Sabtu, 21 September 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Perangkap Pemburu

Dalam setiap kehidupan, kita tidak tahu ke mana akan pergi setelah meninggal nanti. Saya yakin kalian juga tidak tahu mengapa bisa terlahir pada kehidupan ini. Apakah kita puas dengan kehidupan ini? Mungkin ada banyak hal yang berjalan tak sesuai kehidupan kita. Meski hanya memiliki sedikit keinginan, tetapi ada orang yang memiliki penyesalan dalam hidup.

Penyesalan muncul karena ada banyak hal yang ingin mereka ketahui, ada banyak hal yang ingin mereka lakukan, dan lain-lain. Kita seperti sangat jauh dari rasa puas. Di dalam kehidupan ini, kita seperti memiliki banyak keinginan dan permintaan. Setiap orang memiliki keinginan dan permintaan yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda-beda pula.

Saat pola pikir kita berada di arah yang benar, maka kita akan memahami bahwa kegelapan batin membuat kehidupan kita bagai  berada dalam kegelapan. Setelah memahaminya,  kita akan berusaha mengikis kegelapan batin. Jika tidak mengetahui arah yang benar, maka mungkin kita akan menciptakan kegelapan dan noda batin sendiri hingga terperangkap di dalamnya. Semakin lama kita terperangkap semakin dalam tanpa menyadarinya.


Ada sekelompok pemburu yang memasang perangkap dengan harapan  dapat memperoleh hasil buruan dengan mudah. Di dalam sebuah hutan, mereka memasang banyak perangkap. Mereka menggali banyak lubang dan menata senjata tajam di atas tanah, lalu menutupinya dengan daun. Suatu hari, ada seekor rusa yang menginjak salah satu perangkap dan jatuh ke dalam lubang. Rusa itu menangis dengan suara keras.

Mendengar suara tangisan itu dari kejauhan, para pemburu berlarian untuk mencari lubang tempat jatuhnya rusa. Pemburu dari berbagai penjuru mendekat untuk mencari. Beberapa pemburu jatuh ke dalam perangkap dan terluka oleh bambu runcing di dalamnya. Ada pemburu yang meninggal akibat menderita luka parah, ada pula yang meringis kesakitan. Selain suara tangisan rusa yang besar, suara pemburu yang terjebak perangkap jauh lebih besar.


Saat mendengar berita ini, keluarga pemburu segera datang memberi pertolongan. Ada pemburu yang sudah meninggal, ada yang menderita luka ringan, ada pula yang menderita luka berat. Beberapa keluarga di desa mengadakan upacara pemakaman. Ada pula keluarga yang mencari dokter dan pengobatan. Mereka terluka akibat perangkap sendiri karena mereka tidak tahu perangkap yang digali pemburu lain. Saat mendengar suara tangisan rusa, mereka berlarian untuk mencari sehingga terjebak perangkap.

Para pemburu menghabiskan waktu untuk menyembuhkan luka masing-masing. Ada seseorang yang datang dari luar desa. Dia bertanya kepada pemburu, "Setelah sembuh nanti, apakah kalian masih akan menggali perangkap untuk melukai makhluk lain?" Para pemburu menjawab, "Kami tidak brani melakukannya lagi. Selama terluka ini, kami baru merasakan betapa sakitnya para hewan yang terjebak dalam perangkap. Mereka meringis kesakitan akibat luka pada tubuh. Kami tidak berani lagi."


Pendatang itu berkata, "Manusia harus merasakannya sendiri baru dapat memahami. Saya pernah mendengar Buddha membabarkan Dharma di Taman Ambapali. Buddha berkata bahwa penderitaan manusia bersumber dari ketamakan. Ketamakan dapat membangkitkan kebodohan. Kebodohan bagaikan malam hari yang panjang yang membuat kita tak dapat melihat dengan jelas. Ini sama seperti manusia yang demi bertahan hidup rela melukai makhluk hidup lain. Kalian memasang perangkap, tetapi malah melukai diri sendiri."

Mendengar perkataan pendatang itu, para pemburu itu tersadarkan. Mereka bertekad setelah sembuh nanti, mereka akan pergi mendengar ajaran Buddha. Demikianlah mereka pergi ke vihara untuk mendengar pembabaran Dharma. Mereka bertobat di hadapan Buddha bahwa mereka telah memasang perangkap untuk melukai makhluk hidup lain. Mereka telah menyadari kesalahan dan bertekad untuk mendengar ajaran Buddha.


Buddha berkata, "Akibat nafsu keinginan sesaat, manusia memasang banyak perangkap. Setiap orang memasang perangkap yang berbeda-beda. Saya memasang perangkap sendiri, Anda memasang perangkap sendiri. Setiap orang memasang perangkap masing-masing. Orang yang tidak tahu akan masuk ke dalam perangkap kita. Saya yang tidak tahu juga akan masuk ke perangkap Anda. Anda juga masuk ke dalam perangkap saya."

Begitulah kehidupan manusia. Manusia membuat perangkap dan jatuh ke dalam sendiri. Saat pikiran kacau, dipenuhi ketamakan, kebencian, dan kebodohan, maka kita akan bagai jatuh ke dalam kegelapan. Antarmanusia akan saling terpengaruh hingga terperangkap jala kegelapan batin dan perangkap. Ini sangat berbahaya.

Artikel dibaca sebanyak : 489 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat