Minggu, 05 April 2020
Indonesia | English

Batang Besi dan Sapi Betina

Dengan memiliki hati penuh cinta kasih dan welas asih, secara alami hati kita akan terasa lapang. Hati yang lapang seluas laut dan langit membuat batin kita terasa damai dan membuat kita dapat merangkul semua makhluk. Hati yang seluas jagat raya dapat membuat kita hidup tenang dan damai. Jika kita dapat mempertahankan hati seperti ini, maka semua orang di dunia ini akan hidup bagaikan satu keluarga.

Kita semua hidup di kolong langit dan di atas bumi yang sama. Dunia ini bagaikan satu rumah besar. Saat kita menggunakan cinta kasih dan welas asih yang setara untuk memandang semua makhluk, maka semua orang bagaikan saudara kita. Setiap orang dapat hidup harmonis dan hidup berdampingan dengan alam.

Kehidupan yang tenang dan damai seperti ini merupakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat hidup kita penuh cinta kasih. Hati penuh cinta kasih mendatangkan berkah.

doc tzu chi indonesia

Di Zhejiang, Tiongkok, ada seorang pejabat. Pejabat itu memiliki seorang anak. Suatu hari, anak itu melihat sebuah stan peramal di pinggir jalan. Karena merasa tertarik, dia bertanya, "Ramalan Anda sangat tepat. Anda ramallah saya. Apakah saya memiliki nasib yang baik?"

Peramal itu meramalkannya dan berkata, "Kamu memang bernasib baik. Kamu terlahir di keluarga pejabat yang sangat berada. Akan tetapi, kamu pendek umur. Kamu hanya dapat hidup sekitar 18 tahun." Setelah mendengarnya, dia merasa sangat sedih. "Sekarang saya berusia 17 tahun, bukankah itu berarti waktu saya hanya tersisa 1 tahun saja?”

Tidak lama kemudian, ayahnya dimutasikan kerja. Untuk merayakan kedatangan pejabat baru, maka diadakanlah perjamuan. Saat sang ayah sibuk berbincang dengan orang, anak muda ini berjalan ke dapur. Dia melihat di depan dapur ada banyak sapi. Dia lalu menghitungnya. "Ada 8 ekor semuanya." Dia bertanya kepada juru masak, "Mengapa ada banyak sapi di sana?" "Itu lauk untuk perjamuan nanti.", jawab juru masak.

doc tzu chi indonesia

Juru masak itu mengambil batang besi yang tajam, lalu meletakkannya di atas tungku. Besi-besi itu dibakar hingga berwarna merah. “Semua sapi di sini adalah sapi betina yang sudah pernah melahirkan anak dan memiliki susu. Besi-besi yang panas ini ditancapkan ke bagian dada sapi. Setelah susunya membeku, baru dicabut keluar. Delapan ekor sapi ini diperuntukkan untuk membuat menu ini.”

Setelah mendengarnya, anak itu merasa ini sungguh kejam. Dia pun memohon kepada ayahnya agar mengeluarkan larangan bagi rakyat untuk mengonsumsi menu ini. Ayahnya pun mengeluarkan larangan itu. Delapan ekor sapi itu berhasil diselamatkan. Rakyat di seluruh kota itu pun menerima larangan itu.

Setelah itu, anak muda itu bermimpi. Delapan ekor sapi itu datang bersujud untuk berterima kasih padanya. Lalu, ada seorang makhluk surgawi yang datang mengucapkan selamat padanya. Bapak tua itu berkata, "Mulanya, usiamu hanya sampai 18 tahun. Namun, karena kamu menyayangi makhluk hidup, maka usiamu ditambah 80 tahun." Anak muda itu pun akhirnya menjadi pejabat. Dia meninggal di usia 90-an tahun tanpa menderita penyakit.

doc tzu chi indonesia

Ini adalah sebuah kisah zaman dahulu di Tiongkok. Setiap orang memiliki sifat bajik untuk melindungi kehidupan, hanya saja hati nurani sebagian besar orang sudah tertutupi. Demi memenuhi nafsu makan sesaat, manusia menyantap daging hewan. Jika dapat membangkitkan cinta kasih universal, maka kita dapat melindungi semua makhluk.

Dengan adanya hati penuh cinta kasih, maka semua makhluk di dunia dapat hidup aman dan tenteram. Jika kita membangkitkan niat buruk, maka makhluk hidup di dunia akan hidup menderita. Semua itu bergantung pada sebersit niat manusia. Jika setiap orang dapat bersama-sama membangkitkan hati penuh cinta kasih, maka hubungan antarsesama di dunia akan harmonis. Jika demikian, bukankah akan tercipta Tanah Suci di dunia?

Sayangnya, pikiran manusia sangat mudah berubah. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Di dalam satu keluarga, setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Mereka tak memiliki satu pola pikir yang sama. Terlebih lagi, makhluk hidup di dunia begitu banyak. Semua orang memiliki pola piker dan pandangan yang berbeda-beda.

Di dunia ini, manusia merupakan makhluk yang tercerdas. Sebersit niat penuh cinta kasih dapat melindungi semua makhluk di dunia. Jika setiap orang dapat memiliki hati penuh cinta kasih, bukankah dunia ini akan sangat damai dan tenteram?

Artikel dibaca sebanyak : 2206 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat