Selasa, 21 Mei 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Giat Melatih Diri di Tengah Ketidakkekalan Hidup

“Kita tahu bahwa Siklon Idai yang melanda 3 negara di Afrika Timur telah menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan anak-anak tidak dapat bersekolah. Berhubung hari ini adalah hari pelatihan, maka akan ada banyak orang yang datang. Saya berharap cinta kasih yang dihimpun tetes demi tetes dapat membantu para korban bencana,” ujar Lin Mei-li, relawan Tzu Chi. 

“Master dengan welas asih mengimbau kita, selain tekun dan bersemangat, kita juga harus menggunakan berbagai cara untuk menghimpun cinta kasih semua orang,” tutur Ji Yu-qin, relawan Tzu Chi.

 

“Saya merasa sedih setelah mendengar ceramah Master Cheng Yen hari ini karena saya telah melihat bagaimana sumbangsih kakak-kakak di Afrika pascabencana. Mereka membutuhkan dukungan dan doa dari kita. Saya berharap kita dapat membantu mereka,” ujar Kristelle Ferrir, relawan Tzu Chi.

“Setelah melihat begitu banyak penderitaan, kita harus menyadari berkah. Kita harus menggalang cinta kasih dan mengirimkannya ke Afrika untuk membantu para korban bencana,” kata Tang Jia-bin, relawan Tzu Chi.

Dalam melatih diri, kita harus menjalankan praktik sesuai ajaran Buddha. Kita harus belajar bagaimana memperluas hati kita, mengasihi semua makhluk, tidak melekat pada keakuan, dan tidak mementingkan diri sendiri. Dengan memperluas kekuatan cinta kasih, kita dapat merangkul semua yang ada di alam semesta dan merasa damai.

 

Kita harus membimbing diri sendiri, setelah membimbing diri sendiri, harus kita sadarkan diri sendiri. Setelah sadar, kita harus berbagi Dharma dengan orang lain agar semua orang dapat sepenuhnya memahaminya. Ajaran Buddha mengajarkan kepada kita bahwa semua orang memiliki hakikat kebuddhaan dan bisa kembali ke sifat hakiki yang murni. Ini bisa dicapai, tetapi bergantung apakah kita bisa menyadari dan bersedia menerima ajaran Buddha.

Semua orang memiliki sifat hakiki yang murni. Namun, dalam proses mempelajari ajaran Buddha, kita masih harus terus berjalan maju ke tingkat berikutnya dan jangan berhenti di tengah jalan. Ini seperti memanjat menara. Ketika kita naik satu tingkat, mereka yang mengikuti kita akan naik satu tingkat juga. Kita dapat membantu satu sama lain untuk memanjat bersama atau kita sendiri memanjat sampai ke puncak tanpa istirahat dan melihat pemandangan, lalu turun lagi untuk membantu orang lain naik ke atas. Seperti inilah kita membimbing diri sendiri dan orang lain.

“Warga bersama saya menggalakkan celengan beras. Awalnya ada 16 orang, kini sudah bertambah hingga 50 orang,” ujar U Mya Aye, seorang petani.


“Saya tersentuh karena U Mya Aye berbagi tentang dia berbuat kebajikan setiap hari. Dia selalu berdoa bagi orang kurang mampu. Saya menyisihkan uang untuk donasi dan berbagi ide ini dengan ibu saya. Ibu saya juga sudah mendapat sebuah celengan bambu,” terang U Han Myo Aung, Sektretaris tim misi amal.

“Meski kesehatan saya kurang baik, tetapi saya juga ingin seperti orang lain dan ingin berkontribusi sendiri. Kesehatan saya tidak menghalangi saya untuk berbuat kebajikan. Saya juga berharap dapat membantu orang kurang mampu,” kata Daw Aye Myint, seorang warga.

Dalam menapaki Jalan Bodhisatwa, kita harus membimbing satu orang demi satu orang. Kita harus mengasihi dan menghargai kehidupan diri sendiri serta melakukan hal-hal yang bermakna dengan hidup kita, yaitu mengasihi orang lain. Kita harus menjalani kehidupan yang bernilai. Ini disebut mengasihi diri sendiri.

Kita jangan membiarkan hari-hari berlalu begitu saja. Jika membiarkan hari-hari berlalu begitu saja, kita tidak tahu hari apa yang telah kita lewati. Apa tujuan kita datang ke dunia? Kita datang ke dunia untuk mengasihi orang lain, Inilah tujuan kita. Setelah memahami Dharma, kita harus terjun ke tengah masyarakat.

 

Mengapa harus terjun ke tengah masyarakat? Ketika kita mengasihi diri sendiri, memanfaatkan kehidupan, dan mengetahui bahwa banyak makhluk hidup yang membutuhkan bantuan kita, kita akan tahu bahwa hidup kita sangat berharga. Setiap hari dan setiap saat, kita mengasihi diri sendiri demi mengasihi semua makhluk.

Dengan mengasihi diri sendiri, kita akan merasa sukacita ketika mengasihi orang lain. Kita harus bersumbangsih tanpa pamrih. Meski harus bekerja keras, kita melakukannya dengan sukarela dan merasa sangat damai karena semua makhluk telah terselamatkan. Ketika orang-orang menderita, kita berusaha sebisa mungkin untuk membantu mereka.

Setelah mengatasi kesulitan mereka, kita akan merasa damai dan dipenuhi sukacita. Seperti inilah kita mengasihi diri sendiri dan orang lain, dipenuhi rasa damai dan sukacita. Namun, kita harus ingat bahwa kehidupan tidaklah kekal. Kita harus benar-benar sadar bahwa kehidupan tidaklah kekal. Kita tidak tahu kapan kita akan meninggal.

 

Sebagai praktisi Buddhis, kita tahu tentang kelahiran kembali. Jika kita tidak mengingatkan diri sendiri untuk mengubah tabiat buruk kita dan tetap membawa tabiat buruk orang awam, bagaimana bisa disebut melatih diri? Jadi, kita harus mengingatkan diri sendiri untuk belajar memahami Jalan Agung. 

Kita harus tahu bahwa ketika ketidakkekalan datang, jika tak hati-hati menjaga pikiran kita, kita akan tetap berada dalam siklus kelahiran kembali di enam alam. Itu sudah di luar kendali kita. Jika demikian, kita tidak akan bebas dan damai. Bagaimana bisa kita membiarkan kerisauan seperti itu mengganggu pikiran kita? Kita harus membebaskan diri dari kerisauan seperti itu.

Datang ke dunia ini, kita harus menerima fase lahir, tua, sakit, dan mati dengan damai. Kita harus berusaha untuk menjaga pikiran kita dan sering berinteraksi dengan orang lain agar orang lain tidak akan mengatakan bahwa kita sudah pikun. Berhubung kita sudah menua, banyak fungsi tubuh kita yang melemah. Jadi, kita perlu memperkuat tubuh kita. Ketika terjun ke tengah masyarakat, kita harus melakukan perenungan dengan sungguh-sungguh.

 

Di dalam masyarakat, ada banyak perbuatan baik yang harus kita lakukan. Kita harus mendedikasikan diri dengan tindakan nyata dan mengerahkan semangat kita. Kita jangan berhenti untuk berjalan di jalan yang benar. Dengan demikian, barulah kita tidak akan pikun ketika kita tua. Dalam kehidupan kita, kita akan mengalami fase tua, sakit, dan mati. Kita semua berada dalam siklus kelahiran dan kematian. Kita belum melampauinya. Kita harus menjaga pikiran kita dengan baik.

Bagaimana kita menjaga pikiran kita dengan baik? Kita harus senantiasa membangun niat baik untuk terjun ke tengah masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, barulah kita bisa tetap positif dan berjalan di arah yang benar  tanpa menyimpang. Ini adalah sesuatu yang harus diperhatikan oleh orang lanjut usia. Jangan menjauh dari kelompok orang baik dan jangan melepaskan hak kita untuk melakukan perbuatan baik. Hal yang benar, lakukan saja. Kita semua harus lebih bersungguh hati setiap saat.

 

Saling membimbing untuk berjalan di Jalan Buddha

Mengasihi diri sendiri dan orang lain demi kembali pada sifat hakiki yang murni

Giat melatih diri di tengah ketidakkekalan hidup

Berbuat kebajikan dan bersumbangsih tanpa henti

 

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 5 Mei 2019

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Li Lie, Marlina

Ditayangkan tanggal 7 Mei 2019


Artikel dibaca sebanyak : 84 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat