Selasa, 24 Oktober 2017
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Menginspirasi Bodhisatwa yang Tak Terhingga

Selamat Hari Ayah! Hari ini adalah Hari Ayah di Taiwan. Saya mendoakan semoga setiap ayah bahagia dan dipenuhi sukacita. Sungguh, yang terpenting adalah bersyukur dan mendoakan. Selain itu, kita juga harus memahami kebenaran dan membuka pintu hati. Kita harus menuju arah yang benar dan melakukan hal yang benar. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Dengan memahami kebenaran, kita bisa berbuat baik di tengah masyarakat dan membawa manfaat bagi orang banyak.

Inilah cara mengembangkan nilai hidup kita.

“Orang lain mungkin merasa bahwa kontribusi saya sangat besar. Sesungguhnya, kontribusi setiap insan Tzu Chi bagi masyarakat sangat besar. Saya bisa terus berkontribusi hingga sekarang berkat dukungan anak-anak dan keluarga saya,” kata Chen Qing-bo, relawan Tzu Chi di Sanxia.

Kita bisa melihat relawan Chen di Sanxia. Banyak orang yang memanggilnya “Dewa Bumi Sanxia”. Sebelum bergabung dengan Tzu Chi, dia juga pernah berjalan menyimpang. Dia sibuk meniti karier demi keluarganya, tetapi arahnya agak menyimpang.

doc tzu chi

“Dahulu, dia sangat gemar bermain mahyong. Terkadang, dia bermain hingga dua atau tiga hari tidak pulang ke rumah,” kata istri Chen.

“Lalu, apa yang Anda lakukan?” tanya reporter.

“Saya bersabar menghadapi semua itu. Saat sibuk, dia bermain mahyong. Saat tidak sibuk, dia juga bermain mahyong.”

“Sekarang sudah tidak seperti itu?” tanya reporter kembali.

“Sekarang? Setelah bergabung dengan Tzu Chi, hal pertama yang dilakukannya

doc tzu chi

adalah berhenti bermain mahyong. Saya yakin setelah bergabung dengan Tzu Chi, dia bisa memperbaiki tabiat buruknya. Sungguh, dalam waktu singkat,

dia berhenti berjudi. Sekarang temperamennya juga jauh lebih baik,” terang istri Chen.

“Saya sudah lama mengenal Tzu Chi. Saat itu, saya hanya membantu sesuai permintaan relawan lain. Saya bisa membantu kegiatan Tzu Chi, tetapi tidak bersedia mendaftar karena jika mendaftar, maka saya harus menaati aturan. Saya masih memiliki banyak tabiat buruk, seperti berjudi dan minum minuman keras. Sifat saya juga sangat keras dan tidak mudah dibujuk. Kemudian, saya membantu kegiatan seminar dan donor sumsum tulang. Saya melakukannya dengan gembira, tetapi tetap tidak bergabung dengan Tzu Chi. Belakangan, saya baru bergabung. Dengan bersumbangsih secara nyata, kita baru bisa merasakannya sendiri,” kata Chen.

Setelah mengikuti kegiatan Tzu Chi, dia bisa memahami Jalan Tzu Chi. Dia memahami jalan kebenaran dan bertekad untuk mencapai kebuddhaan. Ini berawal dari sebersit niat. Dahulu, dia bersungguh hati meniti karier. Kini, dia juga sangat bersungguh hati mengemban misi Tzu Chi. Selama lebih dari 20 tahun ini,

dia mengatasi berbagai kesulitan. Dia juga merupakan relawan pertama yang mengemban tanggung jawab sebagai relawan dokumentasi. Dia meninggalkan sejarah mengenai setiap kegiatan Tzu Chi sehingga kita bisa melihat kegiatan apa yang diadakan Tzu Chi pada waktu tertentu. Dia sangat ahli dalam melakukan perencanaan dan menginspirasi orang lain. Peranan apa pun yang dimainkannya, dia selalu berusaha sebaik mungkin. Dia memiliki hati Bodhisatwa, menapaki Jalan Bodhisatwa, dan terus menginspirasi orang lain.

Inilah kisah Relawan Chen. Kini dia telah berusia 84 tahun, tetapi dedikasinya tidak berkurang. Dia tetap sangat bersungguh hati. Selama ini, dia tidak pernah absen dari kegiatan Tzu Chi. Terlebih penggalakan kegiatan daur ulang, dia melakukannya dengan sangat baik. Dia dan istrinya memiliki kesatuan tekad. Mereka bersumbangsih secara nyata dan telah menginspirasi banyak relawan untuk meneladani mereka. Mereka sungguh merupakan teladan. Sebelumnya, tempat itu adalah sebuah tanur. Kemudian, kita membersihkannya. Lahan itu dimanfaatkan dengan baik untuk menanam buah-buahan dan sayuran. Dia sering mengajak relawan lain bercocok tanam di sana dan berbagi hasil dengan semua orang. Jadi, para relawan bersama-sama menanam sayuran organik dan berbagi hasil.

doc tzu chi

Pascatopan Haiyan di Filipina, tempat itu juga digunakan untuk membuat material ruang kelas dan rumah sementara bagi korban bencana di Filipina. Saya sangat tersentuh melihat para relawan di Sanxia yang pergi ke sana untuk membantu, bahkan relawan berusia 80-an hingga 90-an tahun juga turut membantu. Saat pergi ke sana, dari jauh saya melihat seorang relawan yang sudah beruban turut membantu mengangkat kerangka baja. Setelah berjalan mendekat, saya melihat bahwa relawan itu adalah Gao Ai. Saya berkata padanya, “Kamu sudah lanjut usia, mengapa tidak membiarkan relawan yang lebih muda mengerjakannya?” Dia berkata, “Master, justru karena saya sudah lanjut usia, orang lain pasti akan mengerjakannya jika saya tidak mengerjakannya.”  “Jadi, saya harus menggenggam kesempatan ini.” Dia selalu menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan yang berat.

Seperti inilah insan Tzu Chi. Meski sudah berusia 80-an tahun, dia tidak menyerah pada usia. Seperti inilah dia bersumbangsih selama ini. Ada banyak relawan sepertinya, termasuk istri Relawan Chen. Relawan Zi-fan juga tidak pernah absen dari kegiatan Tzu Chi, sama seperti suaminya. Mereka berdua bagaikan Dewa dan Dewi Bumi yang menjadi pelindung di Sanxia. Sanxia adalah sebuah ladang pelatihan Bodhisatwa. Satu benih bertumbuh menjadi tak terhingga dan yang tak terhingga bertumbuh dari satu. Mereka menginspirasi satu demi satu relawan hingga membentuk barisan yang panjang. Sejak mereka mengajak orang-orang berkunjung ke Griya Jing Si hingga sekarang, mereka telah menginspirasi banyak relawan.

Jadi, satu benih tumbuh menjadi tak terhingga. Kita harus menanam benih kebajikan di dalam hati setiap orang agar benih-benih ini bisa bertumbuh menjadi kebajikan yang tak terhingga di dunia ini. Intinya, menapaki Jalan Bodhisatwa sangatlah penting. Kini perubahan iklim sungguh sangat ekstrem. Setiap hari, kita bisa melihat bencana terjadi. Kita harus bermawas diri dan berhati tulus. Saya berharap setiap orang bisa bermawas diri dan membangkitkan ketulusan dari lubuk hati masing-masing. Kini jumlah sumber daya alam yang dikonsumsi manusia telah melampaui jumlah sumber daya alam yang dihasilkan Bumi. Seluruh umat manusia harus bekerja sama untuk mengubah pola hidup dan pola pikir masing-masing. Jika setiap orang bisa menjaga pikiran masing-masing, maka akan membawa manfaat besar bagi kondisi iklim. Ini bergantung pada hati setiap orang. Jika kita bisa membangkitkan hati Bodhisatwa untuk bersumbangsih bagi umat manusia, maka nilai hidup kita akan meningkat dan berkah kita akan bertambah. Dengan demikian, dunia baru bisa harmonis, aman, dan tenteram.

Mengubah kesesatan menjadi kesadaran dan berikrar untuk bersumbangsih
Menggarap ladang berkah di komunitas
Menginspirasi satu demi satu relawan hingga membentuk hutan Bodhi
Menghimpun kekuatan untuk menciptakan keharmonisan

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 8 Agustus 2017

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina

Ditayangkan tanggal 10 Agustus 2017

Artikel dibaca sebanyak : 346 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Giat menanam kebajikan akan menghapus malapetaka. Menyucikan hati sendiri akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat