Senin, 25 Mei 2020
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Jalinan Jodoh Guru dan Murid di Jalan Sutra Teratai

Pada hari itu kita sangat gembira. Insan Tzu Chi di seluruh dunia bersama-sama memperingati Hari Kelahiran Buddha.

Ya, lebih dari dua ribu tahun yang lalu, seorang Yang Mahasadar muncul di dunia. Di dunia ini, Beliau melihat penderitaan. Penderitaan ini senantiasa berkutat dalam pikiran-Nya dan membangkitkan welas asih-Nya.  Beliau selalu memikirkan penderitaan semua makhluk.

Mulanya Beliau adalah seorang pangeran muda yang menikmati kemewahan istana. Saat mata-Nya melihat penderitaan, Beliau selalu mengingatnya di dalam hati. Batin-Nya penuh dengan welas asih. Jadi, Beliau memikirkan cara untuk melenyapkan penderitaan semua makhluk. Begitulah Buddha, demi membebaskan semua makhluk dari penderitaan, sejak muda Beliau terus melakukan pencarian mengenai asal penderitaan semua makhluk. Bukan hanya penderitaan akibat kemiskinan, ada pula penderitaan akibat penyakit dan lainnya.

Penyakit adalah bagian dari hukum alam. Manusia tidak luput dari penyakit. Kaya ataupun miskin, manusia yang dilahirkan dan memiliki tubuh pasti bisa jatuh sakit. Melihat orang tua, welas asih dalam hati-Nya bangkit. Beliau bertanya-tanya apakah diri-Nya juga harus mengalami usia tua. Beliau semakin merasa bahwa kehidupan penuh penderitaan. Berikutnya, Beliau melihat kematian. Itu juga merupakan penderitaan.

 

Buddha membabarkan banyak kebenaran bagi kita. Kita hendaknya menenangkan batin untuk sungguh-sungguh merenungkan tentang karma kolektif semua makhluk yang Buddha katakan. Buddha mengajarkan kepada kita berbagai cara untuk menciptakan berkah. Dengan menciptakan berkah, kita akan memperoleh buah karma baik.

Beberapa puluh tahun ini, saya selalu berterima kasih kepada para insan Tzu Chi. Belakangan ini saya sering mengatakan bahwa hati saya senantiasa diliputi rasa syukur karena tanpa insan Tzu Chi, tiada Tzu Chi hari ini. Tanpa manusia, tiada yang melakukan sesuatu. Ada sesuatu yang dilakukan, baru disebut Tzu Chi. Tzu Chi adalah ladang untuk menciptakan berkah. Ini karena ada orang yang bersumbangsih sedikit demi sedikit hingga kini orang yang bersumbangsih semakin banyak.

Hingga kini, lebih dari lima puluh tahun telah berlalu. Pada hari Minggu yang lalu, saya melihat di RS Tzu Chi Taipei ada sekelompok anggota Tzu Cheng dan komite yang menunjukkan keindahan. Para relawan ini telah bersumbangsih sejak dua atau tiga puluh tahun lalu.


Tzu Chi telah berusia lebih dari 50 tahun. Tzu Chi di Taipei dimulai sekitar 40-an tahun lalu. Kini saya melihat kembali orang-orang yang saat itu bertemu dengan saya dan mendukung saya menjalankan Tzu Chi. Mereka menyumbangkan uang dan tenaga. Berbagai jerih payah dan keringat mereka keluarkan untuk menjalankan berbagai hal besar ataupun kecil hingga rumah sakit yang megah di Taipei terwujud. Mereka terlebih dahulu membantu saya menjalankan misi Tzu Chi, kemudian membantu saya membangun rumah sakit.

Saya sungguh melihat perkembangan orang-orang ini sejak muda hingga lanjut usia. Mereka semua kini telah berambut putih. Melihat mereka, saya bagaikan becermin. Ya, usia semua orang menua seiring waktu. Kehidupan setiap orang juga tergerus oleh waktu. Begitu juga dengan wujud. Sesungguhnya, tiada wujud yang tetap. Kapankah kita menua? Kapankah uban mulai menggantikan rambut hitam?

Rambut hitam telah tiada dan digantikan oleh uban ditambah keriput di wajah. Namun, ada satu yang tidak berubah, yakni cinta kasih yang tulus. Mereka sangat dekat di hati saya sampai sekarang. Saya sangat bersyukur atas hal ini. Mereka juga sangat berbakti. Mereka menghargai jalinan jodoh guru dan murid ini. Mereka juga sangat menghormati saya. Sungguh, jika memikirkan ini, hati saya dipenuhi kehangatan dan kedekatan. Saya sangat terharu dan bersyukur. Intinya, beruntung ada Tzu Chi.


Di dunia ini, insan Tzu Chi mempraktikkan Jalan Bodhisatwa di tengah masyarakat. Inilah ajaran Buddha. Buddha datang ke dunia demi satu tujuan mulia, yakni mengajarkan praktik Bodhisatwa. Bolehkah saya tidak mewariskan Dharma ini? Bagaimanapun, hingga tarikan napas terakhir, saya tetap harus membabarkan dan mewariskannya. Seperti yang dikatakan dalam Sutra Bunga Teratai, alangkah baiknya jika Dharma ini bisa diwariskan hingga orang ke-50. Artinya, bisakah Dharma ini terus diwariskan hingga 50 generasi?

Namun, saya yakin, jika setiap orang pada generasi ini mewariskannya, pada kehidupan mendatang saya bisa menerimanya kembali. Saya berharap kita semua berikrar untuk saling mengikuti dari kehidupan ke kehidupan. Jadi, jalinan jodoh antara guru dan murid ini tidak hanya ada pada kehidupan sekarang, melainkan juga pada kehidupan selanjutnya. Kita berani berikrar seperti ini karena arah kita tidak menyimpang sedikit pun.

Saya dengan yakin mengatakan kepada kalian bahwa jalan Tzu Chi saya buka sebagai perwujudan setiap kata dari Sutra. Jalan ini adalah jalan yang berlandaskan Sutra Teratai.

Buddha berwelas asih terhadap penderitaan semua makhluk
Insan Tzu Chi bersumbangsih di tengah masyarakat
Jalinan jodoh antara guru dan murid sangat dalam dan tak terbatas
Mengikat janji untuk bertemu di jalan Sutra Bunga Teratai

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 15 Mei 2020     
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Stella
Ditayangkan tanggal 17 Mei 2020     

Artikel dibaca sebanyak : 217 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Umur kita akan terus berkurang, sedangkan jiwa kebijaksanaan kita justru akan terus bertambah seiring perjalanan waktu.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat