Jumat, 27 April 2018
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Mempraktikkan Empat Metode Pendekatan

Untuk berlatih menjadi Bodhisatwa, kita tak dapat meninggalkan masyarakat. Kita harus terjun ke tengah masyarakat. Berbagai pandangan yang kompleks di masyarakat merupakan Dharma yang berkondisi yang kita temui dalam keseharian. Bagaimana kita menggunakan Dharma yang murni dan tak berkondisi untuk membersihkan pikiran yang sudah ternodai kondisi luar?

Orang-orang yang tamak selalu berpikir ingin memiliki lebih banyak. Itulah contoh Dharma yang berkondisi. Itulah pikiran orang awam. Pikiran tamak itu tidak seharusnya ada. Ia timbul di dalam pikiran. Terkadang, kondisi terasa berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Saat melihat perbuatan orang lain, kita mulai membuat penilaian. Dari sana kita mungkin menilai orang lain tidak sesuai dengan harapan kita.


Segala sikap dan persepsi kita dalam interaksi antarsesama disebut Dharma yang berkondisi. Dharma yang tidak berkondisi juga berasal dari pikiran. Namun, ia sesuai dengan prinsip kebenaran, memahami dengan jelas, penuh pengertian, toleransi, membuat orang-orang dipenuhi sukacita, sehingga dapat menjalin jodoh baik. Dengan begitu, dalam hubungan antarsesama, jalinan jodoh buruk seperti apa atau masalah apa yang tidak bisa diatasi? Ini juga disebut prinsip kebenaran.

Apakah sesuatu sesuai dengan harapan atau tidak, semua itu disebut Dharma, yaitu Dharma yang berkondisi dan Dharma yang tidak berkondisi. Untuk melatih diri, kita harus kembali ke sifat hakiki yang murni dan melenyapkan pikiran yang tidak sesuai kebenaran.


“Apa yang kamu bawa saat kamu mengunjungi kerabat dan teman?”

“Celengan bambu,” jawab Ibu Han An-xuan, Huang Xin-yi

“Apa yang kamu katakan pada mereka?”

Kita seharusnya menolong orang yang dalam kesulitan. Saya mengajak mereka untuk berbuat kebajikan.”

“Ada orang yang berkata padanya, “Saya tidak punya uang, harus bagaimana?” Dia menjawab, “Tidak apa-apa. Kamu bisa mendoakannya di dalam hati, lalu memasukkan cinta kasihmu ke dalam celengan bambu, itu juga sama.”

Saat kita membangkitkan sebersit niat baik untuk melakukan kebajikan, maka kebajikan ini akan kembali pada diri kita. Ini disebut mengubah keburukan menjadi kebaikan; mengubah yang tak sesuai kebenaran menjadi sesuai kebenaran. Untuk membedakan benar dan salah, kita membutuhkan kebijaksanaan dan keyakinan serta pemahaman yang jelas. Waktu terus berlalu. Jika kita tak memahaminya dengan jelas, tak membangkitkan kebijaksanaan, dan hanya duduk bermeditasi saja, juga tidak ada gunanya. Jadi, kita harus memahami bahwa waktu memungkinkan kita untuk belajar menganalisis prinsip kebenaran. Dengan demikian, kita bisa menghadapi hal yang terjadi di dunia.


Kini kita sedang menyelami Dharma yang tak berkondisi sebelum menghadapi Dharma yang berkondisi. Bagaimana kita berinteraksi dengan sesama agar hati kita tidak ternodai? Kita harus menyerap Dharma ke dalam hati, barulah bisa menghadapi Dharma yang berkondisi di dunia. Kita harus percaya bahwa waktu bisa menumbuhkan kebijaksanaan kita. Ada empat cara dalam menghadapi orang dan masalah, yaitu, berdana, ucapan penuh kasih, tindakan bermanfaat, dan kebersamaan.

Saya selalu bisa mengandalkan Tzu Chi. Mereka datang membantu dan memberi saya saran. Mereka adalah rekan yang sangat berharga dalam pekerjaan yang kami lakukan,” kata Narahubung Pusat Sumber Daya Keluarga Laurel M. Estrada.


Murid-murid datang ke sekolah dengan perut kosong. Mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam membaca, menulis, dan belajar matematika. Mereka akan memikirkan makanan dan perut,” ujar perwakilan guru RUSD, Shay Loman.

“Kami tak punya uang lebih untuk membeli makanan yang segar. Saya ingin berterima kasih kepada kalian yang membawakan makanan ke komunitas kami,” kata orang tua murid, Maria Cabello.

Setiap hari, kita harus melakukan tindakan nyata. Jika sesorang berpikiran tidak terbuka, bagaimana kita membimbing dan menghiburnya? Jika seseorang kesulitan membawa barang dalam jumlah banyak, kita bisa membantunya untuk meringankan bebannya serta menghemat waktunya dan lain-lain. Ini semua termasuk cara untuk berdana. Jadi, dalam mempraktikkan Jalan Bodhisattva, segala yang diri kita lakukan harus membawa manfaat bagi makhluk hidup. Kita harus membawa manfaat bagi semua orang dalam segala hal.


Berhubung kita sedang berlatih di Jalan Bodhisattva, maka kita harus berterima kasih pada orang yang memberi kita kesempatan untuk bersumbangsih. Kita sendiri telah bersedia membawa manfaat bagi semua makhluk. Kita harus bertutur kata penuh kasih dan lembut saat berbicara dengan orang. Setiap tindakan dan ucapan kita harus membawa manfaat bagi orang. Jika kita bersikap baik pada orang, maka orang akan berpikir, “Sikapmu sangat terpuji, saya juga mau ikut kamu melakukannya.”

“Saya bertanya padanya, “Kamu merokok berapa bungkus dalam sehari?” Dia menjawab, “Satu hingga dua bungkus per hari.” Saya berkata padanya, “Bagaimana kalau kamu mengurangi merokok satu batang dalam sehari? Dengan begitu, kamu bisa melakukan kebajikan.” Dia pun setuju. Tidak sampai satu bulan, dia sudah berhenti merokok,” jelas relawan Wu Hai-qiang.


“Sekitar setahun saya berhenti merokok. Saya bervegetaris dan bergabung dengan Tzu Chi. Saat ada kegiatan daur ulang, saya pun datang membantu. Saya datang setiap bulan,” kata relawan Cai Hong-cai.

Jadi, bertutur kata baik, tindakan bermanfaat dan kebersamaan termasuk dalam berdana. Apa pun yang kita lakukan, baik berbicara dengan orang maupun membantu orang lain untuk menghemat tenaga dan waktu mereka, itu semua disebut tindakan bermanfaat. Kita juga bisa menginspirasi orang untuk bersama-sama melakukan kebajikan. Ini semua disebut berdana.

“Saat kami mengalami kesulitan dan ada orang yang datang memberikan perhatian pada kami, itu sama dengan memberi kami keberanian untuk menghadapi kesulitan ini. Karena itu, saya sangat berterima kasih kepada Tzu Chi,” kata Cai Ming-zhu, korban bencana.

“Berhubung saya tahu hari ini insan Tzu Chi akan datang, maka saya menunjukkan jalan karena saya sangat kenal dengan tempat ini. Berhubung bisa membantu orang, maka lelah pun tidak apa-apa,” kata penunjuk jalan dalam kunjungan kasih, You Qing-guo.

Kita harus membimbing orang untuk melakukan kebajikan. Karena itu, kita harus menjalankan praktik di tengah masyarakat. Kita harus memandang penting dan memahami jalinan jodoh. Kita harus meyakini dan memahami hukum karma. Kita harus memiliki keyakinan mendalam bahwa segalanya bisa

terakumulasi seiring waktu. Dalam proses melatih diri, kita harus mempraktikkan dana dan sila serta menapaki jalan dan arah yang benar. Kita harus selalu memiliki hati yang bersyukur karena itu membantu kita untuk lebih dekat dengan jalan menuju pencerahan.

Jika kita bersungguh hati untuk memahami semua hal ini, maka dengan sendirinya kita akan menyatu dengan jalan yang benar. Hati kita harus senantiasa berada di jalan ini. Dalam memperlakukan orang dan menangani masalah, kita harus menjaga sila dengan baik. Berdana dan menjaga sila berarti melatih diri di jalan yang benar. Kita harus senantiasa lebih bersungguh hati.

Membersihkan pikiran untuk kembali ke jalan yang benar

Mempraktikkan empat metode pendekatan

Melakukan tindakan nyata untuk membawa manfaat bagi makhluk hidup

Berdana dan menjaga sila untuk berlatih di jalan yang benar

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 8 April 2018

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina

Ditayangkan tanggal 10 April 2018

Artikel dibaca sebanyak : 341 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan keyakinan yang benar, perjalanan hidup seseorang tidak akan menyimpang.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat