Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Turut Bersukacita Atas Pencapaian Orang Lain

Acara besar di Afrika Selatan tahun ini adalah relawan dari 10 negara dan wilayah berkumpul bersama untuk mengikuti pelatihan relawan di Johannesburg. Saya sangat berterima kasih kepada salah satu relawan  yang menyediakan tempat pelatihan ini. Ini juga merupakan tempat di mana kita bisa membimbing kaum muda di Afrika Selatan untuk melanjutkan misi amal dengan mengembangkan kekuatan cinta kasih guna menjangkau orang yang menderita atau orang yang terkena dampak bencana.

Lahan ini disumbangkan oleh Bapak Li Qing-long. Beliau juga membangun banyak ruang agar Tzu Chi dapat memanfaatkan tempat itu untuk mengadakan banyak acara. Mendengar ini, saya sangat tersentuh. Dua atau tiga tahun yang lalu, saya terus mengungkit bahwa Afrika Selatan merupakan tempat yang baik bagi kita untuk membimbing relawan melanjutkan misi amal Tzu Chi.

Kita bisa melihat kebijaksanaan, kepandaian, dan kepolosan mereka dalam bersumbangsih. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh menginspirasi dan membimbing lebih banyak penduduk lokal agar mereka bisa menjadi kaya batin walaupun hidup dalam kekurangan.

Ini karena mereka dapat membuka hati dan merasakan kekayaan batin. Jika semua orang bersumbangsih sedikit demi sedikit, juga bisa membantu orang-orang yang lebih membutuhkan agar jiwa dan raga mereka lebih tenang. Inilah yang saya pikirkan.


Tak disangka, tahun lalu Bapak Li membawa peta datang ke Hualien dan berkata pada saya bahwa beliau ingin menyumbangkan lahan itu kepada saya agar kita bisa mengembangkan misi Tzu Chi dengan lebih baik di Afrika Selatan. Setelah melihat petanya, saya merasa bahwa lahan itu sangat indah dan cocok dijadikan tempat pelatihan.

Kita membutuhkan tempat yang luas untuk mengadakan pelatihan relawan di Afrika Selatan pada tahun ini. Beliau pun segera menambah palet dan papan untuk membuat tempat tidur agar relawan dari 10 negara dan wilayah bisa tidur di tempat yang layak dan lapang selama mengikuti kamp pelatihan.

Mereka juga mendekorasi aula agar peserta pelatihan bisa mengikuti pelatihan di ruang yang baik. Saya juga mendengar bahwa para peserta mengikuti pelatihan dengan sangat tertib. Mereka juga menyanyikan lagu "Buddha di Puncak Burung Nasar" dan dengan sangat teratur melakukan prakdaksina sambil melantunkan lirik lagu tersebut. Mereka mengikuti kelas dengan sangat bersungguh-sungguh. Tahun ini mereka memiliki tempat pelatihan yang praktis, kukuh, dan aman.

Selain itu, para Bodhisattva juga harus menyediakan makanan yang cocok dengan selera para peserta. Mereka sangat bersungguh hati untuk menyajikan makanan yang baik dari segi rasa, aroma, dan tampilan. Kita bisa melihat kesungguhan hati relawan lokal. Di tempat yang serba kekurangan ini, bisa menyediakan tempat tinggal yang aman dan makanan yang disukai para peserta dari 10 negara dan wilayah, sungguh tidak mudah.

Meski hidup dalam kekurangan, mereka menjalankan kebenaran dengan sukacita. Meski tempat itu sangat sederhana, mereka juga bisa menganggapnya sebagai surga. Lihatlah bagaimana mereka berpuas diri di tengah kekurangan. Mereka juga pergi mengunjungi orang kurang mampu.

Salah satu relawan adalah istri dari Bapak Li yang menyumbangkan lahan. Beliau berkata bahwa ketika tiba di Mozambik, semua orang sedang mengadakan rapat. Beliau  bersama Bodhisattva lokal pergi melihat lahan lain di Mozambik yang disumbangkan oleh relawan lain. Kita sering membahas tempat pelatihan mereka itu. Lahan itu ditanami pohon mangga dan lain-lain. Ketika tiba di sana, mereka melihat banyak Bodhisatwa yang sedang mengikuti pelatihan.


Ibu Li berkata bahwa para peserta sangat mengagumkan, rapi, lingkungannya sangat indah, dan lain-lain. Melihat lahan yang mereka sumbangkan dapat dijadikan tempat pelatihan bagi relawan dari beberapa negara dan wilayah, Ibu Li sudah sangat bersukacita. Ketika melihat lahan lain di Mozambik yang disumbangkan oleh relawan lain itu juga dipenuhi begitu banyak orang yang mengikuti pelatihan, beliau juga turut bersukacita.

Inilah turut bersukacita atas perbuatan baik orang lain. Beliau sendiri sudah menyumbangkan lahan untuk dijadikan tempat pelatihan. Ketika melihat orang lain melakukan hal yang sama dan membuat semua orang bersukacita, beliau juga turut bersukacita. Ini merupakan sebuah kondisi batin. Bagaimana kita mengubah kondisi batin agar tetap berpuas diri dengan kehidupan kita? Kekayaan seperti apa yang harus kita kejar?

Sebenarnya, kekayaan materi bukanlah yang terpenting, yang terpenting adalah kekayaan batin. Contohnya, seorang anak miskin yang dijelaskan dalam Sutra Bunga Teratai. Sang anak menjadi pengembara, sedangkan ayahnya adalah orang yang sangat kaya. Mereka memiliki harta karun yang banyak. Namun, sang anak yang miskin dan menjadi pengembara ini tak tahu bahwa keluarganya sangat kaya.

Ayahnya terus mencari sang anak yang menjadi pengembara sejak kecil, lalu akhirnya dengan tak mudah menemukannya. Setelah menemukannya, sang ayah berkata pada anaknya bahwa semua harta karunnya akan menjadi milik anaknya. Tanpa sengaja mencari kekayaan itu, sang anak tiba-tiba mendapat kekayaan yang tak terduga. Ini menandakan bahwa setiap makhluk awam memiliki hakikat kebuddhaan.

Dharma seperti ini disebarkan ke Afrika Selatan lewat tindakan nyata sehingga warga setempat merasakan betapa bahagianya membantu orang. Meski hidup dalam kekurangan, setelah menerima ajaran Tzu Chi, mereka mengerti bahwa mereka juga bisa membantu orang yang lebih membutuhkan.


Melihat orang yang dibantu lebih kurang mampu dari mereka, mereka akan menyadari bahwa ternyata mereka masih bisa bersumbangsih. Dengan bersumbangsih tanpa pamrih, mereka menjadi kaya batin. Meski kondisi ekonomi mereka tidak baik, tetapi ketika mengikuti kamp pelatihan, mereka merasa sukacita seperti berada di Tanah Suci.

Melihat mereka seperti ini, saya sangat gembira. Apa yang mereka lakukan sejalan dengan bab Pahala dari Turut Bersukacita dari Sutra Bunga Teratai. Dari sini, kita bisa membuktikan kebenaran dalam Sutra.

 

Saling menginspirasi untuk berdana secara luas

Tempat pelatihan di Afrika Selatan merupakan jalinan jodoh yang baik

Turut bersukacita atas pencapaian orang lain

Melakukan tindakan nyata dengan batin yang kaya

 

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 1 November 2018

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Li Lie, Marlina

Ditayangkan tanggal 3 November 2018

Editor: Stefanny Doddy

Artikel dibaca sebanyak : 57 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat