Bangkit Menuju Kemandirian: Meronce Harapan di Tengah Perjuangan Melawan Kanker
Di usia muda, Nizmah Nur Alisa pernah berada di titik terendah hidupnya saat kanker mengubah wajah, suara, dan hari-harinya. Namun dari jemarinya yang merangkai manik-manik, ia perlahan meronce kembali harapan, tumbuh percaya diri, dan semangat untuk berbagi kepada sesama.
*****
Di balik setiap kesulitan, selalu ada harapan yang tumbuh perlahan. Hal itulah yang dirasakan Nizmah Nur Alisa, salah satu penerima bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, yang kini perlahan berhasil bangkit dan menata kembali kehidupannya menuju kemandirian.
Beberapa tahun silam, Nizmah menghadapi kenyataan pahit ketika didiagnosis kanker. Hari-harinya dipenuhi rasa sakit, kekhawatiran, dan ketidakpastian. Di tengah perjuangan fisik dan batin yang berat, biaya pengobatan yang tidak sedikit turut menjadi beban tambahan bagi keluarganya.
Dalam masa sulit itulah, uluran tangan penuh kasih hadir melalui DAAi TV Indonesia dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Bantuan biaya pengobatan, fasilitas Rumah Singgah bagi pasien luar kota, hingga pendampingan relawan yang setia menemani menjadi kekuatan baru bagi Nizmah dan keluarga. Ia tidak hanya menerima bantuan materi, tetapi juga merasakan hangatnya perhatian, doa, dan ketulusan yang perlahan menguatkan hatinya untuk terus bertahan.
“Saya senang dan bersyukur karena Nizmah bisa bertemu dengan orang-orang hebat dari Tzu Chi yang benar-benar support sampai sekarang. Saya merasa sangat beruntung,” ujar Leni, ibu Nizmah, lirih.
Proses pengobatan bukanlah perjalanan singkat. Ada hari-hari penuh harap, ada pula malam-malam yang diisi air mata. Namun, dukungan yang ia terima perlahan menumbuhkan semangat baru. Ia mulai melihat bahwa sakit bukan akhir dari segalanya.
“Saya lihat Nizmah itu luar biasa. Kalau saya jadi Nizmah, saya nggak tahu kuat atau tidak. Tapi melihat Nizmah tetap kuat, justru membuat saya sebagai ibunya semakin yakin kalau Nizmah bisa melalui semua ini,” ujar Leni.
Dari Hobi Jadi Pundi-Pundi
Dalam melewati masa pengobatan lanjutan bersama Tzu Chi, Nizmah tak hanya diam tapi ia seakan mengubah arah hidupnya. Ia ingin hadir tak hanya sebagai pasien, tapi juga sebagai seseorang yang bisa menjadi penyemangat bagi orang lain.
Ketika berada di Rumah Singgah Tzu Chi di Rusun Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Nizmah diajak mengajar di kelas keterampilan. Dengan kemampuan meronce yang dimilikinya, ia mengajarkan kerajinan tangan kepada para pasien dan keluarga yang sedang menunggu jadwal pengobatan. Kegiatan sederhana itu ternyata memiliki makna mendalam, karena menjadi ruang untuk saling menguatkan di tengah perjuangan masing-masing.
Pepeng Kuswati (kiri), relawan Tzu Chi terus memberikan perhatian dan mendoakan kesehatan Nizmah di tengah perjuangannya melawan penyakit. Keteguhan Nizmah menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Keahlian Nizmah bermula dari hobinya pada awal tahun 2023. Saat itu, ia sedang mencari hiburan di tengah masa pemulihan setelah operasi pengangkatan rahang akibat kanker mulut. Ia menemukan video TikTok tentang membuat gelang dan cincin dari manik-manik, lalu mulai mencoba membuatnya sendiri.
“Awalnya saya pikir, nanti juga bosan,” kenang Leni sambil tersenyum, “karena dulu pertama sekali ya minta dibelikan manik-manik itu. Kalau cepat bosan kan rugi ya, karena harga manik-manik itu juga lumayan.” Namun ternyata Nizmah tidak berhenti.
Hari demi hari, jemarinya merangkai manik berwarna-warni. Saat tinggal di rumah singgah di Bandung, ia mulai menggantung hasil karyanya, yang ternyata disukai dan dibeli oleh mahasiswa maupun relawan yang berkunjung ke sana. Dari situlah semangatnya tumbuh semakin besar karena hobinya ternyata memiliki nilai jual. Nizmah pun bisa berdaya.
Pesanan custom mulai berdatangan. Ada yang memesan gelang seharga Rp15 ribu, Rp20 ribu, hingga gantungan ponsel yang menjadi produk paling diminati. Nizmah sendiri menjual hasil ronceannya dengan harga terjangkau, sekitar Rp25 ribu per buah.
Uang hasil penjualan itu bukan hanya membuatnya senang, tetapi juga memberinya rasa percaya diri karena dapat membantu keluarga. Dari hasil meronce, Nizmah perlahan bisa membantu merenovasi rumah, membeli kasur dan lemari sendiri, hingga membelikan telepon genggam untuk ayahnya yang bekerja sebagai satpam.
“Ayahnya sampai nangis waktu dibelikan HP,” cerita Leni bangga.
Terapi Lewat Hobi
Kebanggaan Leni tidak hadir begitu saja. Ia melihat sendiri bagaimana putrinya berjuang melewati begitu banyak rasa sakit dan tindakan medis yang tidak mudah. Bahkan, Nizmah pernah menerima vonis bahwa usianya diperkirakan hanya tinggal tiga bulan.
“Tapi Alhamdulillah sampai sekarang dia masih ada sama kami. Bahkan dia menjadi lebih dari yang kami harapkan dan doakan,” kata Leni bahagia.
Relawan Tzu Chi Bandung berkunjung ke kediaman keluarga Nizmah. Mereka saling belajar tentang arti semangat untuk terus bangkit. Perjuangan Nizmah pun menjadi cerminan kekuatan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Masa-masa itu menjadi ujian berat bagi keluarga mereka. Tahun 2022, sakit gigi yang awalnya dianggap biasa ternyata berkembang menjadi tumor ganas. Leni yang saat itu bekerja sebagai TKW di Dubai terpaksa pulang demi merawat Nizmah. Setelah didiagnosis kanker, Nizmah harus menjalani 27 kali radioterapi, lima operasi besar, dan kemoterapi berkali-kali.
Leni masih mengingat jelas masa tersebut. “Tumornya cepat sekali membesar sampai keluar mulut. Mental kami kena banget. Takutnya anak nggak kuat,” kenangnya sambil tersenyum getir.
“Pada saat itu, Nizmah sempat menjadi pribadi yang tertutup dan minder. Bahkan, ia pernah merasa putus asa karena kondisi sakitnya itu merusak sebagian wajahnya. Sebagai ibu, saya merasa sedih, kecewa, bahkan ingin marah, tetapi tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa,” ujar Leni.
Karena penyakit itu, rahang bawah Nizmah memang harus diangkat sehingga ia tidak lagi bisa berbicara dengan jelas. Untuk memperlancar pernapasan, dipasang pula selang trakeostomi di lehernya. Meski sempat terpuruk, Nizmah perlahan menemukan kembali semangat hidupnya melalui kegiatan meronce yang ia tekuni setiap hari.
Kegiatan meronce menjadi ruang pemulihan bagi Nizmah. Dari sana, ia kembali menemukan rasa percaya diri, semangat untuk berinteraksi dengan banyak orang, hingga keberanian untuk membagikan keterampilannya kepada sesama pasien. Kini, Nizmah bahkan telah menjadi pengajar keterampilan sekaligus mulai membangun usaha kecil dari hasil karyanya sendiri.
Semua Sayang Nizmah
Di balik seluruh perjalanan tersebut, ada sosok ayah yang tidak pernah berhenti berjuang demi putri tercintanya. Meski sempat merasa hancur saat mengetahui kondisi Nizmah, kasih sayang seorang ayah membuat Budi terus berusaha memberikan yang terbaik untuk kesembuhan anaknya.
“Sedih melihat kondisi anak saya seperti itu. Bagaimana pun caranya, saya ingin Nizmah sembuh,” ujar Budi singkat.
Nizmah Nur Alisa (berbaju hitam) menjadi pengajar di kelas keterampilan yang diadakan di rumah singgah Tzu Chi, di Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng. Dalam kelas ini, Nizmah mengajarkan cara merangkai manik-manik menjadi berbagai aksesori, salah satunya gantungan HP.
Saat Nizmah dinyatakan mengidap kanker mulut, ibunya sedang berada di luar negeri untuk bekerja. Meski harus menghadapi keadaan yang berat, kedua orang tua Nizmah terus berjuang dan memberikan dukungan terbaik hingga akhirnya Nizmah mampu kembali tersenyum dan menjalani hidup dengan lebih percaya diri. Hati orang tua Nizmah tak sampai hati melihat kepedihan putri mereka.
“Saya sangat sayang sama Nizmah, apalagi dia anak pertama saya yang cantik dan imut. Tetap semangat menjalani hidup ini dengan lapang dada walaupun ada kekurangan dalam dirinya. Tapi saya yakin Nizmah akan tetap teguh, penuh semangat, dan senyuman manis itu tidak akan pernah hilang darinya,” ungkap Budi penuh harap.
Nizmah telah membuktikan bahwa dari rasa sakit dapat tumbuh empati, dan dari bantuan yang tulus dapat lahir semangat untuk kembali berbagi. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa setiap insan, seberat apa pun ujian yang dihadapi, tetap memiliki kesempatan untuk bangkit dan menjadi cahaya bagi sesama.
Tak Menyerah Kepada Nasib
Semua pencapaian itu tidak datang dalam sekejap. Semuanya dirangkai perlahan dari titik terendah, dengan kesabaran dan kekuatan yang tumbuh seiring waktu.
“Jujur, awalnya dunia rasanya runtuh. Bingung, sedih, sampai berpikir, ‘Kenapa harus aku?’ Tapi setelah menangis seharian, aku mulai berpikir lagi, ‘Kanker boleh ada di badanku, tapi jangan sampai mengambil semangatku juga.’ Akhirnya aku belajar menerima dulu, lalu melawannya pelan-pelan,” tutur Nizmah dengan suara parau.
Di tengah berbagai ketakutan yang sempat menghampiri, Nizmah memilih fokus menjalani setiap proses pengobatan satu langkah demi satu langkah. Perlahan, ia belajar menerima keadaan dan berdamai dengan dirinya sendiri.
“Aku pernah kepikiran, ‘Bagaimana kalau nggak sembuh?’ Tapi aku paksa diri untuk fokus ke hari ini saja, menjalani pengobatan selangkah demi selangkah,” ujarnya.
“Aku berdamai waktu sadar kalau tubuh ini sedang diperbaiki Tuhan, jadi aku harus sabar dan sayang sama diri sendiri. Aku belajar untuk tidak marah dengan keadaanku. Aku juga kuat karena melihat keluargaku nggak pernah menyerah menjaga aku,” katanya.
Semangat yang terpancar dari diri Nizmah perlahan menghadirkan begitu banyak kasih sayang di sekelilingnya. Tidak hanya dari keluarga, tetapi juga dari lingkungan dan sahabat-sahabat yang terus mendampinginya. Kini, Nizmah sudah kembali bersekolah untuk mengejar cita-citanya.
“Teman sekolahku selalu membantu membuatkan susu hangat setiap tiga jam sekali supaya badanku nggak drop. Sambil nunggu aku minum, dia selalu ngajak ngobrol, cerita yang lucu-lucu, kadang cuma diam nemenin saja. Karena dia, aku nggak pernah merasa berjuang sendirian,” cerita Nizmah.
Nizmah telah kembali bersekolah secara penuh sebagai siswi di SMK Bakti Ilham. Bagi Nizmah, kembali duduk di bangku sekolah bukan sekadar belajar, tetapi juga menjadi tanda bahwa ia berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Rasa syukur terus mengalir dari hati Nizmah. Setelah melewati berbagai masa sulit, ia tidak ingin berhenti hanya sebagai seorang penyintas. Pengalaman yang pernah ia lalui justru membuatnya ingin hadir sebagai penguat bagi orang lain yang sedang berjuang menghadapi sakit.
“Pengen sembuh total dan dikasih umur panjang buat nemenin keluarga. Terus pengen pakai sisa umurku buat jadi relawan,” ucap Nizmah cerita. “Rasanya beda banget waktu dulu dibantu, sekarang aku pengen gantian jadi tempat sandaran buat orang lain yang lagi sakit,” lanjut Nizmah penuh semangat. Ia tahu ia tak akan kalah dengan penyakitnya.
Bagi Nizmah, penderitaan bukan sekadar masa sulit yang harus dilewati, melainkan perjalanan yang mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan. Dari rasa sakit, ia belajar menghargai waktu, kasih sayang, dan hal-hal sederhana yang sebelumnya mungkin luput disadari. “Karena aku tahu, hidup itu bukan tentang seberapa lama, tapi seberapa berarti. Sakit ini ngajarin aku buat menikmati napas, senyum orang, dan bilang cinta tepat waktu,” lanjutnya.
Kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia pun menghadirkan kesan mendalam dalam perjalanan hidup Nizmah. Bagi dirinya, bantuan yang diberikan bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang kehangatan dan harapan yang menguatkan hati untuk terus bertahan. Seperti yang diajarkan oleh Master Cheng Yen, penderitaan dapat melatih hati menjadi lebih lembut dan penuh welas asih.
“Gan En, Shixiong Shijie. Kalian nggak tahu seberapa besar arti kedatangan kalian waktu aku di titik terendah. Bubur yang kalian suapin, doa yang kalian bacakan, itu jadi bahan bakar buat aku bertahan. Terima kasih sudah ngajarin aku kalau welas asih itu nggak pakai syarat. Semoga aku bisa ikut jejak kalian, menebar cinta kasih juga,” ujar Nizmah haru.
Teks: Metta Wulandari, Rizki Hermadinata (Tzu Chi Bandung)
Foto: Metta Wulandari, M. Dayar (Tzu Chi Bandung), Dok. Pribadi