Selasa, 24 Oktober 2017
Indonesia | English

Raja Rusa dan Kaisar

Bukankah suara kicauan burung di tengah keheningan ini terdengar sangat merdu? Setiap orang hendaknya menyadari bahwa hakikat setiap makhluk adalah hening dan jernih. Kondisi batin manusia, kondisi batin burung, dan kondisi batin makhluk hidup lainnya tidaklah berbeda. Jika semua itu bisa menyatu, bukankah kondisi yang tercipta akan sangat indah?

Jika kondisi makhluk awam dan Buddha juga bisa menjadi satu, bukankah akan tercipta Tanah Suci di dunia? Ya. Buddha berkata bahwa semua makhluk memiliki kesadaran untuk memahami sifat hakiki Buddha. Saya sering berkata bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Semuanya adalah setara. Namun, akibat pikiran yang keliru, manusia menjadi mudah berjalan menyimpang.

Akibat sebersit pikiran yang menyimpang, manusia membangkitkan sikap saling membedakan yang akhirnya berujung pada pertikaian. Selain bertikai dengan sesama, manusia juga mengganggu kehidupan makhluk hidup lain. Lihatlah kehidupan manusia yang begitu kejam. Dibandingkan dengan manusia, kehidupan makhluk hidup lain sangatlah sederhana. Kehidupan manusia sangatlah kejam.

doc tzu chi

Di hutan, ada seekor raja rusa yang bulunya memiliki sembilan warna. Suatu hari, saat berada di pinggir sungai, dia mendengar ada orang berteriak meminta tolong. Orang itu terbawa oleh arus. Karena merasa tidak tega, ia lalu turun ke sungai dan berenang menuju tempat orang itu.

Ia berkata padanya, "Kamu berpeganglah pada tandukku dan duduklah di pundakku." Dengan segenap tenaga, ia menolong orang tersebut. Orang itu sangat tersentuh, lalu berkata, "Aku bersedia melayanimu seumur hidupku."

Raja rusa bekata, "Tidak perlu. Berhubung orang-orang suka mengambil kulitku, aku harap setelah keluar dari hutan, kamu tidak memberi tahu orang-orang tentang keberadaanku." Pria itu pun bersumpah, "Aku tidak akan mengatakannya. Terima kasih banyak."

Kaisar dari negeri itu sangat murah hati dan penuh cinta kasih. Suatu hari, permaisurinya bermimpi tentang seekor rusa yang memiliki sembilan warna. Sang permaisuri sangat menyukainya. Dia berpikir, "Jika bisa menjadikan kulit rusa itu sebagai mantel dan menggunakan tanduknya untuk membuat anting-anting, maka alangkah baiknya." Permaisuri lalu menceritakan hal ini kepada sang kaisar. doc tzu chi

Sang kaisar berpikir, "Apakah ada rusa seperti itu di dunia?" Sang permaisuri berkata, "Jika Paduka tidak mendapatkannya untukku, lebih baik aku mati." Kaisar lalu menawarkan hadiah untuk orang yang menemukan rusa tersebut. Pria itu melihatnya. Dia sangat gembira karena akan segera menjadi kaya raya. Dia lalu melaporkan hal ini kepada kaisar.

Kaisar memimpin pasukannya untuk menangkap rusa tersebut. Rusa sedang tidur di bawah pohon. Seekor burung di atas pohon melihat kaisar dan pasukannya datang dari kejauhan. Ia terus memanggil si rusa. Melihat kaisar semakin lama semakin mendekat, burung itu lalu mematuk telinga si rusa.

Saat bangun, raja rusa melihat kaisar dan pasukannya sudah mengelilinginya. Raja rusa berjalan ke hadapan kaisar dan bersujud. Ia berkata, "Aku tahu hari ini aku tidak bisa menghindar lagi. Namun, bolehkah aku bertanya beberapa hal? Paduka, bagaimana Anda tahu aku tinggal di sini?" "Seorang pria yang memberitahuku," jawab raja.

Raja rusa berkata, "Beberapa hari lalu, ada seorang pria hanyut terbawa arus. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkannya. Demi berterima kasih padaku, dia bersedia menjadi pelayanku. Aku berkata padanya, "Tidak perlu. Aku hanya berharap dia tidak memberi tahu orang tentang keberadaanku."

Setelah mendengarnya, sang kaisar berkata dengan kecewa, "Mengapa hati manusia begitu kejam? Mereka bahkan tega membunuh penyelamat mereka." Kaisar lalu berkata kepada raja rusa, "Aku akan melarang orang berburu di sini."

Saat mengetahuinya, permaisuri sangat marah. "Mengapa Paduka tidak bisa memenuhi harapanku?" Karena terlalu emosi, akhirnya dia meninggal dunia. Kaisar merasakan kesedihan mendalam. Namun, mengingat nafsu ketamakan manusia, kaisar semakin menyadari pentingnya melindungi kehidupan. Karena itu, kaisar mengeluarkan perintah larangan bagi orang-orang untuk berburu rusa.

doc tzu chi

Dewa Sakra sangat tersentuh melihatnya, tetapi dia juga merasa ragu. Dia lalu menjelmakan banyak rusa untuk memakan semua tanaman rakyat. Rakyat merasa sangat tidak berdaya. Mereka tidak boleh berburu rusa, tetapi rusa memakan semua tanaman pangan mereka. Apa yang harus dilakukan?

Mereka lalu melaporkan hal ini pada kaisar. Sang kaisar berkata, "Aku harus memegang perkataanku. Manusia tidak boleh lebih rendah dari hewan." Dewa Sakra sangat tersentuh mendengarnya. Dia menarik kembali kawanan rusa itu dan membuat hasil panen di tempat itu bertambah dua kali lipat.

Banyak orang pernah mendengar kisah tentang rusa sembilan warna ini. Ini adalah kisah yang sangat terkenal. Meski rusa sembilan warna adalah hewan, tetapi ia memiliki kesadaran hakiki, yaitu cinta kasih yang jernih. Ia rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan pria itu.

Kaisar adalah manusia. Beliau memegang janjinya untuk melindungi kehidupan rusa. Namun, kita bisa melihat pria dan permaisuri itu. Yang pertama tidak tahu budi, yang lainnya meninggal dunia akibat ketamakan. Lihatlah, hati manusia sungguh sulit dipahami. Namun, kita harus percaya bahwa semua makhluk memiliki kesadaran dan sifat hakiki yang setara.

Sifat hakiki ini sangatlah jernih dan murni. Hanya saja sifat hakiki ini sudah tertutup sehingga kita diliputi noda batin dan menciptakan banyak karma buruk. Untuk meninggalkan kondisi batin yang penuh kekeruhan dan kembali pada sifat hakiki yang murni, kita harus berketetapan hati dan memiliki tekad yang teguh. Dengan begitu, baru kita bisa kembali pada sifat hakiki yang murni. Jadi, kita harus selalu merenung dan bersungguh hati.

Artikel dibaca sebanyak : 476 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Bekerja untuk hidup sangatlah menderita; hidup untuk bekerja amatlah menyenangkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat