Rabu, 20 November 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Membangkitkan Kebijaksanaan untuk Berbagi Dharma

Saya masih ingat dua tahun yang lalu, sebuah badai mendatangkan kerusakan di berbagai negara. Salah satunya ialah Sint Maarten. Di sana, terdapat sepasang suami-istri yang merupakan relawan Tzu Chi.

Belasan tahun yang lalu, sang istri mengenal Tzu Chi di Hong Kong. Setelah pulang ke Sint Maarten, dia mulai menjalankan Tzu Chi. Suaminya pun turut bergabung. Selain menjalankan bisnis, ia juga tekun menjalankan Tzu Chi. Ia telah bertahun-tahun melakukannya.

Akibat terjangan badai dua tahun lalu, suplai listrik, air, dan bahan pangan di sana terputus. Apa yang harus mereka lakukan?

Mereka mengeluarkan semua barang dari gudang mereka, termasuk roti yang mereka produksi untuk menolong korban bencana. Saat itu, jika mereka menaikkan harga, mereka dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapat keuntungan besar. Namun, mereka memilih menyumbangkan dagangan mereka untuk menolong para korban bencana. Mereka mengerahkan kekuatan ekstra untuk memberi bantuan atas nama Tzu Chi. Saat menerima barang bantuan, orang-orang berkata, “Terima kasih, Tzu Chi.”


Saat itu, kita juga mengirimkan sedikit beras ke sana. Dengan semua beras yang ada, mereka mengadakan pembagian bantuan. Setiap karung beras dibagi untuk banyak orang karena korban bencana sangat banyak, sedangkan beras yang ada terbatas. Jadi, mereka mengukur beras yang dibagikan agar setiap orang memperoleh bagian.

Saat membagikan beras, mereka menggunakan gelas besar. Saat menuangkan beras gelas pertama, mereka berkata, “Ingatlah untuk bertutur kata baik.” Dimulai dari gelas pertama, mereka sudah membimbing sesama. Saat menuangkan gelas kedua, mereka berkata bahwa harus berpikiran baik. Saat menuangkan gelas ketiga, mereka berkata bahwa harus berbuat baik. Lewat ucapan dan sumbangsihnya, mereka bisa membimbing sesama. Ini merupakan metode yang baik. Inilah yang disebut Bodhisatwa. Inilah ajaran Buddha.

Di mana pun bencana terjadi, Bodhisatwa akan muncul di sana untuk menyelamatkan semua makhluk. Di sana terdapat banyak kisah yang penuh kehangatan karena mereka mempraktikkan Dharma secara nyata. Pasangan suami-istri ini juga membimbing relawan lokal. Mereka memanfaatkan sebuah ruangan di rumah untuk membimbing relawan lokal setiap minggu. Mereka berbagi ceramah saya tentang berbagai penderitaan di dunia dan para Bodhisatwa dunia yang bersumbangsih di berbagai tempat.


Lewat program Da Ai TV, mereka menunjukkan cinta kasih universal Tzu Chi sehingga para relawan lokal memahami bahwa Tzu Chi bersumbangsih bagi orang-orang yang menderita di seluruh dunia. Para relawan lokal sangat kagum pada semangat berdirinya Tzu Chi dan bagaimana kita menjalankan Tzu Chi selama ini. Batin para relawan lokal telah menerima basuhan Dharma. Semua orang sangat disiplin dan bahagia dalam setiap pembagian bantuan. Inilah yang disebut Bodhisatwa.

Bodhisatwa memiliki akar keyakinan yang dalam dan kuat. Selama belasan tahun ini, meski hanya sedikit relawan yang menjalankan Tzu Chi di pulau itu, tetapi mereka tidak pernah menyerah. Mereka membimbing relawan lokal dan menjalankan Tzu Chi sendiri selama belasan tahun ini. Mereka telah belasan tahun menjalankan Tzu Chi. Saya jarang mengulas tentang Sint Maarten karena kita jarang menerima laporan dari mereka dan jarang melakukan kontak dengan mereka.

Mereka menjalankan Tzu Chi dengan sepenuh hati di sana, tetapi kita jarang menerima laporan dari mereka. Selama bertahun-tahun ini, pasangan suami-istri di Sint Maarten ini telah bekerja keras membimbing sekelompok relawan lokal. Saya sangat tersentuh mendengarnya. Inilah Bodhisatwa.


Sumber daya setempat sangat terbatas. Mereka memiliki jalinan jodoh dengan Sint Maarten. Berkat jalinan jodoh yang istimewa, mereka bisa mengenal Tzu Chi dan membawa semangat Tzu Chi ke negara tempat tinggal mereka. Mereka memberi bantuan pada warga setempat yang membutuhkan dan membimbing sesama sesuai jalinan jodoh. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Jadi, Bodhisatwa dipenuhi kebijaksanaan dan bertekad untuk bersumbangsih di tengah masyarakat.

Mereka telah menemukan arah kehidupan mereka, yaitu bersumbangsih bagi semua makhluk. Selama bertahun-tahun ini, sang istri sepenuh hati menjalankan Tzu Chi dan suaminya sangat mendukungnya. Kini anak-anak mereka telah dewasa dan semuanya sangat baik hati.

Anak mereka berkata, “Kalian berfokus pada Tzu Chi saja, tidak perlu mengkhawatirkan bisnis. Kami akan mengurusnya.” Mendengar kabar ini, saya mendoakan mereka dan turut bergembira untuk mereka. Mereka sungguh telah membentangkan Jalan Bodhisatwa yang rata dan lapang.

Para relawan lokal juga sudah sangat berpengalaman. Saya sangat bersyukur di sana ada pasangan suami-istri ini yang membimbing para relawan lokal. Ini sungguh tidak mudah. Jadi, Bodhisatwa dipenuhi kebijaksanaan serta bertekad untuk bersumbangsih di tengah masyarakat dan berbagi Dharma dengan mereka.

Selain bersumbangsih di sana, mereka juga berbagi Dharma hingga membawa ketenteraman bagi sesama. Demikianlah insan Tzu Chi di Sint Maarten.

Suami istri menapaki Jalan Bodhisatwa dengan keyakinan yang teguh
Menolong korban bencana dan membawa ketenteraman bagi mereka
Membangkitkan kebijaksanaan untuk berbagi Dharma dengan orang-orang
Mengemban misi Tzu Chi dengan ikrar yang tidak berujung

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 02 November 2019
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 04 November 2019

Artikel dibaca sebanyak : 157 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat