Rabu, 24 Juli 2019
Indonesia | English

Sanubari Teduh - Delapan Penderitaan Bagian 3/8 (202)

Saudara se-Dharma sekalian, waktu kita sangat singkat. Waktu dalam satu hari berlalu dengan sangat cepat. Sungguh jika dipikir-pikir. Kehidupan manusia adalah demikian singkat. Karena itu, kita harus mengenggam waktu dengan baik. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu. Dari sejak lahir hingga mati, kehidupan kita memiliki Delapan Penderitaan. Sebelumnya kita sudah mengulas derita lahir, tua, dan sakit. Kini kita akan mengulas derita kematian.

Penderitaan keempat dari Delapan Penderitaan adalah kematian.

Faktor Alami : Meninggal karena menderita penyakit atau berusia lanjut.

Faktor Luar : Meninggal karena bertemu kondisi buruk, bencana air, api dan sebagainya.

Apakah mati begitu menderita? Saat kita terjerat oleh karma buruk maka sungguh menderita. Saat empat unsur tubuh kita terurai, saat organ tubuh kita rusak, saat kesadaran kita akan berpisah dengan tubuh kita. Pastilah sangat menderita. Di dalam Sutra ada sebuah perumpamaan bahwa derita kematian bagaikan sapi yang dikuliti hidup-hidup. Sungguh penderitaan yang tak terkira. Namun, penderitaan itu juga tidak pasti. Adakalanya, dalam kehidupan ini, kita bisa mengalami fase tua. Namun, ada pula orang yang tidak mengalami fase tua. Bagaimana pun, karena telah terlahir sebagai manusia dan berkesempatan untuk mendengar Dharma, kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin.

Mengetahui bahwa sulit terlahir sebagai manusia dan sulit untuk mendengar ajaran Buddha maka kita harus lebih mengenggam jodoh ini. Apakah hanya mendengar saja sudah cukup? Tidak. Setelah mendengarnya, kita harus mewujudkannya dengan tindakan. Apakah dengan bermeditasi, melafalkan nama Buddha, melakukan puja dan membaca Sutra, bisa disebut tindakan nyata? Tidak cukup. Melafalkan Nama Buddha hanya bertujuan menenangkan hati kita, membangkitkan keyakinan, dan agar kita memiliki Buddha di dalam hati. Agar selalu ingat pada Buddha, kita selalu melafalkan Nama Buddha. Karena itu, saya sering berkata: kita harus menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri. Janganlah kita hanya berkata, “Saya meyakini Buddha. Saya sudah melafalkan nama Buddha.“ Hanya melafalkan lewat mulut saja tiada gunanya. Setiap niat kita tak harus tak terlepas dari Buddha. Ini yang disebut melafalkan nama Buddha dengan hati.

Meski sudah membangkitkan niat baik, tetapi tanpa praktik nyata kita tetap tidak bisa mencapai tujuan. Ini karena pemahaman kitaterhadap prinsip kebenaran belum mendalam. Jika tidak menyerap Dharma ke dalam hati maka saat terserang penyakit, kita akan merasa risau dan takut. Selain merasakan penderitaan fisik akibat penyakit, batin kita juga merasakan ketakutan. Selain merasakan kesakitan dan penderitaan fisik, batin kita juga merasa ketakutan atau perasaan tidak rela. Bayangkanlah pergumulan batin diantara hidup dan mati. Bagaimana mungkin tidak menderita? Sangat menderita. Saat tubuh dan batin akan berpisah, itu sangat menderita.

Hanya mendengar ajaran Buddha dan berbicara tentang ajaran Buddha, tetapi tidak mempraktikannya tidaklah berguna. Jika tidak menyerap kebenaran di dalam hati maka kita tak dapat menghadapi kelahiran dan kematian dengan hati yang damai.

Jika bisa melihat dengan jelas, kita akan memahami bahwa kelahiran dan kematian merupakan hukum alam. Ia tak membedakan usia, tak membedakan kaya atau miskin. Kelahiran dan kematian adalah hukum alam, kita harus mengetahui dan memahaminya. Segala sesuatu bergantung  pada jalinan jodoh. Saat jalinan jodoh berakhir maka harus berpisah. Saat jalinan jodoh berakhir, kita tak akan bisa menghentikannya. Jika jalinan jodoh belum berakhir, meski sangat tersiksa dan menderita karena penyakit yang sangat parah, orang tetap bisa pulih kembali. Kita hendaknya bisa membuka hati. Yang harus kembali, pasti akan kembali lagi. Dengan bisa merelakan dan melepas maka batin kita tak akan begitu tersiksa.

Penderitaan fisik bersumber dari batin yang tidak rela, rasa takut, dan kondisi luar yang muncul. Penderitaan pada momen antar hidup dan mati, itulah yang disebut derita kematian. 

Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melatih diri, manfaatkanlah kehidupan untuk menyerap ajaran Buddha ke dalam hati. Dengan membina kepribadian yang baik dan membangun tekad Bodhisatwa yang dalam secara alami kita bisa menghadapi kelahiran dan kematian dengan hati yang tenang dan damai.

Singkat kata, waktu kita dalam satu hari, tidak terlalu panjang. Janganlah kita perhitungan dengan orang lain. Kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Kita harus mengingat Buddha di dalam hati. Kita harus memandang dan menghormati setiap orang bagaikan Buddha. Sikap bersyukur, menghormati dan mengasihi harus ada dalam keseharian kita. Dengan demikian pada akhirnya hati kita akan merasa tenang dan damai. Dengan hati yang tenang dan damai, kita tidak akan terjerat penderitaan. Saudara sekalian dalam melatih diri, tidak ada kiat khusus. Yang terpenting adalah kita harus lebih bersungguh hati. 

Demikianlah diintisarikan dari Video Sanubari Teduh - Delapan Penderitaan Bagian 3/8 (202) 
Penyelaras: Hadi Pranoto


GATHA PELIMPAHAN JASA

Semoga mengikis habis Tiga Rintangan

Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran

Semoga seluruh rintangan lenyap adanya

Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva

Artikel dibaca sebanyak : 111 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat