Jumat, 27 April 2018
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Melenyapkan Penderitaan dan Membimbing ke Arah yang Bajik

Di dunia ini, orang-orang hidup di lingkungan yang berbeda-beda. Di wilayah yang sering dilanda bencana, warga tidak bisa hidup tenang. Ada wilayah yang dilanda bencana alam akibat ketidakselarasan empat unsur alam, ada pula wilayah yang tenteram, tetapi warganya berjalan menyimpang. Jadi, di dunia ini, dimanakah kita bisa memperoleh ketenteraman secara lahir dan batin? Orang-orang sering berkata, “Manusia pasti bisa mengalahkan alam.” Ini terlalu sombong. Kesombongan seperti ini juga bisa menimbulkan banyak bencana bagi dunia. Selain bencana alam, kita juga sering melihat bencana akibat ulah manusia.

“Perang menghancurkan segalanya. Saya tinggal di perbatasan Yaman. Segala sesuatu di permukaan tanah menjadi target roket artileri dan peluru,” petikan wawancara seorang pengungsi.

“Sebelum perang, tingkat kematian per tahun adalah 22%. Sekarang, tingkat kematian per bulan mencapai 70%,” petikan wawancara seorang dokter.


Beberapa hari lalu, saya juga mengulas tentang masalah pengungsi. Berhubung kini PBB berfokus pada masalah pengungsi, maka kita juga diundang untuk mencari tahu kebutuhan pengungsi. Ke mana para pengungsi harus pergi?

“Semua orang tahu bahwa warga pulau-pulau di Yunani bergantung hidup pada bisnis pariwisata. Jadi, mereka tidak berharap pengungsi tinggal di sini,” petikan wawancara seorang pengungsi Suriah.

Sesungguhnya, kapan perang saudara di Suriah bisa berakhir? Beberapa hari lalu, kembali terjadi konflik antara pasukan pemerintah Suriah dan pasukan pemberontak. Kabarnya, dilancarkan serangan gas beracun. Serangan gas beracun itu telah merenggut nyawa banyak orang. Para korban sungguh tidak bersalah. Banyak korban jiwa dan luka-luka yang merupakan anak-anak. Ratapan yang memilukan hati terdengar di mana-mana. Kapan mereka bisa hidup damai?


Melihat kondisi ini, saya kembali teringat akan jumlah pengungsi yang terus meningkat. Mereka sudah bertahun-tahun mengungsi ke negara lain. Mereka tidak bisa pulang ke rumah dan mengalami banyak penderitaan. Mereka sungguh tidak berdaya. Kita semua tahu bahwa insan Tzu Chi di Yordania dan Turki mengemban tanggung jawab besar untuk menolong para pengungsi. Jumlah pengungsi yang membutuhkan bantuan terus meningkat. Selain menjaga kelangsungan hidup mereka, kita juga memberikan bantuan medis serta pendidikan bagi anak-anak. Contohnya di Turki, ada lebih dari 3.000 murid dan lebih dari 6.000 keluarga pengungsi yang membutuhkan bantuan kita setiap bulan. Bayangkanlah, betapa banyaknya pengungsi yang membutuhkan bantuan kita. Relawan kita tidak tega meninggalkan mereka dan harus sangat bekerja keras.

Di Serbia, kita telah mencurahkan perhatian kepada pengungsi selama tiga hingga empat tahun. Kita menyiapkan makanan dua kali dalam sehari bagi mereka. Ini kita lakukan setiap hari. Selama ini, jumlah pengungsi tidak menentu. Terkadang, jumlah pengungsi meningkat hingga ribuan orang. Terkadang, jumlah pengungsi hanya seribu lebih. Jumlah pengungsi berubah setiap hari. Pengungsi yang bisa kita jangkau untuk memberikan bantuan saja sudah begitu banyak. Mereka sangat menderita.


Sebagai organisasi kemanusiaan, kita juga harus mencari cara untuk memberikan bantuan. Terlebih, bantuan Tzu Chi bersifat jangka panjang. Kita bukan hanya menjaga kelangsungan hidup mereka, tetapi juga menenteramkan hati mereka.

“Terima kasih atas bantuan Tzu Chi Taiwan selama ini. Cinta kasih kalian membuat kami tidak merasa kesepian,” petikan pidato seorang pengungsi.

“Saya berterima kasih kepada insan Tzu Chi yang membawa cinta kasih ke sini. Berkat bantuan kalian, saya bisa kembali bersekolah. Saya sangat berterima kasih pada kalian,” petikan pidato seorang pengungsi anak-anak

“Saat kita membutuhkan bantuan, ada orang yang lebih membutuhkan dari kita. Saya menyisihkan uang ke dalam celengan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan dari saya,” petikan pidato pengungsi anak-anak.


Saat menjalankan misi amal, kita juga harus menenteramkan hati orang-orang agar semua orang menuju arah yang indah dan bajik. Jangan biarkan hati mereka tercemar, terlebih anak-anak. Contohnya di Turki dan Yordania, kita berusaha untuk menenteramkan fisik dan batin para pengungsi serta membimbing mereka menuju kebajikan. Inilah tujuan kita.

Tujuan misi amal kita bukan hanya memberikan bantuan, yang terpenting adalah membimbing ke arah yang bajik. Untuk menjaga kemurnian hati anak-anak, kita harus membina kebajikan dan rasa syukur mereka agar tidak tumbuh rasa dendam dan benci terhadap dunia ini. Inilah yang harus kita usahakan. Jika antarmanusia dipenuhi rasa dendam, kapan ketidaktenteraman di dunia ini bisa berakhir?


Namun, kekuatan kita terbatas. Ini merupakan tugas yang berat. Masalah pengungsi ditimbulkan oleh pikiran manusia yang tidak selaras. Segala penderitaan berawal dari ketidakselarasan pikiran manusia. Ini jugalah yang membangkitkan nafsu keinginan. Nafsu keinginan dapat menimbulkan pencemaran dan kerusakan alam. Jadi, kita harus memulainya dari pikiran manusia.

Di berbagai negara, insan Tzu Chi memiliki tekad dan menuju arah yang sama. Selain memberikan bantuan, kita juga membimbing orang-orang menuju satu arah yang sama, yaitu kebajikan dan cinta kasih yang mendatangkan kedamaian.

Tzu Chi diundang untuk mendiskusikan cara mengatasi masalah pengungsi

Para pengungsi merasa tidak berdaya

Melenyapkan rasa dendam dan membagikan bantuan pada para pengungsi

Menenteramkan fisik dan batin serta membimbing menuju arah yang bajik

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 10 April 2018

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina

Ditayangkan tanggal 12 April 2018

Artikel dibaca sebanyak : 43 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat