Senin, 25 Mei 2020
Indonesia | English

Master Bercerita: Benih Wijen

Segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki urutan pertumbuhannya. Kesuksesan manusia juga membutuhkan kesungguhan hati dan kerja keras. Karena itu, kita harus memahami kebenaran tentang semua orang dan materi di dunia ini.

Jika bertujuan untuk menapaki Jalan Bodhisatwa dan mendalami Dharma, kita harus berpegang pada ajaran Buddha dan berjalan selangkah demi selangkah sesuai urutan. Kita harus bersungguh hati dan bekerja keras. Kita tidak boleh bermalas-malasan atau mundur karena terpengaruh oleh kondisi luar.

 

Jika bermalas-malasan atau berhenti di tengah jalan, kita akan kehilangan kesempatan untuk maju. Jika kita membiarkan kondisi luar memengaruhi batin kita, kita tidak akan bisa menapaki Jalan Bodhisatwa. Karena itulah, saya berkata bahwa pertumbuhan segala sesuatu di dunia ini memiliki urutannya.

Kesuksesan seseorang membutuhkan kesungguhan hati dan kerja keras. Ini adalah kebenaran yang tidak bisa dimungkiri. Jika kita melanggar prinsip kebenaran, akan sulit untuk meraih kesuksesan.

Di dalam Sutra Seratus Perumpamaan, terdapat sebuah perumpamaan seperti ini.

 

Ada seorang petani yang mendengar bahwa menanam wijen hitam akan memperoleh hasil panen yang berlimpah. Selain itu, wijen hitam juga kaya nutrisi. Setelah mendengarnya, dia memutuskan untuk segera menanam wijen. Setelah menyiapkan dan membersihkan ladangnya, dia segera pergi membeli benih wijen.

Saat tiba di toko benih di kota, dia pun menanyakan benih wijen hitam. Dia menanyakan cara menanamnya, kondisi penjualannya, dan bagaimana rasanya saat dimakan. Dia mengajukan banyak pertanyaan.

 

Berhubung ingin memeriksa wijen itu harum atau tidak, petani itu mengambil segenggam wijen dan memasukkannya ke dalam mulut. Wijen mentah terasa sepat dan pahit.

Dia berkata, "Ini tidak lezat. Siapa yang mau membelinya?"

Pemilik toko benih berkata, "Wijen mentah tentu terasa sepat dan pahit. Setelah disangrai, wijen ini akan harum dan kaya nutrisi."

Akhirnya, dia membeli sekarung benih wijen. Setelah pulang ke rumah, dia menyalakan tungku dan menuang semua wijen ke dalam wajan. Dia menghabiskan waktu sepanjang hari untuk menyangrai wijen hingga panas, matang, dan harum.

Dia sangat gembira karena setelah disangrai, wijen-wijen itu menjadi sangat harum. Saat dicicipi, wijen itu juga terasa lezat. Dengan puas dan gembira, dia membawa benih-benih wijen yang telah matang itu ke ladangnya. Di sana, dia mulai menabur benih wijen. Dia sangat bersusah payah.

 

Setelah menabur benih, dia merawat ladangnya setiap hari. Melihat rumput-rumput tumbuh semakin tinggi, dia pun bersungguh hati mencabutnya. Namun, benih-benih wijen tetap tidak bertunas. Dia merasa sangat pusing.

 

Petani di sebelah ladangnya yang melihat dirinya bekerja keras setiap hari merasa heran mengapa benih-benih wijennya tidak bertunas dan bertanya padanya, "Mengapa benih-benihmu begitu buruk?"

Dia menjawab, "Saya juga tidak tahu. Ini pertama kalinya saya menanam wijen. Saya tidak tahu mengapa benih-benih ini tidak bertunas."

Petani itu berkata, "Saya akan memeriksanya."

Petani itu lalu berjongkok dan menggali tanahnya. Melihat benih-benih yang sudah matang itu, petani itu bertanya, "Mengapa benihmu matang?"

Dia berkata, "Saat saya membeli benih-benih ini, pemilik toko benih mengajari saya berbagai cara menanam wijen. Saya juga mencicipi wijennya dan rasanya tidak lezat. Dia memberi tahu saya bahwa setelah disangrai, wijen akan menjadi harum. Setelah pulang ke rumah, saya pun menyangrai, lalu menanamnya. Saya melakukan semuanya sesuai ucapannya."

 

Petani itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kamu bodoh sekali. Cara yang diajarkan pemilik toko benih padamu tidak salah. Namun, menyangrai wijen hingga matang dan harum ialah langkah bagi orang-orang yang membelinya untuk dimakan. Kamu menyangrai benih wijen hingga matang, bagaimana ia bisa bertunas dan berakar?"

Mendengar kisah ini, kita tahu bahwa pertumbuhan segala sesuatu memiliki urutannya. Untuk meraih kesuksesan, kita juga harus menggunakan cara yang tepat dan mengembangkan kebijaksanaan. Contohnya petani yang ingin menanam wijen itu. Meski tahu cara menanamnya, tetapi dia melakukannya dengan urutan yang salah. Begitu pula dalam menapaki Jalan Bodhisatwa. Kita membutuhkan metode yang tepat untuk mencapai tujuan kita.

Selain metode yang tepat, urutannya juga sangat penting. Setelah mengatur urutan dengan benar, kita juga harus tekun dan gigih.

 

Petani juga membutuhkan cara dan urutan yang tepat serta kegigihan dalam bercocok tanam. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sangat waspada. Jika kita tidak berhati-hati dan mengacaukan urutannya, semuanya akan sia-sia meski kita mengetahui cara yang tepat.

Kita harus memahami bahwa hidup manusia penuh dengan penderitaan. Jika kita tidak memahami penderitaan, bagaimana kita bisa tersadarkan? Jadi, kita harus memahami kebenaran tentang penderitaan.

Dari mana penderitaan berasal? Dari akumulasi.

Noda batin kita terus terakumulasi akibat perselisihan dengan sesama manusia. Kini, untuk menghapus kegelapan dan noda batin, kita harus melatih diri di Jalan Kebenaran. Tujuan kita menapaki jalan ini ialah terjun ke tengah masyarakat untuk membawa manfaat bagi orang-orang. Mari kita lebih bersungguh hati. Kita harus tahu metode yang tepat dan jangan mengacaukan urutannya. Selain itu, kita juga harus berani, tekun, bersemangat, dan gigih.

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)
Penerjemah : Hendry, Karlena, Marlina, Stella (DAAI TV Indonesia)
Penyelaras : Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 333 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Walau berada di pihak yang benar, hendaknya tetap bersikap ramah dan bisa memaafkan orang lain.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat