Sabtu, 15 Desember 2018
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Mendengar Dharma untuk Meneruskan Jiwa Kebijaksanaan

“Saya Su-zhi dari Zhonghe. Suami saya, Qing-hai,tak bisa berbicara dan juga tak dapat mendengar sejak kecil. Suami saya hanya bisa melakukan pekerjaan kasar. Saya membantu adik saya berjualan sayur di pasar. Pada saat tekanan saya sangat berat, suami saya malah minum minuman keras, berjudi, dan makan pinang, itu sungguh membuat saya merasa sangat menderita dan merasa hidup di dunia tak ada artinya. Namun, di saat seperti ini, saya menonton Da Ai TV. Ada seorang veteran yang tinggal di pegunungan, dia harus menjaga istri dan kedua anaknya yang menderita keterbelakangan mental. Saya sangat terkejut. Mengapa ada orang  yang lebih menderita daripada saya? Saat itu saya pun mengubah pola pikir,” tutur Shi Su-zhi, relawan Tzu Chi.

“Kemudian, saya juga ikut pergi melakukan daur ulang. Setelah dia pergi ke posko daur ulang, temperamennya juga berubah menjadi baik, tabiat buruknya juga berubah. Saya mohon Master tidak perlu khawatir. Saya dan Qing-hai akan mengikuti langkah Master dengan erat dan berjalan maju dengan mantap. Saya ingin bertanya kepada Master, suami saya tak dapat mendengar Master membabarkan Sutra dan ceramah, apakah di kehidupan berikutnya saya dan suami saya masih bisa menemukan Master? Terima kasih, Master,” tambahnya.

Kita bisa melihat keluarga ini. Bagaimana dia mengubah kehidupannya yang terjerumus dalam delusi? Dia telah melihat tindakan kalian yang penuh dengan Dharma. Melihat tindakan kalian, dia berubah menjadi baik. Meski tak dapat berbicara, dia dapat melakukan tindakan nyata bersama kakak-kakak di Tzu Chi. Kita melakukannya dengan penuh sukacita; dia dipenuhi sukacita dalam Dharma. Dia belajar dari apa yang dia lihat dan merasa sukacita dari lubuk hatinya yang terdalam.


Cara relawan Tzu Chi dalam bersumbangsih telah meresap ke dalam hatinya. Ketika saya berada di lantai atas, dia bertanya kepada saya tentang suaminya yang tak dapat mendengar dan berbicara pada kehidupan ini, lalu apakah di kehidupan berikutnya mereka masih bisa mengikuti saya. Saya lalu menjawab, "Anda harus membuka jalan dengan tulus dan membentangkan jalan dengan bersungguh hati bagi kehidupan diri sendiri  di masa yang akan datang; membuka Jalan Bodhisatwa yang luas dengan mantap. Dengan begitu, di kehidupan mendatang, dengan sendirinya Anda akan berjalan di Jalan Bodhisatwa dan dapat mempraktikkannya dengan tekun."

Kita harus selalu menjaga pikiran kita dan jangan menyia-nyiakan waktu kita. Kehidupan sangat tidak kekal dan waktu akan berlalu dengan sangat cepat. Kita harus bersyukur setiap saat. Karena memiliki jalinan jodoh yang istimewa, kita bisa berkumpul  di bawah langit dan di atas bumi yang sama.

Benih karma yang kita tabur di masa lalu akan berbuah di masa kini dan memicu terciptanya benih karma baru yang akan kita bawa ke masa mendatang. Jika kita memiliki benih pohon dan sungguh-sungguh menggenggam jalinan jodoh untuk menanamnya di tanah, ia akan bertunas dan tumbuh menjadi pohon besar yang kukuh, lalu berbunga dan berbuah.

Demikian pula, jika menabur benih baik, kita akan bertemu banyak jalinan jodoh baik. Dalam jalinan jodoh ini, benih karma seperti apa lagi yang ingin kita ciptakan? Itu bergantung pada diri kita sendiri. Dalam kehidupan ini, karma seperti apa yang ingin kita ciptakan untuk berbuah di masa mendatang? Meski tak dapat mengubah yang sudah terjadi di masa lalu, kita dapat menentukan apa yang ingin kita lakukan untuk mempersiapkan diri bagi masa mendatang.

Jadi, kita harus sungguh-sungguh menggenggam jalinan jodoh baik. Dalam keluarga besar Tzu Chi, ada benih karma baik, jalinan jodoh baik, dan buah karma baik. Jadi, kita harus menggenggamnya dengan sungguh-sungguh. Kita harus merenungkan secara mendalam masa lalu dan masa kini kita. Sekarang kita harus mendengar Dharma dengan bersungguh hati. Setelah mengetahui apa yang kita lakukan di masa lalu dan buah karma apa yang kita tanggung di masa sekarang, kita harus menggenggam kehidupan sekarang untuk menciptakan buah karma baik bagi masa mendatang. Kita harus menggenggam waktu yang ada.


Berbicara tentang hukum sebab akibat, ada orang yang berkata, "Saya memang tak melakukan kebajikan, tetapi saya juga tak melakukan kejahatan." Saya bertanya, "Lalu apa artinya kehidupan Anda?" Dia menjawab, "Saya juga bertanya-tanya apa artinya kehidupan ini." Saya berkata, "Jika begitu, berarti Anda memiliki utang. Datang ke dunia ini, Anda tidak menciptakan karma buruk, tentu saja tidak akan mendapat buah karma buruk. Anda tidak menciptakan karma baik, tentu saja tidak akan mendapat berkah."

"Namun, Anda berutang kepada segala sesuatu dan semua makhluk di dunia. Anda tidak melakukan apa-apa dan hanya datang menghabiskan sumber daya saja. Anda harus tahu bahwa padi-padian dan tanaman lainnya bisa dipanen dengan hasil yang melimpah karena ada banyak orang yang bekerja keras untuk menanamnya. Jika Anda hanya ingin menikmatinya, menggunakannya, dan memakannya, berarti Anda hanya menghabiskan sumber daya, tetapi tidak berkontribusi. Jadi, Anda berutang kepada Bumi ini." Inilah hukum sebab akibat.

Waktu adalah kekayaan dan kekuatan. Untuk memperoleh pencapaian hidup, diperlukan waktu. Demikian pula di Jalan Bodhisatwa. Dari kehidupan ke kehidupan, Buddha tak pernah lepas dari Jalan Bodhisatwa. Jadi, kita juga harusmembangun ikrar yang sama dengan Buddha, yaitu berjalan di Jalan Bodhisatwa dari kehidupan ke kehidupan. Seperti inilah kita menjalani kehidupan yang bernilai.

Kita harus benar-benar bersyukur, menghormati, dan mengasihi kehidupan; harmonis tanpa pertikaian, menciptakan berkah bersama. Kita semua harus bersama-sama menggarap ladang berkah ini.

“Kami berterima kasih kepada Master karena telah membabarkan Sutra Bunga Teratai. Setiap hari kami akan mendengar ceramah Master, tekun melatih diri, mengubah kesadaran menjadi kebijaksanaan, dan mempraktikkan Enam Paramita. Sebagai murid Master, kami berikrar  untuk terjun ke tengah masyarakat dan menyebarkan benih kebajikan; menggenggam waktu yang ada, memanfaatkan kehidupan, menumbuhkan jiwa kebijaksanaan, serta memurnikan pikiran, ucapan, tindakan, dan mempraktikkan ikrar. Semoga Master panjang umur,” ujar Shi Qing-hai, relawan Tzu Chi.


Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Kehidupan terbatas, itu adalah hukum alam. Namun, jiwa kebijaksanaan yang tak berwujud akan abadi selamanya. Di dalam batin kita ada Puncak Burung Nasar yang tak berwujud dan seluas dunia. Ketika kita memiliki batin yang luas dan terbuka serta membentangkan jalan dengan rata, kita dapat menginspirasi orang-orang untuk bergabung dengan kita.

Saya berharap semua orang tidak menyerah. Saya berharap semua orang menjaga pikiran dengan baik. Ketika unsur-unsur dalam pikiran selaras, barulah empat unsur di dunia bisa selaras dan keharmonisan tercipta. Rasa terima kasih saya ini tak habis diungkapkan. Saya berterima kasih kepada kalian semuayang telah berbuat demi Tzu Chi, baik di masa lalu maunpun masa kini.

Harapan terbesar saya adalah kalian terus bersumbangsih di masa depan. Tzu Chi tak akan menjadi seperti saat ini jika tak ada kalian yang bersumbangsih di masa lalu. Semoga kalian terus mewariskan semangat Tzu Chi hingga masa depan dan berbagi pikiran baik satu sama lain.

Saya bersyukur bahwa Tzu Chi bertumbuh di tengah jiwa kebijaksanaan kalian. Jika jiwa kebijaksanaan kalian tak bertumbuh, maka semangat Tzu Chi tak dapat diteruskan. Kita semua memiliki tanggung jawab atas hal ini. Semoga jiwa kebijaksanaan kalian terus tumbuh dari hari ke hari. Semoga berkah dan kebijaksanaan  terus berkembang. Terima kasih.

Menyebarkan Dharma lewat tindakan nyata

Membuka jalan dengan tulus dan menggarap ladang berkah

Berkumpul bersama untuk mendengar Dharma guna meneruskan jiwa kebijaksanaan

Giat mempraktikkan Jalan Bodhisatwa

 

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 29 November 2018

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Li Lie, Marlina

Ditayangkan tanggal 1 Desember 2018

Artikel dibaca sebanyak : 86 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat