewan yang menuntut balas. Penyakit masuk melalui mulut karena manusia menyembelih hewan untuk dikonsumsi.

Demi cita rasa makanan yang hanya dirasakan beberapa detik di lidah, manusia telah menelan banyak nyawa hewan. Mari kita menenangkan pikiran kita untuk memikirkan berapa banyak hewan yang telah kita konsumsi.

Semua makhluk hidup mengalami kelahiran kembali. Jika tidak berbuat baik dan memupuk pahala, kita mungkin akan terlahir di alam binatang di kehidupan berikutnya.


Hari itu, saya melihat beberapa bhiksuni Griya Jing Si membawa seekor ayam yang sangat kecil, tetapi sangat cantik. Saya bertanya mengapa mereka menangkap ayam itu dan mereka menjawab bahwa mereka menemukannya di jalan.

Mereka memelihara dan merawatnya, bahkan memberinya teh herbal Jing Si. Awalnya, ayam itu terlihat sakit. Namun, saat ditunjukkan pada saya, ayam yang memang berukuran kecil itu terlihat sangat cantik. Bulunya sangat indah.

Ayam ini juga merupakan makhluk hidup. Tegakah kita mengonsumsi hewan yang menggemaskan ini? Orang-orang selalu menutup mata terhadap hal ini karena tamak akan cita rasa daging. Karena itulah, kini setiap orang harus mengenakan masker.

Pandemi Covid-19 mendatangkan pelajaran besar. Kapan kita bisa terbebas dari masker? Saat semua orang tersadarkan dan bertobat. Kita harus menyadari kebenaran dan memahami bahwa perkara makan sangatlah krusial.

Untuk bertahan hidup, manusia perlu makan. Perkara makan sangatlah krusial bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, perkara makan yang krusial ini telah mendatangkan malapetaka bagi dunia ini. Singkat kata, manusia sungguh harus tersadarkan.

Kita bisa melihat banyak bencana yang terjadi di seluruh dunia akibat ketidakselarasan unsur tanah, air, api, dan angin. Lewat siaran berita, kita bisa mengetahui semua itu. Dari sini bisa diketahui bahwa pola hidup manusia telah menimbulkan pencemaran lingkungan dan membuat iklim menjadi tidak selaras.


Kini alam tengah melakukan perlawanan. Ini karena manusia terus melukai alam dalam jangka panjang. Kini temperatur Bumi terus meningkat dan cuaca sangat panas. Air tanah juga terus berkurang hingga terjadi krisis air. Karena itu, kita harus bertobat dan bersungguh hati setiap waktu dalam kehidupan sehari-hari.

Kita hendaknya memahami bahwa segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari kita berkaitan dengan kita. Jangan mengira bahwa hal-hal yang terjadi di dunia ini tidak berkaitan dengan kita.

Sesungguhnya, segala sesuatu di dunia ini berkaitan dengan kita. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus bersungguh hati menggenggam kehidupan dan waktu yang ada untuk membawa manfaat bagi dunia dan bersumbangsih dengan kekuatan cinta kasih.

Jadi, setiap orang mampu berbuat baik. Dengan bertutur kata baik dan berbuat baik, kita bisa terus memupuk kebaikan. Jika kita menyimpang sedikit saja, baik membangkitkan pikiran buruk maupun melakukan perbuatan keliru, keburukan akan terus bertumbuh. Intinya, kita harus menggenggam waktu yang ada.

Saya sangat bersyukur kita semua mempelajari Dharma. Mari kita bersungguh-sungguh mendalami Dharma dan menggenggam kehidupan untuk lebih banyak berbuat baik dan menciptakan berkah agar dunia damai dan tenteram.  

Menyadari kebenaran tentang penderitaan, kekosongan, dan ketidakkekalan
Bersyukur setiap waktu bagai melafalkan nama Buddha
Menumbuhkan cinta kasih dan welas asih dengan berani
Berbuat baik dan memupuk pahala dengan melindungi kehidupan       
  
Ceramah Master Cheng Yen tanggal 09 September 2021
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Devi
Ditayangkan tanggal 11 September 2021
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -