Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Aksi Tanggap Darurat Tak Kenal Kata Terbatas
Lumpur masih menempel di dinding rumah, jalan-jalan terputus, dan air bersih menjadi barang langka. Namun di tengah keterisolasian dan kelelahan itu, ada kepedulian yang terus mengalir. Sejak hari-hari pertama banjir besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di akhir 2025, relawan Tzu Chi menembus medan sulit, mengantarkan bantuan dari satu titik ke titik terpencil, memastikan harapan tetap ada di tengah gelapnya bencana.
*****
Pertengahan Januari 2026 lalu, beberapa relawan Tzu Chi yang sudah dua bulan menyalurkan bantuan pascabanjir Sumatera pulang ke Hualien, Taiwan. Mereka bertemu Master Cheng Yen dan melaporkan langsung bagaimana perjalanan panjang para relawan menempuh lokasi bencana untuk menjangkau warga yang terisolasi. Master mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Banjir Sumatera di akhir tahun 2025 memang bencana yang sangat besar. Berdasarkan pembaruan data per 31 Januari 2026, bencana di wilayah Sumatera telah berdampak luas pada 52 kabupaten/kota. Jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.204 jiwa, sementara 140 jiwa dinyatakan hilang dan sekitar 4.900 jiwa mengalami luka-luka.
Dari sisi kerusakan infrastruktur, tercatat 264.105 unit rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 53.396 rumah rusak berat, 59.132 rumah rusak sedang, dan 151.577 rumah rusak ringan. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas publik, meliputi sekitar 4.200 fasilitas umum, 200 fasilitas kesehatan, dan 3.200 fasilitas pendidikan. Warga butuh bantuan secepatnya.
Dampak bencana turut merusak 813 rumah ibadah, 288 gedung atau kantor, serta 734 jembatan, yang berakibat pada terganggunya akses dan aktivitas masyarakat. Besarnya skala kerusakan ini menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi, terutama di wilayah-wilayah terdampak.
Kerusakan terasa lebih parah di wilayah yang terisolir. Tak ada jalan keluar, begitu juga jalan masuk. Jalan yang biasa dilalui runtuh dan putus karena tanah longsor, ada juga yang tertimbun lumpur dan tertutup material banjir. Akses sangat terbatas.
Sementara itu bantuan begitu massive, masyarakat bergerak cepat menggalang donasi, mengumpulkan bahan pokok, namun semua itu sangat sulit untuk disalurkan, bahkan di satu minggu hingga satu bulan pascabencana. Sehingga Tzu Chi pun belum bisa bergerak banyak ke wilayah terisolir dan melakukan hal yang bisa dilakukan terlebih dahulu, yakni mendistribusikan bantuan jangka pendek berupa makanan hangat dan minuman ke wilayah yang bisa dijangkau.
Namun di balik keterbatasan akses itu, ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Relawan tahu, di balik jalan yang putus dan lumpur yang menutup akses, ada keluarga yang menunggu pertolongan bersama anakanak, lansia, yang bertahan dengan kondisi seadanya. Keterisolasian itu bukan hanya soal jarak, tetapi juga soal waktu yang terasa begitu panjang bagi mereka yang terdampak.
Perkampungan warga terdampak banjir tampak porakporanda. Rumah-rumah hancur, jalanan rusak, jembatan terputus, membuat masyarakat terisolasi tanpa akses keluar masuk. Di tengah keterbatasan itu, mereka bertahan berhari-hari sambil menanti bantuan tiba.
Berusaha Kuat Menahan Tangis
Kenyataan pahit itu disaksikan langsung oleh Shu Tjeng, yang menggambarkan bencana banjir yang melanda Sumatera sebagai dampak ketika empat unsur alam tidak lagi selaras. Skala dan dampaknya begitu besar, bahkan sulit dibayangkan. “Bencana kali ini sangat besar. Wilayah Aceh yang terdampak hampir sebesar satu Pulau Taiwan,” ujarnya.
Saat kejadian, air naik sangat tinggi hingga menenggelamkan rumah-rumah. Ketinggiannya rata-rata mencapai atap rumah. Dalam waktu singkat, warga berlarian mencari tempat aman, baik naik ke bukit, bertahan di bangunan tinggi, menyelamatkan diri sebisanya di tengah kepanikan. Namun setelah air surut, penderitaan belum berakhir.
Wilayah-wilayah itu berubah menjadi daerah terisolasi. Tidak ada listrik, air bersih, sinyal telepon, dan tidak ada jalan masuk. Jalanan terputus total, tertimbun lumpur, bahkan ada yang ambles.
Shu Tjeng menegaskan bahwa meski bukan tsunami, daya rusaknya luar biasa. “Jalan-jalan dan rumah-rumah penuh lumpur, mobil-mobil bertumpuk dan saling menimpa,” tuturnya miris.
Akibatnya, bantuan tidak bisa masuk selama lima hari. Dan hari-hari itu terasa sangat panjang bagi mereka yang terjebak tanpa pasokan, tanpa air, dan tanpa kepastian kapan pertolongan akan tiba.
Dalam lima hari terisolasi itu, beredar video di media sosial yang menyebut telah terjadi penjarahan. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. “Padahal yang sebenarnya terjadi adalah warga mengambil sembako yang sudah tertimbun lumpur selama lima hari demi bertahan hidup,” jelas Shu Tjeng.
Dalam situasi serba sulit, relawan Tzu Chi Aceh mencoba berbagai cara agar bantuan dapat menjangkau warga demi menembus wilayah yang sulit diakses. Bantuan didistribusikan ke wilayah-wilayah terpencil dan terisolasi dengan dukungan aparat TNI dan BNPB.
Beras yang mereka masak bercampur lumpur hingga berwarna kuning. Mau dicuci dengan apa, jika air pun tidak ada? Kondisinya, menurut Shu Tjeng, sangat mengerikan. Ia mengingat ajaran Master yang menyebut situasi seperti ini bagaikan alam setan kelaparan sebuah gambaran tentang penderitaan akibat lapar yang tak tertahankan.
“Mereka memasak beras yang sudah bercampur lumpur itu, mencucinya dengan air kotor yang juga bercampur lumpur. Mereka memakannya. Hati saya teriris melihatnya,” cerita Shu Tjeng menahan air mata.
Ungkapan itu bukanlah kiasan berlebihan. Kelaparan memaksa orang bertahan dengan apa pun yang tersisa.
Shu Tjeng bercerita, ia sejak awal banjir sudah turun langsung ke lapangan, khususnya di Aceh, bahkan terus mencari celah bagaimana relawan bisa masuk ke daerah yang terisolir sekalipun. Hingga mereka memutuskan melakukan perjalanan laut. Namun hingga 1 Desember, belum ada kepastian jalur darat bisa dilewati.
Bantuan Menembus Batas
Harapan baru muncul ketika diketahui ada jalur pengungsian lewat laut melalui Selat Malaka. Dari Kuala Simpang, wilayah yang tiga tahun lalu juga pernah dibantu. Sebuah pesan mendesak masuk: “Tolong antarkan air minum, di sini sudah tidak ada air minum lagi.”
Perasaan itu sangat berat. Shu Tjeng mengaku beberapa malam sulit tidur, pikirannya tidak tenang karena membayangkan warga yang masih terisolasi tanpa air dan makanan. Namun ketika jalur laut dinilai cukup aman untuk dilalui, keputusan pun diambil. “Kita berangkat dengan satu niat untuk menolong orang.”
Pada 3 Desember, tim berangkat dari Medan menuju Pangkalan Susu, lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Pangkalan Tiga. Perjalanan itu bukan tanpa risiko. “Jujur, cukup berisiko, tapi kami memakai pelampung. Namanya juga membantu orang, selama masih bisa dilewati, kita coba,” ujarnya.
Bantuan utama yang dibawa adalah air minum, kebutuhan paling mendesak serta makanan instan seperti biskuit dan roti basah. Setibanya di lokasi, pemandangan yang terlihat membuat hati terdiam.
Dalam gelap gulita tanpa listrik, bantuan dibagikan dari titik ke titik. Di tengah malam itu, seorang warga menyebut mereka sebagai penyelamat. Di posisi itu, Shu Tjeng spontan menjawab, “Bukan saya. Master Cheng Yen yang membantu bapak ibu semua’. Tanpa Master Cheng Yen, tanpa Tzu Chi, kami tidak bisa membawa apa pun ke sana.”
Su Tjeng bersama relawan Tzu Chi Medan membawa barang bantuan melalui jalur laut dari Pangkalan Susu menuju Salahaji, untuk kemudian disalurkan ke Kuala Simpang, Aceh.Bantuan darurat menggunakan kapal sederhana ini merupakan momen pertama kali bantuan bisa disalurkan ke Kuala Simpang melalui jalur laut. Bantuan tahap selanjutnya pun terus dilanjutkan.
Perjalanan kedua bahkan harus terhenti sekitar pukul 12 malam karena jalan tidak lagi bisa dilalui. Mobil logistik terpaksa didorong secara manual. Di tengah situasi itu, seorang ibu memperingatkan agar mereka berhati-hati karena warga di beberapa titik sudah sangat kelaparan dan dikhawatirkan bisa terjadi kericuhan.
“Bukan karena orang jahat, tapi karena lapar,” kata Shu Tjeng pelan.
Ia kembali menegaskan bahwa peristiwa pengambilan barang di toko-toko Kuala Simpang bukanlah tindakan kriminal biasa. Dalam keadaan darurat tanpa pasokan, orang bertahan dengan apa yang ada.
Bencana ini juga memutus empat jalur utama di Aceh. Kota Takengon memang tidak terendam banjir, tetapi tetap terdampak karena distribusi bahan makanan terhenti. Harga beras 10 kilogram melonjak hingga Rp 500.000.
Relawan bergerak dari berbagai arah, seperti dari Banda Aceh ke Lhokseumawe, dari Medan ke Aceh Tamiang dan Langsa, hingga menjangkau Aceh Tengah. Selama 50 hari, relawan Aceh bergerak tanpa henti, menembus berbagai keterbatasan untuk memastikan bantuan tetap tersalurkan.
Wilayah yang paling parah terdampak memang Kuala Simpang. Bupati setempat bahkan mengirimkan surat resmi untuk meminta bantuan Tzu Chi. Dalam berbagai rapat koordinasi, kebutuhan mendesak yang disampaikan bukan hanya sembako, tetapi juga alat berat dan jembatan darurat untuk membuka kembali akses yang terputus.
Tzu Chi membangun dapur umum dan menyalurkan nasi bungkus ke wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau. Bantuan tidak lagi sekadar distribusi bahan pokok, tetapi juga menyentuh pemulihan infrastruktur.
Dari hari ke hari, relawan Tzu Chi Padang turun langsung mulai dari melakukan survei lokasi hingga membagi bantuan ke wilayah terdampak di berbagai lokasi.
Di tengah semua itu, ada satu momen yang membekas bagi Shu Tjeng. Ia melihat seorang ibu relawan bersama anaknya membersihkan toko mereka sendiri. Lumpur hampir setinggi satu meter, seluruh barang dagangan rusak dan tak bisa diselamatkan. “Dia relawan kita, tapi kita pun tidak berdaya saat itu,” ujarnya lirih.
Peristiwa itu menyadarkan banyak pihak di Medan bahwa Tzu Chi tidak hanya identik dengan sembako. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan adalah kerja besar, alat berat, akses jalan, jembatan sementara agar kehidupan bisa benar-benar pulih.
Saat itu, PDAM Kuala Simpang belum sepenuhnya berfungsi. Tzu Chi menyalurkan air bersih yang dapat digunakan untuk mandi dan juga diminum setelah dimasak. Di banyak tempat, rumah ibadah, sekolah, dan rumah warga masih dipenuhi lumpur tebal.
Ada pula inisiatif yang kemudian dikenal sebagai Doors Air Gratis. Relawan menyiapkan jet pump dan sumur bor. Setelah itu warga datang membawa sepeda motor dan becak untuk dicuci. Posko buka hingga pukul 12 malam. Dalam satu hari, hampir 250 sepeda motor dan becak dibersihkan. Posko itu sendiri membutuhkan waktu 10 hari untuk bisa digunakan, berlokasi di rumah dinas Pemkab Aceh Tamiang yang dipinjamkan untuk relawan.
Di posko tersebut, tertulis satu kalimat yang tidak pernah dilupakan Shu Tjeng, “Tolong, kami sudah kenyang makan lumpur.”
Kalimat itu menjadi saksi yang nyata tentang derita warga yang berhari-hari bertahan hidup tanpa air bersih, dengan perut yang kosong dan kelaparan.
Demi mempercepat proses distribusi bantuan dan memulihkan warga, relawan membangun dapur umum hingga pengerahan alat berat dan penyaluran air bersih, ia melihat bagaimana kepedulian sesama mampu mengubah keputusasaan menjadi harapan.
Teks: Metta Wulandari
Foto: Amir Tan (Tzu Chi Medan), Dok. Tzu Chi Aceh, Dok. Pribadi, Dok. Tzu Chi Padang