Senin, 18 November 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Kuntum-kuntum Teratai Menghasilkan Benih Tak Terhingga

Mendengar murid-murid saya menyerap ajaran saya ke dalam hati, saya sangat tersentuh. Kalian bersungguh hati mempraktikkan ajaran yang kalian dengar. Kalian bukan berbuat sesuka hati, melainkan mempraktikkan apa yang saya ajarkan. Saya merasa sangat tenang. Jalinan jodoh membuat hati kita dekat satu sama lain. Satu-satunya yang saya khawatirkan ialah jiwa kebijaksanaan murid-murid saya bertumbuh atau tidak. Saat jiwa kebijaksanaan bertumbuh, kalian bisa menginspirasi orang-orang yang tak terhingga.

Misi Tzu Chi telah dijalankan di dunia selama lebih dari setengah abad, tepatnya hampir 54 tahun. Kelak Tzu Chi masih akan melalui setengah abad yang tak terhingga. Dengan hati Bodhisatwa, relawan kita terjun ke tengah masyarakat untuk bersumbangsih. Buddha mengajarkan kita untuk menjalankan praktik Bodhisatwa. Kini kita bisa melihat insan Tzu Chi membawa manfaat bagi orang lain dengan cinta kasih tanpa memandang jalinan jodoh.

Saya juga melihat seorang relawan yang tersentuh karena orang lain terbebas dari penderitaan. Relawan itu terus meneteskan air mata saat bercerita. Tzu Chi menggunakan waktu yang lama untuk membantu seorang anak dengan kelainan bentuk kaki memperbaiki bentuk kakinya. Dia bercerita sambil menangis. Awalnya, saya mengira bahwa dia memiliki hubungan dengan anak itu. Ternyata, mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Banyaknya insan Tzu Chi yang bersumbangsih bagi anak itu membuat saya sangat tersentuh.

 

Saya juga mendengar tentang bunga melati. Bunga-bunga yang memiliki jalinan jodoh akan dipetik dan dijadikan persembahan bagi Buddha.

“Di depan rumah saya ditanam banyak bunga melati. Saya selalu memetik bunganya dan menaruhnya di botol untuk dipersembahkan kepada Buddha. Namun, suatu kali, mekar lebih dari 40 kuntum bunga melati yang sangat wangi. Saya juga menaruhnya di dalam satu botol, tetapi botol itu hanya bisa memuat 30-an kuntum bunga. Jadi, masih ada belasan kuntum bunga yang belum dipetik. Tiba-tiba, saya memahami pentingnya menjalin jodoh baik dengan orang-orang. Bunga-bunga yang saya petik memiliki jalinan jodoh untuk dipersembahkan kepada Buddha. Bunga-bunga lain tidak dipetik bukan karena tidak indah. Itu juga bunga melati. Karena jalinan jodoh, ada sebagian yang saya petik dan sebagian tidak saya petik,” kata Liu Yu-jun, relawan Tzu Chi Malaysia, “begitu pula dengan manusia. Kita bisa mengenal ajaran Buddha dan bertemu dengan guru yang bijaksana. Jadi, saya sungguh sangat menghargai jalinan jodoh yang membimbing saya bergabung dengan Tzu Chi dan bertemu dengan Master Cheng Yen.” .

Dari sebatang bunga melati, berapa kuntum bunganya yang memiliki jalinan jodoh untuk dipersembahkan kepada Buddha? Tidak banyak. Begitu pula dengan orang yang mendengar Dharma. Dengan populasi dunia yang telah melebihi 7 miliar, sungguh tidak mudah bagi seseorang untuk mendengar Dharma.

 

Saya ingin mengingatkan kalian bahwa meski kita sangat kompak, tetapi dalam keseharian, kita juga harus mendengar Dharma. Hanya Dharma yang bisa membangkitkan ketulusan. Saat kalian mendengar Dharma, Dharma bagaikan semerbak melati yang meresap ke dalam hati kalian. Dengan demikian, kita bisa meningkatkan kualitas diri dari makhluk awam menjadi Bodhisatwa. Saat kualitas diri kita sempurna, barulah kita bisa mencapai Kebuddhaan. Dengan mendengar Dharma, kita baru bisa menapaki Jalan Bodhisatwa.

Jadi, untuk mencapai Kebuddhaan, kita sebagai makhluk awam harus menapaki Jalan Bodhisatwa. Tanpa menapaki Jalan Bodhisatwa, kita tidak bisa mencapai kesadaran agung Buddha. Meski perjalanan ini sangat panjang, tetapi jika kita tidak melangkah, kita akan selamanya berada di tataran makhluk awam. Contohnya tikus putih yang terus berlari di dalam roda di kandang. Ia sangat sibuk dan terus berlari, tetapi tetap berada di sana. Makhluk awam juga sangat bekerja keras demi menghidupi keluarga dan mengejar kariernya. Demi cinta, ketenaran, dan keuntungan, mereka sibuk sepanjang hidup mereka. Noda dan kegelapan batin juga terus terakumulasi dari kehidupan ke kehidupan. Jadi, kita perlu membasahi ladang batin kita dengan Dharma.


Di kehidupan sekarang, kita telah mempelajari Dharma dan mempraktikkannya di Tzu Chi. Dengan mempraktikkan ajaran Jing Si, kita bisa menjalankan Misi Tzu Chi di seluruh dunia. Kita telah mengadakan upacara peletakan batu pertama untuk sekolah biarawati di Meksiko. Meksiko diguncang gempa dahsyat dua tahun yang lalu. Berhubung para biarawati kekurangan dana, kita pun membantu pembangunan kembali sekolah biarawati tersebut. Dalam upacara peletakan batu pertama, sang arsitek tersentuh hingga menangis. Dia sangat tersentuh melihat antarumat beragama dapat saling mengasihi, saling bersyukur, dan saling menghormati. Yang dibutuhkan di dunia ini ialah cinta kasih dan niat membawa manfaat bagi sesama dengan cinta kasih dan welas asih.

Dalam perjalanan saya kali ini, insan Tzu Chi dari 20-an negara dan wilayah berkumpul untuk mengikuti pelatihan. Para relawan senior juga tetap tekun dan bersemangat melatih diri. Semoga kalian bisa membawa Dharma ke negara tempat tinggal masing-masing dan menggenggam jalinan jodoh untuk menumbuhkan benih yang tak terhingga, bagai kuntum-kuntum teratai yang menghasilkan benih tak terhingga.

Kita pernah membentangkan jalan, membuka jalan, dan membangun jembatan. Kita harus tetap bekerja keras untuk membentangkan jalan dan memperluas jalan di berbagai negara. Selain membentangkan jalan, kita juga harus membangun jembatan agar semua jalan bisa terhubung. Semoga semua orang bisa pulang ke negara masing-masing dengan membawa praktik Bodhisatwa dan berbagi dengan orang-orang. Satu benih bisa bertumbuh menjadi tak terhingga, yang tak terhingga berawal dari sebersit niat.

Menghirup keharuman Dharma untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan
Berpegang pada tekad guru dalam melakukan praktik nyata
Kuntum-kuntum teratai menghasilkan benih yang tak terhingga
Membawa manfaat bagi masyarakat dengan cinta kasih dan welas asih

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 04 Juli 2019
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 6 Juli 2019


Artikel dibaca sebanyak : 55 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang bijak dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kondisi yang diperlukan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat