Minggu, 22 September 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Membawa Cahaya di Tengah Kegelapan

Setiap Bodhisatwa dunia tekun dan bersemangat melatih diri. Meski berada di negara yang berbeda, semua orang memiliki tekad yang sama. Contohnya para insan Tzu Chi yang berpartisipasi dalam baksos di Laos kali ini.

Kemarin, mereka kembali ke Griya Jing Si dan berbagi tentang pengalaman masing-masing. Saya terus berkata bahwa jangan melupakan tahun itu. Kita harus menggunakan banyak waktu untuk mengenang pengalaman sebelumnya.

Kemarin, relawan yang kembali ke Griya Jing Si berbagi tentang baksos kesehatan yang diadakan di Laos beberapa hari lalu. Setelah mendengarnya, janganlah kita melupakannya. Tekad mereka sungguh patut dipuji. Fasilitas kesehatan di Laos sangat minim. Selain perangkat keras yang kurang memadai, di sana juga kekurangan perangkat lunak dan obat-obatan. Melihat kondisi di sana, semua insan Tzu Chi merasa tidak tega.  Mengadakan baksos kesehatan di sana penuh dengan ketidakleluasaan. Insan Tzu Chi harus bersusah payah mengatasi banyak kesulitan. Mereka berbagi banyak kisah tentang bagaimana mereka bersusah payah mengadakan baksos yang membawa manfaat bagi lebih dari 3.000 orang.

 

Saya juga mendengar tentang seorang komite yang punya misofobia (takut berlebihan kepada barang-barang yang kotor –red). Saat pergi ke Laos kali ini, dia secara alami mengulurkan tangan dan mendekati pasien. Welas asihnya terbangkitkan saat melihat Lansia dan orang kurang mampu. Dengan kedua tangannya, dia menyentuh tubuh pasien yang entah sudah berapa lama tidak mandi dan menyebarkan aroma tidak sedap. Dia telah melenyapkan kemelekatan terhadap sikap membeda-bedakan sehingga secara alami, welas asihnya pun terbangkitkan.

Inilah yang disebut pelatihan diri. Berkat jalinan jodoh ini, dia bisa terjun ke tengah masyarakat untuk bersumbangsih. Makhluk yang menderita datang untuk menginspirasi hati Bodhisatwa. Jadi, dengan terjun ke tengah masyarakat, terkadang kita bisa terbimbing. Makhluk yang menderita bisa menginspirasi hati Bodhisatwa kita sehingga hati kita penuh welas asih dan tidak tega melihat mereka menderita.

Relawan yang saya ceritakan tadi pahalanya sungguh tak terhingga. Dia terinspirasi saat bersumbangsih bagi orang yang menderita. Ini sungguh tidak mudah. Dalam menjalankan praktik Bodhisatwa, kita akan menghadapi berbagai kondisi yang dapat melatih cinta kasih dan kesabaran kita sehingga kita terinspirasi untuk bersumbangsih secara nyata. Kita tergugah untuk mengulurkan tangan meski harus mengatasi berbagai kesulitan. Inilah pelatihan diri kita.

 

Baksos kesehatan di Laos telah menginspirasi cinta kasih banyak orang. Kita yang mampu menolong sesama hendaknya memberikan bantuan begitu memiliki kesempatan. Asalkan Bodhisatwa bisa menjangkau makhluk yang menderita maka semua makhluk akan berkesempatan untuk terselamatkan.

Bodhisatwa dunia terjun ke tengah masyarakat untuk menyalakan sebuah pelita di tengah kegelapan. Inilah yang kita lakukan di Laos dan Kamboja.

Saya berkata kepada seorang pengusaha, Relawan Cai, bahwa saya berharap beliau dapat memberikan bantuan di Kamboja. Berhubung tidak ada listrik, kondisi malam hari gelap gulita sehingga anak-anak tidak bisa belajar. Relawan Cai berkata bahwa beliau akan pergi bersama relawan lain untuk mencari jalan keluar agar ada lampu di malam hari dan anak-anak bisa belajar.


Wilayah yang dijangkau kali ini adalah wilayah yang sangat kekurangan. Warga di sana mengandalkan TPA untuk bertahan hidup. Bersama relawan lain, Relawan Cai berkunjung dari rumah ke rumah untuk memasang lampu bagi anak-anak. Mereka memanfaatkan tenaga surya untuk membawa cahaya di tengah kegelapan. Dengan demikian, anak-anak tidak perlu khawatir tidak bisa mengerjakan PR di malam hari. Demikianlah Bodhisatwa dunia terjun ke tengah masyarakat untuk menyalakan sebuah pelita di tengah kegelapan.

Jadi, kita harus bersyukur kepada Bodhisatwa dunia. Saat ada orang kurang mampu yang membutuhkan pelayanan medis, para dokter, perawat, dan apoteker akan mengadakan baksos kesehatan. Ada pula sekelompok besar relawan yang turut berpartisipasi memasang instalasi air dan listrik agar para tenaga medis dapat mengobati pasien di lokasi baksos kesehatan.

Selain itu, ada juga pengusaha yang bersedia menyediakan barang bantuan yang dibutuhkan. Mereka merupakan Bodhisatwa dunia yang patut dipuji.

Membangkitkan welas asih setelah melihat penderitaan
Mengatasi berbagai kesulitan dan bersumbangsih secara nyata
Membawa cahaya di tengah kegelapan demi pendidikan anak-anak
Tekun dan bersemangat melatih diri di tengah masyarakat

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 5 September 2019
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, 
Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina
Ditayangkan tanggal 7 September 2019

Artikel dibaca sebanyak : 83 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat