Senin, 17 Juni 2019
Indonesia | English

Master Menjawab: Mau Menjadi Batu Permata atau Batu Kasar?


Ada orang yang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Bagaimana caranya supaya di dalam kerumunan orang banyak, kita bisa tetap membina diri tanpa kenal mundur?

Master Cheng Yen menjawab:

Ada sebagian orang yang ketika merasa sukacita, langsung berikrar untuk bergabung dalam Tzu Chi, namun dalam perjalanannya, saat menghadapi kesulitan yang tidak diharapkan, langsung mengatakan “Saya tidak ingin melanjutkannya lagi”. Sebetulnya siapa yang berbuat, dia yang menuai hasilnya.

Bagi orang yang giat membina diri, kebijaksanaannya tentu akan tumbuh dengan sendirinya. Sedangkan orang yang mundur, kebijaksanaannya akan hilang dengan sendirinya. Sama seperti manusia, kita sendiri harus makan, baru tubuh kita bisa menyerap nutrisi, jadi jika menginginkan kebijaksanaan tumbuh berkembang, kita sendiri harus membina diri dulu.


Berharap diri sendiri bisa menjadi batu permata yang semakin digosok semakin mengkilap

Master mengatakan: “Kita harus berada dalam kerumunan orang banyak, baru punya kesempatan untuk membina diri. Sebab hanya di alam manusia ini, baru punya kesempatan untuk mencapai keBuddhaan. Kalau di alam dewa sana, setiap orang hanya menikmati kebahagiaan,  tidak ada kesempatan untuk berbuat kebajikan, juga tidak ada kerisauan yang ditimbulkan oleh perselisihan antar sesama. Dengan kata lain, di alam manusia baru ada batu kasar untuk menggosok, jadi kita harus menjadi batu permata yang semakin gosok semakin mengkilap dan jangan menganggap diri sendiri sebagai batu bata yang tidak tahan gosok.”

Master melanjutkan, jika kedua belah pihak adalah batu kasar yang saling menggosok, tentu kedua-duanya semakin gosok semakin aus saja. “Jika diri sendiri tidak ingin menjadi batu permata dan hanya ingin menjadi batu kasar yang menggosok orang lain atau batu bata yang tidak tahan gosok, itu sama saja dengan membiarkan kehidupan berkurang setiap harinya, sehingga sampai akhir hayat pun tidak ada manfaat yang diperoleh.”

Master mengatakan, adalah sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia, apalagi panjang kehidupan ini ada batasnya dan tiada seorang pun yang tahu akan batas dari kehidupannya, itu yang disebutkan dalam ajaran Buddha sebagai “ketidak kekalan”. Adalah sungguh sulit untuk dapat mendengarkan ajaran Buddha dan sekarang kita sudah mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan ajaran Buddha, bukan hanya “anda membabarkan dan saya mendengarkan”.

Pembinaan diri yang sesungguhnya bukanlah berbuat kebajikan demi mencari pahala kebajikan, atau setelah berbuat beberapa hal yang bermanfaat bagi ajaran Buddha, lalu terus membesar-besarkan diri sendiri. Tak peduli mencari pahala kebajikan, nama atau keuntungan, semua itu bukanlah pembinaan diri. Mazhab Tzu Chi adalah berbuat dengan tindakan nyata, bukan saja bersumbangsih tanpa pamrih, masih harus mengucapkan terima kasih kepada pihak penerima.

“Agama adalah tujuan pokok dalam kehidupan dan pendidikan tentang tata cara berkehidupan. Dalam kehidupan ini, kita seharusnya berlatih untuk mengecilkan diri sendiri dan bersumbangsih dengan penuh keikhlasan. Jika kita bersumbangsih dengan penuh keikhlasan, tentu kita tidak merasa capek atau berkeluh-kesah, sebaliknya malah merasa bahagia dan bersyukur.”

Master menyatakan, “Tidak peduli seberapa hebatnya dirimu, selalu ada orang yang lebih baik lagi”. Jadi tidak perlu sombong, juga tidak ada yang bisa dipamerkan. Singkat kata, jangan ada kemelekatan, “Kita harus menjaga jiwa kebijaksanaan dengan baik dan menyayangi diri sendiri, sebab menyayangi diri sendiri adalah bentuk balas budi kepada kedua orangtua.”

※ Dikutip dari Jurnal Harian Master Cheng Yen Edisi Musim Semi tahun 2008.

Artikel dibaca sebanyak : 474 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kerisauan dalam kehidupan manusia disebabkan dan bersumber pada tiga racun dunia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat