Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Melangkah di Jalan Benar Sesuai Dharma

Saya melihat dan mendengar gambaran Bodhisatwa di mana-mana. Bagi saya, mereka datang dari berbagai arah dan muncul dari dalam bumi. Setiap orang memiliki  Stupa Puncak Burung Nasar di hatinya.

Sungguh, Bodhisatwa  berasal dari “kediaman para Buddha” atau hati Buddha. Setiap orang memiliki hati Buddha. Akan kita bawa ke mana hati Buddha ini?

Kita membawanya ke daerah  yang penuh makhluk menderita karena kita telah berikrar dengan hati Buddha. Kita berikrar untuk terjun ke tengah masyarakat dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Bodhisatwa dunia ditakdirkan  untuk menolong makhluk menderita. Sungguh, banyak makhluk yang menderita di dunia. Saat saya berkedip, ketika saya menutup mata, gambaran makhluk menderita muncul di benak saya. Saat menutup mata, saya melihat neraka.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Buddha memahami penderitaan manusia di bumi. Buddha menetapkan arah hidup-Nya, yaitu menemukan kebenaran hidup dan menemukan cara untuk lepas dari penderitaan. Penderitaan bukan disebabkan oleh  Kekurangan dari sisi materi, melainkan kekurangan dari sisi batin. Walau seseorang kaya secara materi, dia tetap bisa menderita dalam kekayaannya. Penderitaan yang dialaminya ialah merasa kurang sembilan saat memiliki satu. Pada akhirnya, manusia meninggal tanpa membawa apa pun.

 

Lihatlah tanah atau tempat yang pernah kita datangi. Sudahkah kita menabur benih di sana meski hanya sebutir benih rumput, benih bunga, atau benih pohon? Mungkin kita telah menebar benih rumput dan bunga kecil, tetapi belum menebar benih pohon besar yang dapat tumbuh menjadi tak terhingga. Mungkin pada masa lalu kita berkesempatan dan telah menebar sebutir benih yang dapat tumbuh menjadi tak terhingga.

Lihatlah, saat ini, ada lebih dari 4.000 relawan di sini. Para Tzu Cheng dan anggota komite duduk rapi di Aula Jing Si Xindian. Sungguh indah. Tidak hanya terlihat indah, yang terpenting ialah kita dapat bersatu hati. Kesatuan hati ini memancarkan keindahan. Bersatu hati tidak cukup jika hanya diucapkan saja. Kita juga harus harmonis. Dengan kesatuan hati dan keharmonisan, saat kita bertepuk tangan bersama, ribuan tangan pun akan menghasilkan satu suara yang seirama dan nyaring. Dengan kesatuan hati dan keharmonisan ini, apa yang ingin kita lakukan?


Kita saling mengasihi. Kita saling berjanji untuk memiliki arah yang sama, yaitu Jalan Bodhisatwa. Kita perlu menghimpun kekuatan bersama. Dalam aksara Tionghoa, “gotong royong” atau “Xie Li” terdiri atas dua huruf  yang mengandung empat aksara “kekuatan”, tiga pada hurud “Xie” dan satu pada huruf “Li”.

Gotong royong membutuhkan keharmonisan. Apabila kita berkumpul tanpa keharmonisan maka akan terjadi kekacauan. Ada banyak penderitaan di dunia. Kerusakan akibat bencana alam lebih mudah dipulihkan, tetapi kerusakan akibat ulah manusia sangat menakutkan.

Lihatlah, dunia ini sudah tidak sehat lagi. Tanah ini sudah rapuh. Banyak gunung, sungai, dan tanah telah tercemar. Bumi kita sudah tidak sehat lagi. Sesungguhnya, akibat bumi yang tidak sehat, makhluk hidup juga menderita. Kita hidup di alam ini dan turut merasakan seluruh pergerakan udara yang terjadi. Yang dapat kita lakukan sekarang ialah menyucikan hati manusia dan menyayangi alam.

Bodhisatwa adalah makhluk yang berani untuk melangkah maju, seperti nakhoda yang digambarkan dalam Sutra Makna Tanpa Batas, yang menyeberangkan orang banyak  ke pantai seberang.


Bodhisatwa sekalian, saya berharap setelah dilantik, kalian tidak merasa telah melaksanakan banyak Misi Tzu Chi dan merasa tugas kalian telah selesai. Bukan seperti itu. Hari ini kalian mendapat pengakuan bahwa kalian telah menuju arah yang benar dan menjadi insan Tzu Chi yang dapat memikul tanggung jawab dalam berbagai misi Tzu Chi.

Saat kalian datang ke hadapan saya, saya menggenggam tangan kalian dan berkata, “Tekun dan bersemangatlah.” Kalian harus tekun dan bersemangat dan dapat melakukan berbagai hal dengan sepasang tangan kalian. Untuk menciptakan dunia Tzu Chi, dibutuhkan tangan dan kaki kalian. Dalam perjalanan ini, jangan menyimpang. Tangan kita jangan berbuat salah. Kita harus melakukan hal benar dan menapaki jalan yang benar. Hati kita harus mengarah pada arah yang benar.

“Kami berikrar, kami akan meneladani kerendahan hati Bodhisatwa Sadaparibhuta. Layaknya untaian bacang, kami akan bersatu mewariskan silsilah Dharma Jing Si serta menyebarkan Mazhab Tzu Chi. Master Cheng Yen yang terhormat dan terkasih, kami tidak rela melihat Master kelelahan. Master membabarkan Dharma dengan segenap jiwa; kami akan bersungguh-sungguh menyerapnya ke dalam hati dan mempraktikkannya sebagai persembahan,” kata semua relawan yang hadir. 

Membangun ikrar berlandaskan hati Buddha
Terjun ke tengah masyarakat dan melipur semua makhluk yang menderita
Menjalankan misi Tzu Chi dengan bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, bergotong royong
Melangkah di jalan benar sesuai Sutra Bunga Teratai 

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 25 November 2019
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 27 November 2019

Artikel dibaca sebanyak : 134 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat