Rabu, 26 Juni 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Menolong Orang yang Menderita dengan Keyakinan, Ikrar, dan Praktik

Selama beberapa hari yang lalu, relawan dari wilayah tengah Taiwan mengadakan kamp pengusaha. Para peserta kamp merupakan pengusaha yang hidup berada. Mereka berada di sini selama tiga hari. Sejak tiba di lokasi kamp, jadwal mereka sangat padat. Selama mengikuti kamp, mereka mendengar banyak relawan berbagi kesan dan pengalaman mereka. Bagaimana pandangan hidup mereka dahulu dan bagaimana perubahan pandangan hidup mereka setelah mengenal Tzu Chi. Para peserta kamp sangat tersentuh mendengarnya.

Mendengar apa yang dibagikan oleh peserta kamp yang kembali ke Griya Jing Si, saya sungguh sangat tersentuh. Mereka sangat menyesal tidak mengenal Tzu Chi lebih awal. Ada pula yang berkata bahwa dahulu, mereka hanya tahu Tzu Chi memiliki banyak relawan, tetapi tidak memahami semangat dan filosofi Tzu Chi. Setelah mengikuti kamp kali ini, masing-masing memperoleh pemahaman dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Semua orang sangat tersentuh.

 

Mereka juga merasa bahwa mereka hendaknya lebih awal bergabung dengan Tzu Chi. Saya juga menyatakan bahwa itu sangat disayangkan. Tzu Chi sudah berdiri 50 tahun lebih, lebih dari setengah abad. Saat bencana terjadi, Tzu Chi selalu menyalurkan bantuan. Mengapa orang-orang tidak memahami Tzu Chi? Mereka hanya tahu, tetapi tidak memahami Tzu Chi sehingga tidak bergabung.

Mereka hanya melihat bahwa Tzu Chi memiliki banyak relawan. Jika tidak memiliki banyak relawan, bagaimana Tzu Chi menjangkau dunia internasional? Tzu Chi telah menjangkau hampir setengah Bumi. Relawan kita bukan pergi berwisata, melainkan menyalurkan bantuan. Jika tidak memiliki banyak relawan, bagaimana Tzu Chi menjangkau orang-orang yang menderita untuk menyalurkan bantuan?

Tzu Chi berawal dari beberapa relawan yang menyisihkan 50 sen ke dalam celengan bambu setiap hari. Hingga kini, Tzu Chi telah berdiri lebih dari setengah abad. Tzu Chi bisa berdiri selama 50 tahun lebih dan melakukan begitu banyak hal berkat para insan Tzu Chi yang bagaikan Bodhisatwa  dunia. Kita bisa membawa manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan karena adanya insan Tzu Chi.

 

Jangan melupakan banyaknya Bodhisatwa yang bermunculan pada tahun 1999. Sesungguhnya, 30 tahun sebelum itu, yaitu sekitar 50 tahun yang lalu, para relawan kita telah perlahan-lahan mengakumulasi keyakinan, ikrar, dan praktik. Mereka membina keyakinan, membangun ikrar, dan bertindak secara nyata. Karena itulah, pascagempa 21 September 1999, relawan dari wilayah selatan dan utara dapat segera berkumpul di wilayah tengah.

Para relawan bermunculan dan membentuk kekuatan besar. Biasanya, mereka bersumbangsih di wilayah masing-masing. Saat bencana terjadi, mereka bersumbangsih bagi korban bencana. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka memperhatikan warga komunitas.

 

Bodhisatwa  sekalian, kalian sungguh memainkan peran yang sangat penting di Tzu Chi. Saya bersyukur pada kalian semua. Pascagempa 21 September 1999, semua relawan memiliki kesatuan hati. Saat bencana terjadi, insan Tzu Chi mengesampingkan bisnis dan mengorbankan waktu bersama keluarga untuk pergi ke wilayah tengah secara bergilir. Inilah yang dilakukan oleh anggota komite dan Tzu Cheng kita. Dari pembangunan atap hingga penyusunan konblok, mereka berpartisipasi dalam seluruh proses pembangunan. Dalam waktu 2 tahun lebih, mereka bisa merampungkan pembangunan 50 gedung sekolah di wilayah tengah Taiwan.

Di Tzu Chi, ada banyak Bodhisatwa  yang bersatu hati dan sepenuh hati mendedikasikan diri secara bersamaan. Ini sungguh tidak mudah. Insan Tzu Chi menjalankan Tzu Chi untuk menenteramkan batin, fisik, dan kehidupan semua orang. Jadi, selain memberikan bantuan darurat, Tzu Chi juga mendirikan Perumahan Cinta Kasih dengan lingkungan yang indah agar setiap keluarga dapat tinggal di lingkungan yang nyaman.

 

Di Perumahan Cinta Kasih ini, anak-anak bisa bermain dan orang dewasa bisa menikmati udara yang sejuk atau berinteraksi satu sama lain. Mereka yang semula tak saling mengenal kini bisa saling menyemangati setiap hari. Mereka bisa kembali bekerja untuk membangun kembali rumah mereka. Sekitar tiga tahun kemudian, mereka pindah keluar setelah kondisi ekonomi mereka pulih.

“Rumah kami telah roboh dan kami kehilangan segalanya. Tzu Chi sungguh sangat bersungguh hati dan memberi kami sebuah rumah yang aman dan penuh kehangatan,” tutur Zhang Cao Bo-nü, mantan Penghuni Perumahan Cinta Kasih.

“Meski rumahnya kecil, tetapi semua kebutuhan terpenuhi. Kami sangat nyaman tinggal di sana,” kata Chen Hong-wen, mantan Penghuni Perumahan Cinta Kasih.

“Bisa tinggal di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, kami termasuk yang paling beruntung di antara para korban bencana,” kata Yang Xue-zhu, mantan Penghuni Perumahan Cinta Kasih.

“Saya tidak menyelamatkan apa pun dari rumah saya. Yang bisa dijadikan kenang-kenangan hanyalah pelat nomor rumah ini. Saya akan selamanya mengingat bahwa tanpa bantuan Tzu Chi, saat itu kami sekeluarga empat orang entah harus tinggal di mana,” ujar Gao Jin-zhui, mantan Penghuni Perumahan Cinta Kasih.


“Sesungguhnya, semua orang berinteraksi bagai satu keluarga besar. Kami saling membantu dan memperhatikan,” ujar Chen Yi-xuan, mantan Penghuni Perumahan Cinta Kasih.

Mengenang saat itu, kita mendirikan rumah rakitan sementara untuk menenteramkan kehidupan korban bencana sehingga bisa membangun kembali rumah mereka dengan tenang. Saya mendengar bahwa relawan kita telah mengadakan reuni bagi mereka. Meski telah pindah dari Perumahan Cinta Kasih, mereka menunjukkan kenang-kenangan mereka dan berbagi tentang kenangan masa lalu dalam acara reuni tersebut.

Di Afrika Timur, kini kita juga berusaha untuk memperbaiki kehidupan warga setempat yang serba kekurangan. Untuk itu, mulai sekarang setiap orang harus mengembangkan cinta kasih untuk bersumbangsih. Ini bukan hal yang mustahil. Saya bersyukur kepada kalian semua. Tzu Chi bisa melangkah hingga kini berkat dedikasi kalian. Untuk melanjutkan misi Tzu Chi, kita harus membuat rencana jangka panjang. Kita harus bersumbangsih bagi orang yang mengalami kesulitan dan dilanda penderitaan. Kita harus membangun tekad dan ikrar yang tidak berujung.

 

Tzu Chi sudah lebih dari setengah abad menolong orang yang menderita

Bodhisatwa  bermunculan dengan keyakinan, ikrar, dan praktik

Insan Tzu Chi bekerja sama untuk menyalurkan bantuan darurat

Terus bersumbangsih dengan cinta kasih tak berujung

 

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 30 Mei 2019

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Li Lie, Marlina

Ditayangkan tanggal 1 Juni 2019

Artikel dibaca sebanyak : 146 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menggunakan kekerasan hanya akan membesarkan masalah. Hati yang tenang dan sikap yang ramah baru benar-benar dapat menyelesaikan masalah.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat