Rabu, 12 Desember 2018
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Membimbing Diri Sendiri dan Orang Lain di Jalan Bodhisatwa

“Menyebarkan semangat celengan bambu sangat penting. Ini demi menggalang cinta kasih. Dengan menyisihkan uang ke dalam celengan, kita bisa menolong sesama. Saya memberi pelayanan dengan sukarela dan penuh sukacita,” petikan wawancara Celoy Cinthia (23), relawan lokal.

“Saya berpartisipasi dalam pembagian beras setiap tahun. Melihat Tzu Chi sering membagikan beras untuk menolong warga Haiti, saya sangat tersentuh,” petikan wawancara James Olsen, relawan lokal.

“Kami tinggal di kawasan terkumuh di Port-au-Prince. Dapat menerima bantuan beras, saya sangat gembira. Semoga kalian dapat terus mengadakan pembagian beras. Bagi orang kurang mampu seperti kami, beras ini sangat penting. Terima kasih, Tzu Chi,” petikan wawancara Morigue Jean (20), penerima bantuan.


Bagaimana hati Buddha? Senantiasa dipenuhi welas asih untuk menolong semua makhluk. Kita harus bersungguh hati membangkitkan welas asih yang bisa turut merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Orang-orang zaman sekarang menyebutnya rasa empati. Penderitaan orang lain juga merupakan penderitaan kita. Karena itu, kita harus berusaha untuk melenyapkan penderitaan.

Pasti ada jalan untuk melenyapkan penderitaan. Jalan untuk melenyapkan penderitaan adalah dengan berfokus dan tekun mendalami ajaran Mahayana. Ajaran Mahayana adalah satu-satunya jalan. Mempraktikkan ajaran Mahayana berarti menapaki Jalan Bodhisatwa yang diajarkan oleh Buddha. Dengan Kereta Lembu Putih, kita menyeberangkan diri sendiri sekaligus orang lain.


“Awalnya, korban bencana belum tentu ingin berdonasi. Namun, setelah kami berbagi ajaran Master Cheng Yen dengan mereka, mereka bersedia mengambil celengan bambu dan menyisihkan uang ke dalamnya,” petikan wawancara Lilia Zarate (17), relawan Tzu Chi.

“Saya tidak merasa terbebani. Ini demi menolong sesama. Menolong adalah hal yang membahagiakan. Saya lebih suka menolong daripada ditolong. Masih ada orang yang lebih kekurangan dari saya. Saya bukanlah orang yang paling kekurangan,” petikan wawancara Nelia Ray (18), korban bencana.

“Saya juga ingin menolong orang yang membutuhkan. Ini bukan karena kami menerima bantuan. Kami selalu menjadi penerima bantuan, tetapi kami juga ingin bersumbangsih,” petikan wawancara Irma Vitiong (10), korban bencana.

“Saya sangat berharap warga di sini dapat bersama-sama berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan,” petikan wawancara Wenefrida (9), korban bencana.


Tujuan kita adalah menyebarkan prinsip kebenaran agar estafet cinta kasih dapat dilanjutkan. Buddha menunjukkan arah yang benar pada kita. Karena itu, kita harus menggandeng orang-orang di belakang kita untuk melangkah maju di jalan yang benar. Kita harus membangun tekad dan ikrar. Buddha mengajari kita untuk melafalkan dan menyalin Sutra serta melakukan praktik nyata. Dharma harus diwariskan dan dipraktikkan. Inilah yang Buddha ajarkan.

Dengan mendalami dan mempraktikkan ajaran Mahayana, berarti kita menjalankan praktik Bodhisatwa. Kita memahami dan menyadari bahwa dunia ini penuh dengan ketidakkekalan, penderitaan, dan kekosongan. Kita tidak melekat pada keakuan. Di Dunia Saha ini, banyak orang yang memiliki pikiran yang keliru. Jadi, kita harus segera menoleh dan memanggil mereka. Inilah yang disebut makhluk berkesadaran.

Kita tahu bahwa pikiran keliru dapat membuat orang terjerumus dalam penderitaan. Karena itu, sebagai makhluk berkesadaran, kita harus melakukan praktik Bodhisatwa dan mengajak orang-orang untuk melakukan hal yang sama. Praktik Bodhisatwa dimulai dari mempraktikkan Enam Paramita. Kereta Lembu Putih bukan hanya untuk menyeberangkan diri sendiri.


Kita harus membangun Empat Ikrar Agung dan mempraktikkan Enam Paramita. Empat Ikrar Agung bagaikan roda kereta dan Enam Paramita bagaikan keretanya. Kedua sisi kereta harus dipagari dan dalamnya berisi beban yang harus ditarik oleh lembu. Yang diangkut adalah peralatan pelatihan diri yang tak terhingga. Untuk mempraktikkan Enam Paramita, kita harus memiliki semangat menjalankan Kereta Lembu Putih.

Jadi, kita harus memiliki cinta kasih berkesadaran. Kita harus menjalankan praktik Bodhisatwa dengan cinta kasih berkesadaran. Kita harus belajar menjalankan Enam Paramita dan puluhan ribu praktik. Kita belajar mempraktikkan Enam Paramita untuk membimbing semua makhluk sesuai kemampuan mereka. Enam Paramita terdiri atas dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan.

Dengan adanya kebijaksanaan, kita bisa membimbing semua makhluk sesuai kemampuan, pandangan, dan tabiat mereka. Dibutuhkan kesadaran dan kebijaksanaan untuk menjalankan praktik Bodhisatwa guna menyelamatkan semua makhluk. Dalam menapaki Jalan Bodhisatwa, setelah diri sendiri tersadarkan, kita harus membimbing orang lain. Inilah yang disebut Bodhisatwa.


Untuk membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain dengan Dharma, kita harus membangun tekad dan ikrar serta tekun mendalami Dharma. Selain itu, kita juga harus memiliki cinta kasih berkesadaran dan bersedia memulai langkah di Jalan Bodhisatwa untuk menyelamatkan semua makhluk. Dengan demikian, barulah kita bisa menciptakan berkah dan membawa manfaat bagi sesama. Ini bukanlah hal yang mustahil.

Jadi, kita harus membina kebijaksanaan dan mempraktikkan segala ajaran kebajikan. Dengan kebijaksanaan, kita bisa mempraktikkan Empat Metode Pendekatan. Selain Empat Ikrar Agung dan Enam Paramita, kita juga harus mempraktikkan Empat Metode Pendekatan saat terjun ke tengah masyarakat. Kita bisa berdana dan bertutur kata penuh cinta kasih.

Saat berinteraksi dengan orang-orang, kita hendaknya senantiasa berpikir untuk membawa manfaat bagi orang lain. Kita juga harus membina keharmonisan dengan orang-orang dan menginspirasi mereka untuk berbuat baik. Dalam kehidupan sehari-hari, semua ini bisa dilakukan dengan mudah. Jadi, membina kebijaksanaan, mempraktikkan segala ajaran kebajikan, dan menolong semua makhluk bisa dilakukan oleh setiap orang. Tidak ada hal yang mustahil.

Jadi, apakah sulit untuk menapaki Jalan Bodhisatwa? Orang-orang dari segala bidang dapat menapaki Jalan Bodhisatwa. Ini tidaklah sulit. Jika bersungguh hati memikirkannya, kita akan menyadari bahwa ini tidaklah sulit.

Memiliki rasa empati sehingga bisa turut merasakan penderitaan orang lain

Membimbing diri sendiri dan orang lain di Jalan Bodhisatwa

Ajaran Buddha menunjukkan arah yang benar

Membina kebijaksanaan dan mempraktikkan segala ajaran kebajikan

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 4 Agustus 2018

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Lilie

Ditayangkan tanggal 6 Agustus 2018

Artikel dibaca sebanyak : 140 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat