Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Buddha Memanggul Peti

Hubungan antara orang tua dan anak adalah sesuatu yang sangat mengagumkan. Sesungguhnya, cinta kasih di antara ayah, ibu, dan anak adalah suatu hubungan yang sulit untuk diputuskan. Namun, di zaman sekarang ini, setelah dewasa, banyak anak yang meninggalkan kampung halaman. Di kampung halaman hanya tertinggal kedua orang tua. Karena itu, hubungan antara orang tua dan anak menjadi semakin datar.

Ada pula orang tua yang tinggal bersama anak-anak mereka. Saat orang tua jatuh sakit, mereka mungkin tidak sanggup merawat sehingga mengantar orang tua ke panti jompo. Inilah hubungan orang tua dan anak di zaman sekarang ini. Di zaman dahulu, membalas budi orang tua adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Setiap orang wajib berbakti kepada orang tua.


Untuk mewujudkan rasa bakti, anak harus menyediakan kehidupan yang berkecukupan, menyediakan makanan yang lezat, pakaian yang hangat, dan tempat tinggal yang nyaman bagi orang tua. Ini menunjukkan sikap hormat seorang anak kepada orang tua. Memberikan kenikmatan hidup adalah wujud bakti di kehidupan ini. Ajaran Buddha mengajarkan kepada kita tentang wujud bakti yang lebih besar. Wujud bakti di dalam Buddhisme bukan hanya pada kehidupan ini saja, melainkan juga membimbing orang tua agar dapat mendalami Dharma dan menumbuhkan jiwa kebijaksanaan setiap hari.

Inilah cara membalas budi luhur orang tua yang diajaran dalam buddhisme. Inilah wujud balas budi yang sesungguhnya. Demi mencapai pencerahan dan memberi manfaat bagi semua makhluk, Pangeran Siddharta dari Negeri Kapilavastu memutuskan untuk meninggalkan keduniawian. Beliau sangat bersungguh hati melatih diri untuk mencapai pencerahan. Akhirnya, pangeran mencapai kebuddhaan. 8 tahun kemudian, Buddha kembali ke istana.


Mendengar putranya akan kembali, Raja Suddhodana sangat gembira. Saat Buddha dan kelompok Sangha tiba, raja, para menteri, seluruh anggota keluarga kerajaan, dan para rakyat bersujud memberi hormat. Melihatnya, Buddha segera menghindar. Setelah Raja Suddhodana memberi sujud 3 kali, Buddha lalu menghadap ayahanda-Nya untuk memberi sapa. Buddha kembali ke Negeri Kapilavastu untuk membabarkan Dharma.

Baik anggota keluarga kerajaan, menteri, maupun para rakyat, semuanya datang mendengar pembabaran Dharma. Demi memenuhi harapan Buddha, Raja Suddhodana memberi izin kepada keluarga yang memiliki lebih dari dua anak, salah satu anaknya dapat menjadi Sangha. Banyak anak dari pangeran dan menteri yang mengikuti Buddha untuk mempelajari kebenaran.


Raja Suddhodana juga sudah berusia lanjut. Beliau juga sakit-sakitan. Kakak-kakaknya, anggota keluarganya, dan para menteri terus mendampingnya sepanjang hari. Raja Suddhodana berkata, "Orang yang ingin saya temui kini tak ada di sisi saya." Salah seorang kakaknya menjawab, "Yang Mulia, Buddha, Nanda, Ananda, dan Rahula kini tengah membabarkan Dharma di Kota Rajagrha yang berjarak ratusan kilometer dari sini. Mana mungkin mereka datang menjenguk Yang Mulia?"

Mengetahui hal tersebut, Buddha berkata kepada Nanda, Ananda, dan Rahula, "Usia kehidupan Yang Mulia sudah hampir habis. Mari kita segera pulang untuk memenuhi harapannya yang terakhir." Mereka menggunakan kekuatan batin untuk kembali ke Kapilavastu. Di sisi Raja Suddhodana, Buddha menggenggam tangan ayahanda-Nya sambil berkata, "Ayahanda, putramu sudah kembali." Buddha membabarkan Dharma untuk Raja Suddhodana sebelum ajal menjemput. Raja Suddhodana pun meninggal dengan damai.


Rahula berkata, "Yang Dijunjung, izinkanlah aku memanggul petinya." Nanda dan Ananda juga mengajukan permintaan yang sama. Buddha menjawab, "Aku ingin menginspirasi  orang-orang tentang pentingnya  berbakti. Karena itu, Aku harus memanggul peti untuk menjadi teladan." Pada saat itu, Empat Maharaja Langit muncul. Mereka memberi hormat kepada Buddha, lalu berkata, "Kami berempat juga bersedia memanggul peti sebagai wujud balas budi karena beliau telah melahirkan Buddha."

Kisah Buddha memanggul peti ini bertujuan untuk membimbing orang-orang agar mewujudkan bakti yang lebih besar. Tidaklah cukup jika hanya berbakti pada kehidupan ini saja. Kita harus mendukung orang tua agar berkesempatan mendalami ajaran Buddha, menyerap Dharma ke dalam hati, dan menyemangati mereka untuk menciptakan berkah dan menjalin jodoh baik. Dengan menanam benih baik, maka kita akan menuai berkah. Inilah wujud bakti yang sesungguhnya.


Jika kita hanya menikmati hidup tanpa mendalami kebenaran, maka kehidupan kita akan berlalu sia-sia. Selain kehidupan berlalu sia-sia, noda batin kita juga akan terus bertambah. Jika hanya tahu menikmati hidup tanpa mendalami kebenaran, maka kehidupan kita akan berlalu sia-sia.

Wujud bakti yang sesungguhnya adalah kita harus membimbing orang tua agar berkesempatan menciptakan berkah dan memahami ajaran Buddha. Bukankah ini dapat dilakukan oleh setiap orang? Setiap orang di dunia harus belajar membimbing orang tua agar mendalami Dharma dan memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Artikel dibaca sebanyak : 555 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap mulia yang paling sulit ditemukan pada seseorang adalah kesediaan memikul semua tanggung jawab dengan kekuatan yang ada.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat