Abidzar dengan Rahang Barunya

Abidzar bersama drg. Hendri usai menjalani operasi kedua untuk melepaskan alat distraktor. Kondisinya kini sudah semakin membaik begitu juga dengan kedua orang tuanya yang sudah bisa tersenyum dengan jauh lebih lega.

Tawa kecil itu kini terdengar jelas. Setelah berbulan-bulan menjalani pemanjangan rahang bawah dan menunggu tulang baru terbentuk, sejak pertengahan 2025 lalu alat distraktor di rahang Abidzar Akbar resmi dilepas. Senyum bocah lima tahun asal Medan ini pun tampak jauh lebih ceria.

Bagi sang ibu, Erni Lestari Handayani, momen ini seperti menghela napas panjang setelah perjalanan jauh yang penuh harapan. Ada kelegaan luar biasa, seolah beban berat terangkat dari pundaknya.

“Akhirnya Abidzar bisa makan lebih mudah, bicaranya juga makin jelas. Saya benar-benar bersyukur,” ucapnya dengan mata berkaca.

30 Milimeter yang Penuh Makna
Abidzar Akbar atau Abi, menderita hipoplasia mandibula, kelainan langka yang ditandai dengan rahang bawah tidak berkembang sempurna.

“Prevalensinya mungkin satu dari 14.000 kelahiran,” jelas drg. Henri Mudjono, Sp.BM, Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut di Tzu Chi Hospital.

Kondisi ini tak hanya berpengaruh pada bentuk wajah, tetapi juga pada kemampuan makan dan berbicara. Selama dua tahun pertama hidupnya, Abi hanya bisa mengonsumsi makanan lewat selang NGT. Setelah itu, ia mulai dikenalkan dengan makanan lunak, meski masih sulit mengunyah.

Tim dokter bersiap melakukan tindakan terhadap Abidzar, setelah terlebih dahulu menjelaskan prosedur kepada keluarga dan menenangkan mereka.

Menurut drg. Henri, ukuran rahang bawah yang sangat kecil membuat gigi atas dan bawah tak bisa saling bertemu. Akibatnya, Abi kesulitan mengunyah, dan asupan gizinya pun terbatas.

Untuk memperbaiki kondisi itu, tim dokter melakukan tindakan distraction osteogenesis mandibula, operasi pemasangan alat bernama distraktor yang berfungsi memanjangkan tulang secara bertahap. Alat ini diputar satu milimeter setiap hari hingga mencapai tiga sentimeter, panjang rahang ideal untuk anak seusianya. Proses ini dijalani selama 30 hari penuh sejak pengaktifannya pada 16 Oktober 2024.

“Dengan tindakan ini, kami berusaha merangsang pertumbuhan rahang bawahnya agar bisa mengejar rahang atas,” jelas drg. Henri.

Setelah fase pemanjangan selesai, Abi menjalani masa konsolidasi selama beberapa bulan agar tulang baru mengeras dan berfungsi normal.

Empat Tahun Berjuang Berbekal Angan
Di balik keberhasilan medis itu, tersimpan kisah panjang penuh kesabaran dari keluarga kecil di Medan. Sejauh cerita mereka, masa pandemi kala itu (tahun 2020) memberikan kendala yang besar, baik dari akses untuk pemeriksaan hingga konsultasi medis. Di sisi lain, perekonomian keluarga kecil ini sempat goyah karena sang tulang punggung keluarga mengalami pemutusan kerja.

Sebelum mengenal Tzu Chi itu pula, Nazaruddin dan Erni mengaku sempat merasa putus asa karena rumah sakit di Medan sudah tak sanggup dan menyarankan keluarga untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. “Tapi sarannya tanpa kejelasan kami harus pergi ke mana, ke bagian apa, jadi kami buta arah,” kenang Erni.

Dari masa itu, mereka mencoba berhenti dan menenangkan hati untuk mencari jalan keluar. Saudara Erni lah yang kemudian memperkenalkannya ke Tzu Chi hingga memperoleh pendampingan yang berarti. Walaupun tak kunjung ada kabar yang melegakan, namun pendampingan relawan selalu membawa kebahagiaan karena perhatian yang tulus terus berjalan.

“Semangat semua relawan itu juga membuat kami juga tetap semangat,” katanya ceria. “Karena selama ini kami selalu didampingin kan. Mereka (relawan) selalu merangkul. Padahal mereka ini kan bukan saudara, bukan sahabat. Lalu kami ini siapa, gitu kan? Bukan siapa-siapa tapi diperlakukan begitu baiknya,” lanjut Erni.

Dokter mengaktifkan distraktor yang telah dipasang di rahang bawah Abidzar. Alat ini diputar satu milimeter setiap hari selama 30 hari hingga mencapai angka yang ditentukan dokter.

Selama masa pencarian itu pula, berbagai konsultasi ke macam-macam rumah sakit sudah tak bisa dihitung jumlahnya. Kegiatan medis yang ada di Medan, juga kerap mereka ikuti demi mencari informasi dokter yang mumpuni dan mampu membantu sang anak.

“Pernah lho ada dokter dari Belanda, beliau bedah plastik, ada kegiatan di Medan waktu itu, kami datangi dan tanya langsung. Tapi memang beliau bilang ini harus ke spesialis bedah mulut,” cerita Erni.

Sempat pula ada dokter dari India yang menyatakan bisa mengobati Abi, tapi banyak hal yang perlu dipersiapkan mulai dari bahasa hingga akomodasi yang jauh lebih besar. Relawan pun mencari opsi lain lagi.

“Awalnya kami pikir, pokoknya kalau sudah ketemu dokter, sudah langsung bisa ada tindakan. Ternyata tidak semudah itu. Banyak juga tahapannya dan ternyata alatnya tidak ada. Mau bagaimana? Lalu karena belum menemukan titik terang, akhirnya sempat tuh kasus Abi ditutup. Tapi walaupun ditutup, relawan Tzu Chi terus mencari jalan keluar dan solusi lain,” terang Nazaruddin.

Hingga akhirnya, pada 2024, pintu harapan terbuka lewat Tzu Chi Hospital di Jakarta. “Dari sekian lama kami berusaha, jodohnya memang di sini,” ujar Nazaruddin haru. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih.”

Proses operasi pemasangan distraktor yang dijalani Abi menjadi langkah awal dari rangkaian pengobatan panjang. Namun perjalanan belum berakhir di sana. Setelah alat itu berhasil memanjangkan tulang rahang bawah, masih ada tahap penting berikutnya, yaitu operasi pelepasan alat. Tahapan ini dilakukan setelah tulang baru tumbuh sempurna dan mengeras, memastikan struktur rahang dapat berfungsi normal tanpa bantuan alat.

Hasil yang Ditunggu
Setelah alat distraktor memanjang sejauh 30 milimeter, proses pemanjangan dinyatakan berhasil. Fase berikutnya, operasi kedua untuk melepas alat, dilakukan pada 29 Juli 2025.

“Sejak alat itu dipasang, rahang bawah Abidzar perlahan maju. Total pertambahan panjangnya tiga sentimeter,” jelas drg. Henri. “Kini setelah dilepas, tulangnya padat seperti tulang normal.”

Perubahan pun nyata, suara Abi kini lebih jelas, jalur napasnya lebih lega, dan ia sudah mulai mampu mengunyah makanan lembek. Wajahnya tampak lebih proporsional, dan senyum kecilnya kini lebih mudah merekah.

Kebahagiaan ini juga dirasakan oleh para relawan yang mendampinginya.

Relawan pendamping di Tzu Chi Hospital menjenguk Abi pascaoperasi. Mereka juga membawakan boneka besar untuk menghibur Abi yang masih merasakan sakit.

“Kami kalau lihat Abi rasanya senang sekali. Dia sudah seperti cucu saya sendiri,” ujar Juniaty, relawan Tzu Chi Medan sambil tersenyum. “Dulu bicaranya belum jelas, makannya hanya cair. Sekarang sudah bisa makan nasi lembek dan ngomongnya lancar.”

Bagi Juniaty, pendampingan ini bukan sekadar tugas, tetapi jalinan jodoh baik. Ia percaya, setiap pertemuan adalah jodoh yang membawa pelajaran tentang kasih dan ketulusan. Karena itu, setiap kali Abi menjalani tindakan medis, para relawan selalu datang, bukan hanya sebagai pendamping, tapi juga sumber semangat bagi kedua orang tuanya.

“Kami pun merasakan bagaimana menjadi orang tua Abi,” tutur Juniaty lembut. “Itu sebabnya kami ingin selalu hadir memberi kekuatan.”

Wajah bahagia para relawan Tzu Chi Medan dari kiri ke kanan: Juniaty, Dolivien, dan Desnita yang selalu mendampingi Abidzar dan keluarganya. Kehadiran relawan menambah kekuatan serta keyakinan keluarga akan kesembuhan putra tercinta.

Langkah Kecil Menuju Masa Depan
Di akhir cerita, suara lirih penuh syukur dari Erni terdengar hangat. “Terima kasih banyak untuk semua dokter, relawan, donatur, dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Karena ketulusan Anda semua, Abidzar bisa sampai di titik ini. Saya hanya bisa berdoa semoga semua dibalas dengan kebaikan berlipat,” ujarnya.

Ungkapan itu lahir dari perjalanan panjang penuh haru yang telah mereka lalui. Sejak pertama kali meninggalkan Medan hingga proses operasi kedua di Jakarta, selalu ada tangan-tangan penuh kasih yang mendampingi. Para relawan Tzu Chi tak pernah lelah hadir di setiap langkah mereka, dari rumah singgah sampai ruang operasi, dari doa hingga perhatian kecil yang menguatkan. Dukungan tulus itu membuat keluarga ini merasa tidak pernah sendiri, seolah mereka telah menemukan keluarga baru yang merangkul dengan kasih.

Rasa syukur itu pun mengalir tulus dari hati Nazaruddin. Ia tak berhenti mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang mereka terima sepanjang perjalanan pengobatan Abi.

“Semoga Abi jadi anak yang sabar dan senang berbagi, seperti yang diajarkan relawan Tzu Chi kepada kami,” ujarnya. “Mereka membantu dengan tulus, dari tenaga, waktu, hingga perhatian. Tanpa pamrih, tanpa memandang suku, agama, mereka tetap menolong kami dengan kasih.”

Perkembangan Abidzar terlihat signifikan setelah pemasangan alat distraktor di rahangnya. Kini ia sudah bisa berbicara lebih jelas, dan yang paling penting mampu mengunyah makanan dengan jauh lebih baik.

Erni yang duduk di sampingnya mengangguk pelan, matanya berkaca. Baginya, setiap kata yang diucapkan suaminya adalah cerminan dari rasa syukur yang juga ia rasakan. Semua rasa takut, letih, dan air mata kini terasa terbayar setiap kali melihat Abidzar tersenyum dan tumbuh lebih kuat. Ia percaya, perjuangan panjang ini bukan hanya tentang kesembuhan fisik, tetapi juga tentang menanamkan semangat hidup dan rasa syukur sejak dini. Ia berharap, kelak Abidzar tumbuh sehat, percaya diri, dan mampu membahagiakan banyak orang, sebagaimana begitu banyak orang baik telah membahagiakan keluarganya.

“Semoga semua yang sudah dijalani ini tidak sia-sia,” ucapnya pelan. “Saya ingin Abidzar tumbuh jadi anak yang baik, yang bisa membahagiakan orang banyak seperti orangorang baik yang sudah membahagiakan kami.”

Namun begitu, perjuangan Abidzar belum berakhir di sini. Pemasangan dan pelepasan alat distraktor hanyalah sebagian dari rangkaian panjang pemulihan yang akan terus dijalani. Ke depan, Abidzar masih memerlukan tindakan medis lanjutan serta penyesuaian bertahap agar struktur wajahnya dapat tumbuh dengan lebih seimbang. Meski jalan ini belum sepenuhnya mulus, Erni dan Nazaruddin telah belajar bahwa setiap langkah kecil, setiap senyum, setiap doa, setiap dukungan adalah bagian penting dari kesembuhan itu sendiri. Dengan penuh keyakinan, mereka melangkah maju, membawa harapan bahwa masa depan Abidzar akan tumbuh seterang kasih yang telah mengiringi perjalanannya hingga kini.

Teks dan Foto: Metta Wulandari
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -