Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Kisah Putri Raja Asoka

Dalam seratus tahun setelah Buddha wafat, di Kota Rajgir ada seorang raja bernama Asoka yang merupakan raja yang agung dan bijaksana di India. Di dalam istananya, ada banyak pelayan yang sering mendengar sebuah cerita.

Pada zaman Buddha masih hidup, ada dua anak laki-laki yang sedang bermain pasir. Salah satu di antaranya berkata, "Aku akan menjadi raja dan engkau menjadi menteriku. Mari kita membangun istana. Mari kita membangun kerajaan besar dengan istana di dalamnya." Jadi, mereka berdua membangun istana di sana.

Anak kedua berkata, "Baiklah, mari kita bangun sebuah kerajaan besar. Kerajaan besar membutuhkan gudang besar, baru bisa menyimpan banyak bahan pangan dan barang berharga." 

Saat mereka sepenuh hati membangun istana dan gudang besar, Buddha berjalan mendekati mereka. Saat salah satu anak  yang sedang membangun istana mendonggak dan melihat Buddha, hatinya dipenuhi sukacita. Melihat Buddha memegang mangkuk-Nya, anak ini segera mencedok segenggam pasir dari lokasi gudang dan dengan hormat berkata kepada Buddha, "Yang Dijunjung, aku mempersembahkan rasa hormat tertinggi dan bahan pangan terbaikku."

Dia lalu mengisi mangkuk Buddha dengan pasir tersebut. Buddha melihat bahwa anak ini sangat menggemaskan. Meski anak ini sedang bermain, tetapi melihat anak ini begitu tulus, Buddha sangat gembira dan berkata, "Engkau sangat tulus. Semoga dalam seratus tahun mendatang, engkau dapat menguasai seluruh kerajaan di India dan menjadi seorang raja yang menjunjung Dharma."     

Di Kota Rajgir, banyak orang yang berkata bahwa Raja Asoka merupakan anak yang seratus tahun lalu diramal oleh Buddha. Kini, sebagai seorang raja, Raja Asoka menjunjung Dharma  serta sering memberi persembahan kepada para anggota Sangha di istana. Selain itu, rakyat hidup tenteram dan makmur. Di dalam istana, ada seorang pelayan yang pernah mendengar cerita ini dan berpikir, "Seratus tahun yang lalu, Yang Mulia dengan penuh hormat memberi persembahan berupa segenggam pasir kepada Buddha dan memperoleh berkah sebesar ini. Sebagai seorang pelayan di istana, aku tak bisa memberi persembahan apa pun. Apakah di kehidupan mendatang aku akan semakin miskin?" Dia mengeluh akan nasibnya sendiri.


Suatu hari, dia melihat sebuah koin di lantai. Dia segera memungut dan menggenggamnya di telapak tangannya. Dia terus mencari pemilik koin tersebut. Beberapa hari berlalu, tetapi dia tidak menemukan pemilik koin tersebut. Jadi, dia berpikir, "Koin ini mungkin tidak berarti bagi pemiliknya, tetapi bagi aku, ini sangat berharga. Berkesempatan untuk memberi persembahan kepada anggota Sangha, inilah harapan terbesar dalam hidupku."

Suatu hari, sang raja ingin memberi persembahan kepada anggota Sangha lagi. Melihat anggota Sangha pertama, pelayan itu mempersembahkan koin dengan penuh rasa hormat. Saat menerima koin, anggota Sangha itu mendoakan pelayan itu dengan tulus semoga harapannya dapat terwujud. Pelayan itu berpikir, "Semoga aku bisa menjadi kaya agar bisa terus memberi persembahan kepada anggota Sangha. "Inilah satu-satunya harapannya.                           

 

Beberapa hari kemudian, pelayan itu tiba-tiba meninggal dunia. Setelah itu, istri Raja Asoka mengandung. Sang ratu melahirkan seorang putri. Setelah lahir, tangan kanan sang putri selalu mengepal. Karena itu, dia disebut "Putri Kepalan Tangan". Dua atau tiga tahun kemudian, sang ratu berkata kepada Raja Asoka, "Putri kita sangat menggemaskan dan semua orang sangat menyayanginya. Namun, entah mengapa dia enggan membuka kepalan tangannya."                             

Raja Asoka lalu mengelus-elus tangan putrinya dan perlahan-lahan membuka kepalan tangannya. Ternyata, di telapak tangan kanannya terdapat sebuah koin. Setelah melihatnya, Raja Asoka mengambil koin itu. Kemudian, muncul sebuah koin lagi di tangan putrinya. Orang-orang pun mulai membicarakan tentang seorang pelayan di istana yang dengan penuh hormat mempersembahkan koin yang ditemukannya, lalu terlahir kembali menjadi putri Raja Asoka.

 

Ini merupakan salah satu kisah dalam Sutra. Jika ingin memberi tahu orang-orang bahwa berdana dapat mendatangkan berkah, kita dapat menggunakan kisah ini. Ini juga dapat menginspirasi orang-orang. Asalkan bersumbangsih dengan tulus, dana kecil pun dapat menciptakan pahala besar. Semuanya bergantung pada pikiran kita. Saat kita berdana dengan tulus dan penuh hormat, berarti kita menciptakan berkah. Pelayan itu mendengar tentang kisah kedua anak pada seratus tahun lalu        dan menyaksikan kondisi Raja Asoka sekarang. Karena itu, dia terinspirasi untuk menggunakan hati yang tulus dan penuh rasa hormat guna memberi persembahan kepada anggota Sangha. Kemudian, dia pun terlahir kembali sebagai seorang putri di istana. Koin di telapak tangannya ialah buktinya.           

 

Saya sering berkata bahwa butiran beras dapat memenuhi lumbung. Menyisihkan segenggam beras tidak akan memengaruhi kelangsungan hidup satu keluarga. Namun, akumulasi beras yang disisihkan dapat digunakan untuk menolong keluarga lain. Dalam dunia Tzu Chi, banyak orang yang bersumbangsih sedikit demi sedikit. Ini demi membangkitkan cinta kasih orang banyak. Kita menggunakan metode praktis untuk membimbing orang-orang untuk membangkitkan cinta kasih di dalam hatinya. Ini termasuk sebuah pendidikan.      

Dalam Sutra terdapat banyak kisah yang menggunakan perumpamaan untuk mengajarkan kebenaran. Kini kita hendaknya mempraktikkan kebenaran untuk membawa manfaat bagi masyarakat.

 

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)

Penerjemah : Hendry, Karlena, Merlina (DAAI TV Indonesia)

Penyelaras : Hadi Pranoto 

Artikel dibaca sebanyak : 481 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat