Rabu, 21 Agustus 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Mendalami Dharma Tanpa Rintangan

“Kami akan setiap hari berdonasi, mengakumulasi berkah, menolong orang lain, dan berbuat baik. Pesan cinta kasih kami untuk Kakek Guru, lebih banyak minum air, lebih banyak berolahraga, dan lebih banyak makan agar lebih berstamina,” Guru dan murid TK Cinta Kasih Kaohsiung menyumbangkan isi celengan bambu untuk menyambut bantuan bencana internasional.

“Master yang terkasih, Saya adalah Guo Shi. Saya tidak pernah bersekolah. Saya hari ini ingin berbagi tentang bagaimana saya mengikuti para relawan lain membaca buku tentang Mahabhiksu Zhi Zhe. Setelah beberapa waktu, Kakak Shu-yue memberikan sebuah buku kecil pada saya dan berkata, “Buku ini untukmu dan kamu harus mengerjakan PR.” Namun, saya tidak bisa menulis. Kakak Shu-yue sangat bersungguh hati. Dia berkata, “Kamu tulis dua huruf saja.” Saya bertanya, “Huruf apa?” Dia berkata, “Gan en (bersyukur), bagaimana?” kata Lin Guo Shi relawan berusia 76 tahun.

“Di rumah, baik di kalender maupun brosur, saya terus berlatih menulis dengan serius hingga saya merasa bahwa tulisan saya bisa dibaca, baru saya kumpulkan. Menulis dua huruf itu saja, saya menghabiskan banyak waktu,” imbuhnya.

Buta huruf tidak apa-apa, menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menulis kata “gan en” juga tidak apa-apa. Hati kita harus dipenuhi rasa syukur dan kesabaran setiap waktu.

“Nama saya Lai Ni. Semula saya tidak bisa dan tidak berani menggunakan buku elektronik. Kemudian, Kakak Shu-yue menyemangati dan mengajari saya. Dia mengajari saya dengan sabar sampai saya bisa mengunggah dan membaca Sutra Makna Tanpa Batas dengan buku elektronik,” kata Nian Lai Ni relawan berusia 75 tahun.

“Saya juga mengikuti acara bedah buku. Huruf di buku tentang Mahabhiksu Zhi Zhe terlalu kecil, saya tidak bisa membacanya. Kakak Shu-yue sangat bersungguh hati dan memfotokopinya dalam ukuran lebih besar sehingga saya bisa membacanya. Saya sangat gembira. Saya membacanya dalam dialek Taiwan. Saya membacakan intinya dan dia menjelaskannya sehingga saya memahaminya dengan baik. Kemudian, dia menunjukkan kisahnya dalam opera Taiwan pada kami sehingga kami semakin memahaminya. Saya sangat gembira dan tenang,” kata Lin De-chuan relawan berusia 81 tahun.


“Saya juga sangat bersyukur kepada Master yang membuka Jalan Bodhisatwa bagi kami. Saya menapaki jalan ini dengan gembira, damai, dan tenang. Setelah mengenal dan memahami Tzu Chi, saya merasa tidak memiliki penyesalan. Saya akan terus bersumbangsih hingga tidak bisa bersumbangsih,” imbuhnya.

Para relawan senior yang sudah berusia lanjut juga mengikuti acara bedah buku. Namun, dibandingkan dengan saya, berusia 81 tahun pun masih lebih muda. Kita belum tua karena telah “menyimpan” 50 tahun di bank usia. Dengan bersungguh hati, hidup kita akan sangat bermakna. Mari kita menjaga kesehatan baik-baik.

“Kami akan mengikuti langkah Master dan menjalankan Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan,” ucap semua relawan.

Baik. Saya juga tidak akan meninggalkan Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan. Jadi, saya sangat bersyukur ada kalian yang menjalankan Tzu Chi. Asalkan ada orang yang menemani, saya selamanya tidak akan meninggalkan Tzu Chi. Saya sangat bersyukur.

Buta huruf di kehidupan ini tidak masalah. Semoga di kehidupan mendatang, kita bisa seperti Mahabhiksu Zhi Zhe dan begitu melihat Sutra, kita sudah tahu sebelum membacanya. Dharma bagaikan sebutir benih. Kini kita harus menanam benih Dharma di dalam ladang batin kita. Untuk mempelajari Dharma di kehidupan mendatang, kita harus membangun fondasi sekarang.

Saya sangat gembira mendengar relawan yang buta huruf bisa membaca buku hingga memahami kebenaran. Ini sangat mengagumkan. Terima kasih.

Relawan Tzu Chi He Min-cang berbagi pengalaman. “Pascatopan Morakot, relawan humas Tzu Chi menjangkau berbagai lokasi bencana di Kaohsiung dan Pingtung. Salah satu misi tim humas ialah menyalurkan informasi. Kita menyalurkan informasi dari luar ke Tzu Chi dan dari Tzu Chi ke luar. Karena itulah, kita harus berada di garis terdepan,” jelas He Min-cang.

 

“Tempat penampungan pertama pascatopan Morakot ialah Kuil Shunxian. Pada tanggal 11 Agustus, kita tiba di sana pada pukul 7 pagi. Saat itu belum ada organisasi lain. Berhubung kita pernah menjalin jodoh baik dengan Kuil Shunxian, maka dengan kerja sama pihak kuil, kita bisa mengadakan baksos kesehatan dan tempat pendaftaran di sana,” sambungnya.

“Kita dengan cepat menyalurkan informasi ini ke pusat koordinasi dan TIMA. Karena itu, anggota TIMA bisa datang dalam waktu singkat. Setelah pergi ke Kuil Shunxian, warga yang terkena dampak bencana dapat menerima pengobatan yang baik. Ada kisah-kisah yang perlu kita bagikan. Meski bencana mendatangkan kesedihan dan penderitaan, tetapi di dalamnya terdapat banyak kisah yang menyentuh dan dapat menghimpun kekuatan banyak orang jika kita berbagi dengan orang-orang. Kita bukan hanya berbagi kisah-kisah ini di Taiwan, melainkan hingga ke luar negeri,” He Min-cang melanjutkan.

“Sejak pembangunan Perumahan Cinta Kasih dimulai, setiap hari ada tim humas yang bertugas di lokasi pembangunan untuk menyambut tamu, reporter, dll. Setelah pembangunan rampung, kita mulai menjadi pemandu tur. Pemandu tur sangatlah penting. Pemandu tur harus menjelaskan bahwa Perumahan Cinta Kasih ini berasal dari tetes demi tetes donasi orang-orang dari 52 negara serta bantuan banyak relawan dari dalam dan luar negeri. Yang kita lakukan ialah menyalurkan informasi ke luar dan menerima informasi dari luar. Dengan menyambut tamu dan menjadi pemandu tur, kita menginspirasi orang-orang,” pungkas He Min-cang.

Saya bersyukur kepada tim humas dan tim bahasa asing yang menyambut tamu yang berkunjung. Sungguh, janganlah kita melupakan tahun itu dan relawan yang bersumbangsih saat itu. Mereka telah menginspirasi banyak orang. Berkat tim bahasa asing kita, para pengunjung dari berbagai negara dapat memahami apa yang terjadi di masa lalu.

Saat suatu bencana terjadi, relawan kita menjangkau orang-orang yang membutuhkan dengan cinta kasih dan welas asih agung. Inilah semangat agama Buddha, yakni cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Semua orang bersumbangsih tanpa pamrih dan penuh sukacita.

 

Pada saat seperti ini, menabur benih kebajikan sangatlah penting. Kita harus terus menabur benih kebajikan. Terima kasih.

“Saat tim bahasa asing belajar bersama, kami membaca buku Master. Kami membaca buku yang diterjemahkan untuk melatih keterampikan membaca, mendengar, dan bercerita kami. Kami berharap dapat menjelaskan Empat Misi Tzu Chi dan Delapan Jejak Dharma dengan bahasa asing agar saat ada tamu asing berkunjung, kami dapat berbagi secara langsung dan tepat tentang semangat cinta kasih tanpa pamrih, rasa syukur, dan rasa hormat yang merupakan semangat dasar Tzu Chi,” kata Wei Duan-xiang relawan Tzu Chi.

“Kelak, kami berharap tim bahasa asing dapat menjadi jendela Tzu Chi dengan menyebarkan filosofi dan cinta kasih Tzu Chi agar para tamu asing yang berkunjung dapat benar-benar memahami Tzu Chi. Kita juga berharap mereka dapat menjadi relawan Tzu Chi,” tutupnya.

Saya bersyukur kepada tim bahasa asing. Kita membina banyak insan berbakat yang menguasai bahasa yang berbeda-beda untuk menginspirasi orang-orang dengan Dharma.

Tzu Chi mengajarkan praktik Bodhisatwa. Dunia ini membutuhkan Bodhisatwa. Lewat bahasa, kita bisa lebih mudah menginspirasi orang dengan cinta kasih. Kita bisa menyatukan hati orang-orang dengan bahasa sehingga mereka semakin memahami asal mula dan arah tujuan Bodhisatwa serta di mana dan bagaimana bersumbangsih bagi umat manusia.

Kita harus berpartisipasi dalam beragam kegiatan Tzu Chi. Selain menerjemahkan, kalian juga harus mempelajari Dharma. Setelah memahami Dharma, kemampuan bahasa kalian akan semakin mendalam. Jadi, kita harus senantiasa tekun dan bersungguh hati mempelajari Dharma.

Giat belajar dan menabur benih kebajikan di kehidupan sekarang
Bijaksana dan memahami Dharma di kehidupan mendatang
Menginspirasi orang secara luas dengan kemampuan bahasa
Menyatukan hati dan memahami kebenaran serta menyebarkan Dharma

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 4 Agustus 2019
Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,
Penerjemah: Hendry, Karlena, Li Lie, Marlina
Ditayangkan tanggal 6 Agustus 2019

Artikel dibaca sebanyak : 105 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat