Minggu, 27 Mei 2018
Indonesia | English

Menjaga Hati dan Pikiran Kita


Dalam kehidupan sehari-hari kita, kita perlu menjaga hati dan pikiran kita. Mengapa? Karena pikiran kita seperti binatang liar, kapan pun kita tidak berhati-hati, pikiran tidak baik akan muncul di dalam diri kita,dan hal ini menciptakan bahaya bagi diri sendiri. Pikiran tidak baik seperti keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan seperti energi negatif yang masuk dengan cepat ke dalam hati dan pikiran kita. Jadi, apa yang perlu kita lakukan adalah berhati-hati dengan menjaga hati dan pikiran kita dari gangguan pikiran yang tidak baik. Proses tersebut ibarat menciptakan tanggul di dalam batin kita.

Tanggul mencegah air membanjiri daratan. Jika air datang dan tanggul memberi jalan, bencana akan terjadi. Demikian pula, ketika pikiran kita memunculkan keserakahan, kemarahan, dan ketidakpedulian, tanggul batin kita akan mudah hancur. Gelombang kuat dari pikiran yang tidak baik akan meningkat dan menyebabkan kita melakukan kesalahan, serta memperlakukan orang dengan tidak baik.

Apa yang bisa kita lakukan mengatasi hal ini? Kita dapat berusaha untuk bersikaptulus, berhati-hati, dan bijaksana.

Untuk membersihkan pikiran-pikiran yang tidak baik, kita membutuhkan ketulusan. Ketika kita tulus dan jujur, kita tidak akan memiliki niat buruk terhadap orang lain. Sebagai imbalannya, orang tidak akan memberikan kesulitan atau masalah kepada kita. Ketika orang-orang tidak memberi kita masalah, maka kita tidak akan melakukan hal yang membahayakan mereka. Interaksi manusia itu saling menguntungkan. Ketika kita bersikap sopan dan hormat kepada orang lain, orang juga akan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Beginilah cara kerja interaksi manusia.

Dalam menangani urusan sehari-hari, kita perlu berhati-hati dan bijaksana karena ketika tidak berhati-hati, kita cenderung melakukan kesalahan. Inilah sebabnya mengapa kita perlu mengingat sila sepanjang waktu, karena ketika kita melupakan sila, kesalahan akan terbuat. Ketika hati dan pikiran kita tidak mengikuti sila, kita membiarkan keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan membelah tanggul pada batin kita dan masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Hanya dengan bersikap tulus, berhati-hati, dan bijaksana, kita dapat mencegah hal ini terjadi.

Saya berharap setiap orang dapat membangun tanggul di dalam batinnya dengan ketulusan, kehati-hatian, dan kebijaksanaan untuk melindungi diri dari derasnya keserakahan, kemarahan, serta ketidaktahuan.


Sumber: Ceramah Master Cheng Yen tanggal 20 Maret 2011

Diterjemahkan oleh: Michael Tjoe

Artikel dibaca sebanyak : 170 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
The beauty of humanity lies in honesty. The value of humanity lies in faith.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat