Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Memberi Persembahan kepada Buddha

Saat kekurangan air Dharma, ladang batin kita bagaikan bumi yang dilanda kekeringan. Saat bumi kekeringan, benih yang ditabur tidak akan bertunas. Kita juga harus membasahi ladang batin kita, baru bisa menggarap ladang berkah. Bumi membutuhkan air, ladang batin kita juga membutuhkan air Dharma. Tanpa adanya jalinan jodoh, kita tidak akan bisa membasahi ladang batin dengan air Dharma.

Begitu pula dengan bumi. Tanpa perpaduan aliran udara dan faktor lainnya, awan tidak akan terbentuk dan tidak akan turun hujan. Jadi, dibutuhkan jalinan jodoh. Saat awan hitam terbentuk, maka akan turun hujan. Kita semua harus menggenggam jalinan jodoh. Dengan menabur benih yang baik, maka kita akan bertemu jalinan jodoh baik.

Tidak peduli seberapa dalam benih ini tertanam dan seberapa banyak noda batin yang terakumulasi, suatu hari nanti, saat kita menghapus noda batin, sifat hakiki kita akan timbul. Jadi, dalam melatih diri, kita harus menjalin jodoh baik. Karena itulah, Buddha berulang kali menciptakan berkah di tengah umat manusia. Di tengah umat manusia, Buddha bisa mengembangkan kebijaksanaan. Jadi, Buddha membina berkah sekaligus kebijaksanaan.


Suatu hari, Buddha dan Ananda pergi mengumpulkan makanan. Buddha sengaja mengenakan jubah yang robek. Seorang brahmana sangat gembira melihat Buddha yang agung. Saat melihat Buddha mengenakan jubah yang robek, dia merasa tidak tega. Dia lekas menggunting sepotong kain di rumahnya dan mempersembahkannya kepada Buddha. Buddha sangat senang dan berkata kepada brahmana itu, "Dengan membangkitkan niat baik seperti ini, kelak engkau juga akan menjadi Buddha."

Mendengar hal ini, banyak orang yang memberi persembahan meski bukan orang berada. Jadi, setiap orang mempersembahkan kain kepada Buddha. Buddha juga memberkati mereka semua. Ananda lalu berkata, "Buddha, apa jalinan jodoh di balik semua ini?" Buddha berkata bahwa berkalpa-kalpa yang lalu, ada seorang Buddha, Buddha Vipasyin, yang memimpin lebih dari 90.000 anggota Sangha berkelana di sebuah negeri. Rakyat di sana sangat menghormati mereka.


Suatu hari, seorang menteri pergi ke vihara dan memohon kepada Buddha Vipasyin, "Buddha, aku sangat ingin memberi persembahan dan berharap Buddha Vipasyin bisa menerimanya." Buddha Vipasyin bertanya, "Persembahan apa yang ingin engkau berikan?" Menteri berkata, "Izinkan aku memberi persembahan selama tiga bulan." Buddha Vipasyin pun menyetujuinya. Menteri itu sangat gembira dan pulang untuk melakukan persiapan. Kemudian, raja pun datang. Raja berkata kepada Buddha Vipasyin, Aku mempunyai satu permintaan. Aku berharap bisa memberi persembahan selama tiga bulan."

Buddha Vipasyin lalu berkata, "Sayang sekali, Aku baru saja menyetujui permintaan yang sama dari sang menteri." Raja pun pulang dengan kecewa. Raja lalu mengundang menteri untuk berdiskusi, "Bisakah engkau mengalah agar aku bisa memberi persembahan selama tiga bulan?" Menteri berkata, "Bisa, asalkan Baginda bisa menjamin bahwa tiga bulan kemudian, aku dan Buddha Vipasyin masih hidup serta tidak terjadi bencana agar aku bisa memberi persembahan."


Raja berkata, "Aku tidak bisa menjaminnya. Begini saja, aku juga khawatir tidak bisa memberi persembahan karena ketidakkekalan." Bagaimana jika aku memberi persembahan pada hari pertama dan engkau pada hari kedua? Kita memberi persembahan berselang-seling." Menteri pun menyetujuinya. Jadi, pada hari pertama, raja yang memberi persembahan kepada Sangha.

Selama tiga bulan, bukan hanya menyiapkan makanan, sang menteri juga menyiapkan jubah terbaik bagi Buddha Vipasyin. Setiap anggota Sangha mendapat satu jubah. Dia memberi persembahan yang sama kepada setiap anggota Sangha. Bercerita sampai sini, Buddha berkata pada Ananda, "Ananda, tahukah engkau bahwa menteri itu adalah salah satu dari kehidupan lampau-Ku? Saat Buddha Vipasyin datang ke dunia ini, Aku memberi persembahan dan mempelajari Dharma dengan sepenuh hati.Sang raja juga melakukan hal yang sama. Karena itu, sang raja semakin rajin memberi persembahan kepada Buddha. Berkat jalinan jodoh ini, sang raja bisa menjadi Bodhisattva Maitreya yang akan menjadi Buddha di masa mendatang."


Buddha mengenakan jubah yang robek saat pergi mengumpulkan makanan sehingga brahmana yang melihat-Nya memutuskan untuk memberi persembahan dan menginspirasi orang-orang. Karena itu, Ananda menanyakan jalinan jodoh di balik semua itu. Buddha menciptakan berbagai jalinan jodoh untuk membabarkan Dharma. Ini membutuhkan jalinan jodoh. Ladang batin semua makhluk juga membutuhkan jalinan jodoh agar bisa dibasahi oleh air Dharma. Sifat hakiki kita yang murni juga tertanam dalam. Dengan adanya basuhan air Dharma, barulah sifat hakiki kita akan perlahan-lahan timbul.

Artikel dibaca sebanyak : 545 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat