Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Ibu di Lima Kehidupan

Timbul dan lenyapnya jalinan jodoh merupakan hal yang sangat menakjubkan dan tak terbayangkan. Di sini, saya ingin berbagi tentang jalinan jodoh. Timbulnya jalinan jodoh mengandung Dharma yang sangat menakjubkan. Saya sering berkata bahwa kita harus percaya pada hukum sebab akibat. Jalinan jodoh setiap orang berbeda-beda. Hidup kita tak luput dari hukum sebab akibat. Jalinan jodoh seseorang dengan keluarganya, teman-teman di sekitarnya, dan pasangan hidupnya pasti berbeda-beda.

Terkadang, timbul dan lenyapnya jalinan jodoh dapat mendatangkan penderitaan yang tak terkira di dunia ini. Terkadang, perpaduan sebab dan kondisi dapat mendukung pencapaian orang-orang. Jadi, jalinan jodoh sungguh tak terbayangkan.

 

Ada sebuah kisah yang Buddha ceritakan untuk menjelaskan hukum sebab akibat. Ada seorang anak yang baru berusia tujuh tahun, tetapi terus merenungkan bagaimana dia terlahir di dunia ini dan ke mana dia akan pergi setelah hidupnya berakhir. Dia terus bertanya-tanya akan hal ini. Dia membicarakan hal-hal yang berbeda dengan anak-anak seusianya.

Suatu hari, dia memohon pada ibunya untuk mengizinkannya pergi mencari kebenaran. Ibunya merasa sangat tidak rela, tetapi tetap mengizinkannya pergi. Anak ini pergi ke mana-mana untuk mencari guru yang bijak. Beberapa hari kemudian, dia bertemu dengan seorang Arhat yang melatih diri di tengah pegunungan.

 

Dia memohon kepada Arhat ini untuk menerimanya sebagai murid. Arhat ini merasa bahwa anak ini cukup unik dan menerimanya dengan gembira. Anak ini sangat tekun. Dia bersungguh hati mendengarkan setiap ajaran gurunya. Dia juga merenungkannya secara mendalam.

Beberapa tahun kemudian, saat anak ini sedang bermeditasi, gurunya melihat senyuman di wajahnya. Usai melakukan meditasi, gurunya bertanya padanya, "Tadi, saat melakukan meditasi, mengapa kamu tersenyum?" Anak ini menjawab, "Saat sedang bermeditasi, saya melihat lima ibu saya di kehidupan lampau. Di salah satu kehidupan saya, saya meninggal dunia beberapa hari setelah dilahirkan sehingga ibu pertama saya sangat menderita. Di kehidupan lainnya, kedua orang tua saya sangat mengasihi saya. Namun, beberapa bulan kemudian, saya meninggal dunia. Kemudian, saya terlahir kembali.

 

“Sepuluh tahun kemudian, saya meninggal dunia. Ibu ketiga saya sangat sedih karenanya. Di kehidupan lainnya lagi, saya hidup selama 20 tahun dan ibu keempat saya menaruh banyak harapan pada saya. Namun, ketidakkekalan tiba-tiba datang dan saya meninggal dunia. Hati ibu saya ini bagaikan diiris pisau dan ditusuk jarum. Ibu saya di kehidupan sekarang adalah ibu kelima.

“Saat berusia tujuh tahun, saya memohon pada ibu saya untuk mengizinkan saya pergi melatih diri. Ibu saya merasa sangat tidak rela. Dalam waktu sekitar 30 tahun, saya telah membawa banyak penderitaan bagi kelima ibu saya. Semua ini terjadi karena timbul dan lenyapnya jalinan jodoh."

Gurunya lalu bertanya padanya, "Apa yang kamu pelajari dari hal ini?" Dia menjawab, "Manusia sangat menderita karena kelahiran dan kematian. Karena itu, saya tidak boleh melekat pada kelahiran dan kematian. Saya harus lebih bersungguh hati dan tekun."

 

Pada usia 7 tahun yang masih belia, anak ini bertekad untuk melatih diri. Setelah beberapa tahun bersungguh hati belajar dari gurunya, saat bermeditasi, dia bisa melihat kelahiran dan kematiannya di kehidupan lampau serta penderitaan kelima ibunya akibat jalinan jodoh mereka.

Apa pengaruh jalinan jodoh bagi kita? Saudara sekalian, apakah orang tua kalian masih hidup? Apakah mereka mengkhawatirkan kita? Jika mereka sudah meninggal dunia, ke mana mereka pergi? Kehidupan setiap orang berbeda-beda. Selagi kita masih hidup, apa yang harus kita lakukan? Manusia mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Jika hanya melewati hari demi hari, kita tidak akan memahami betapa dalamnya makna kehidupan dan bagaimana memanfaatkan tubuh yang diberikan oleh orang tua ini. Karena itu, kita harus bersungguh hati.

 

Berhubung telah terlahir sebagai manusia, kita harus menggenggam kehidupan sekarang untuk menyelami Dharma dan melatih diri. Jika tidak menyelami Dharma, kita akan selamanya diliputi kegelapan batin dan tidak pernah memikirkan bagaimana kita terlahir di dunia ini dan mengapa kita hidup di dunia ini. Banyak orang yang tak pernah memikirkannya.

Kini kita memiliki kesempatan untuk mencari tahu bagaimana kita terlahir di dunia ini. Meski tidak memperoleh jawaban yang pasti,

tetapi setidaknya, kita tahu bahwa semuanya bergantung pada hukum karma. Kita tahu bahwa kita terlahir di sebuah keluarga karena jalinan jodoh dengan orang tua kita. Kita juga tahu bahwa kita harus memanfaatkan tubuh yang diberikan oleh orang tua ini untuk membawa manfaat bagi dunia.

Artikel dibaca sebanyak : 459 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat